Wednesday, October 11, 2017

Tiga Tahun Kala Itu..

Tadinya kamu bukan siapa-siapa bagiku,
hanya adik kelas.
hanya sebatas mengenalmu saja.
hanya oh kamu jurusan ini.
hanya itu saja.

Kupikir aku tidak akan bertemu denganmu lagi,
Kupikir hanya sebatas mengenalmu seperti teman yang lain,
Tidak ada rasa spesial bagiku,
Tidak ada rasa lebih untukmu.

Sampai saat kita kembali dipertemukan dalam keadaan yang membuatku melihatmu, menyadari keberadaanmu.
Ditempat kerja kita lebih mengenal, dari obrolan ringan mengenai jurusan masing-masing dan kebetulan dosen yang sama.
Obrolan ringan yang kita bawa dari satu menu ke menu makanan lain, dari satu tempat duduk ke tempat duduk lain, dari candaan sampai curhatan.
dari rasa nyaman luar biasa bersamamu.

“Aku menyukaimu”, kuutarakan dengan keberanian luar biasa, kuutarakan dengan rasa menggebu luar biasa setelah diriku sendiri meyakini bahwa rasa itu akan bersambut.

“Aku juga menyukaimu”, satu jawaban dan rasanya mentari bersinar lebih semangat daripada biasanya, hatiku dipenuhi gejolak bahagia.

Hubungan ini kami sembunyikan dari banyak orang, hanya sahabat terbaik yang mengetahuinya.
Bukan karena kami tidak ingin membagikan apa yang membuat kami menjadi bahagia, namun keadaan yang tidak semestinya memaksa kami menyembunyikannya.
Kami bahagia dengan baik adanya, kami berbagi tawa dan duka.
Yah, kalian tahu bagaimana pasangan sejoli menjalin asmara.
Hatiku saja rasanya milik dia seutuhnya, sungguh suatu hal yang membuatku serasa melayang.
Bila Tuhan memberiku pilihan untuk keluar dari tempatku bekerja atau mempertahankannya, tentulah tanpa sungkan aku memilih keluar dari tempatku bekerja agar tetap bisa mempertahankan gadis yang menemani malam-malamku menghiasi mimpi-mimpiku.

Terasa bagaimana kami mantap melangkah menatap masa depan, memastikan hubungan ini baik-baik saja, bahwa segalanya akan berjalan dengan lancar dan semestinya sepertinya yang kita berdua angan-angankan. Bagaimana aku selalu memberinya semangat tidak terkira.

3 tahun dan aku merasakan bahwa hubungan ini akan kubawa ke jenjang yang lebih serius.
Bagaimana kamu menyikapi rasa? Tentunya dengan memberikan kepastian.
Maka dengan kebulatan tekad dan hati yang sungguh tulus aku ingin meminang gadis yang kucintai sepenuh hati, tak ingin aku berpisah darinya, tak ingin ku menyesal karena terlalu lama membuatnya menanti dan menunggu hal yang jelas pastinya akan kulakukan.
Ya, sayang.
Aku akan meminangmu.

“Maaf, aku menolak lamaran ini. Maaf sekali”
Entah apa rasa yang selama ini ada, entah bagaimana aku seharusnya menyikapi hal ini.
Apa yang aku jalani, apa yang aku alami, apa yang telah aku rancang bersamanya dengan begitu indah dihancurkan tanpa sisa.
Apa alasanmu?
Belum siap begitu katamu.
Setelah kita bertukar mimpi, setelah kupikir kamu adalah jawaban dari segala doaku, setelah segalanya.
Dan begini ternyata, apakah cintaku bertepuk sebelah tangan?
Apakah cintaku selama ini hanya sepihak?

Tanpa alasan yang jelas kamu menolak lamaranku dan melepasku, aku yang begitu keras menggenggam tanganmu dirasa percuma. Kamu yang giat melepaskan genggamanku, kamu yang bertekad untuk pergi dariku.
Menatap punggungmu yang menjauh dariku saja aku tidak sanggup terlebih menemuimu di kantor.
Ada rasa sakit yang menyayat begitu dalam, ada torehan luka yang seakan tidak akan pernah sembuh, ada kenangan yang enggan menghilang meski itu menyakitkan.

Bagiku 3 tahun bukan waktu yang sangat singkat, didalamnya berisi kenanganku denganmu, bagaimana tawa dan sedih kita lalui bersama. Bagaimana aku dan masalahku, kamu dan masalahmu lalu kita rundingkan bersama.
Bagaimana kita menertawakan kehidupan ini, bagaimana aku merasa mantap melangkah bersamamu, begitu yakin dengan rasamu.
Namun ternyata itu hanya imajinasiku, imajinasi yang aku karang sendiri, itu tidak senada dengan apa yang kamu dan hidupmu rencanakan.
Kucoba untuk tetap kuat baik saat menatapmu, kucoba untuk tidak mengingat apa yang membuatku sakit setengah mati.
Tahukah kamu, kamu bukan hanya pergi dengan fisikmu saja namun seluruh hatiku yang telah terkoyak tanpa sisa.
Tidak kusebut sia-sia bersamamu namun rupanya luka dalam yang kamu torehkan terasa selalu segar dalam ingatanku.

Kini setelah dua tahun berlalu, aku bahagia bisa mengikhlaskanmu dan kamu bahagia bisa mengantarkan surat undangan pernikahanmu.
Ya, kamu menikah dengan sahabatku.
Cobaan hidup mana lagi yang aku dustakan, selain mengantarkan ucapan selamat dengan ikhlas sembari menangis dalam hati.


NB :
Cerita ini didedikasikan untuk sahabat gue yang dengan tabah dan sabarnya mengiringi momen mantan kekasihnya yang tidak lama lagi akan melangsungkan pernikahannya. Semangat bro!

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi