Sunday, September 10, 2017

Menemui Keputusan

Selalu ada cerita setiap harinya.
Begitu pun dengan hari ini (02/09/2017). Lewat bukan berarti tak perduli, hanya menyiapkan hati sejenak menyambut hal-hal lainnya.

Tulisan kali ini agak mellow, karena memang didesain demikian, agar hidup gak cuman tertawa saja. Tidak seperti orang bodoh mungkin, hanya menyikapi lebih baik.

Jadi, begini.

Ditahun yang indah ini, seperti pada tahun-tahun sebelumnya gue hadir kembali ditempat dimana gue selalu mengasingkan diri. Satu dua tiga jam memejamkan mata, menanti Tuhan memanggil atau setidak-tidaknya memanggil Tuhan dengan mesra.
Gua Maria Kanada - Rangkas Bitung.
Semua orang butuh berlari, bedanya gue gak lari dengan kaki tapi dengan pikiran dan kenyataan.
Iya, biar kekinian gue lari dari kenyataan. Sejenak, menikmati riuh redam gesekan dedaunan yang membuat hati sejuk.



Dimulai dari malam itu, gue ungkapkan ke nyokap.
"Pergi. Ziarah. Ke Banten", seperti biasa meski khawatir karena anak perempuannya kelewat kayak preman, dia hanya menitip pesan untuk tidak pulang terlalu malam.

Gue dan perjalanan dimulai, kereta tidak tertahan, hanya hati gue aja yang tertahan, pada pilu dan kerinduan. Merindukan berjuang.
Kereta ke Rangkas sudah bukan KRD berubah menjadi KRL dengan jam operasional lebih fleksibel, katanya lebih cepat makanya harganya naik.
Menunggu keberangkatan 07.55 gue pilih melihat opini publik tentang tarif yang berubah.
Seperti biasa pro dan kontra lalu berakhir dengan keputusan sepihak. Hidup.

Selama perjalanan gue berdiri. Jangan dibayangkan lelah jadinya, kita tidak bisa melantai lagi karena ini bukan KRL tempo dulu yang tidak teratur. Ingat juga aturan yang muda harus mengalah pada yang tua dan anak-anak. Akhirnya dengan perjuangan sekuat tenaga dan skill 7 tahun menjajaki kereta sesak entah berangkat kuliah atau kerja, gue bisa merem melek sambil berdiri.

Sampai dua sejoli lansia naik. Ingin memberikan tempat duduk, tempat duduk gue sendiri udah ditempatin ibu hamil. Durhaka membiarkan ibu hamil berdiri lelah. Dua sejoli lansia berdiri didepan dua muda mudi yang terlihat berbadan kekar dan asik mengobrol. Gue memperhatikan sejenak, lalu menutup mata.
"tidak ibakah?"
Sekitar 10 menit memejamkan mata, kereta ngerem mendadak, masinisnya pasti bekas sopir kopaja. Bawanya gak enak.
Gue buka mata, dua sejoli lansia masih berdiri sambil bicara "tidak apa, tidak apa". Dan gue sadar semua mata kini menyoroti dua pemuda yang masih duduk dengan asik sambil ngobrol.
Sejenak melihat, satu pemuda berdiri.
"kenapa cuman satu?"
gue kembali bertanya dalam hati, ada sesuatu yang membuat gue gak menghardik lelaki satunya lagi, yang lebih kekar. Sesuatu yang disebut menunggu lalu mengerti.
"Maaf ya kek, kemarin kaki saya keseleo, akan sakit kalau berdiri lama"
dan penjelasan meluncur, si kakek merasa tidak apa-apa dia cukup kuat.
"Lalu kenapa wanita disebelahnya yang tidak berdiri?"
Sebenarnya dalam gerbong itu dengan sisi bangku berhadapan ada cukup muda mudi untuk merasa iba pada dua sejoli lansia yang sungguh mesra ini, namun tidak berikan tempat duduk.
Ya, perjalanan memang lama sekali. Memakan waktu kurang lebih 1,5-2 jam, apalagi bila tertahan.
Kaki gue aja udah sampe mati rasa berdiri tegak.
"Jangan komentar mbak, mbak kan gak tau kondisi saya".
lelaki itu berdiri sembari menghardik mbak-mbak yang mencibir karena dia tidak kunjung memberikan tempat duduk pada si kakek padahal muda dan kekar.

Begitukah kita? tidak saling mengerti atau mencoba untuk tidak mengerti?
Mencoba menghakimi padahal tidak mengerti apa-apa?
Melihat sepintas lalu merasa memahami segalanya?

Kereta tiba pukul 09.45. Baik toilet atau antrian keluar tidak terbendung. Hari ini memang libur panjang, wajar semua mau pulang dan bertatap muka dengan keluarga.
Gue menunggu sembari melihat ekspresi satu per satu orang, ada yang bersedih, ada yang lelah, ada yang tertawa bersama yang lain dan ada yang depresi. Segala ekspresi bukan main dan menyenangkan melihat ekspresi-ekspresi itu.

Gue memutuskan untuk sarapan dulu sebelum melanjutkan perjalanan, sarapan dengan kakek-kakek yang terkenal pendengarannya kurang. Duduk berhadapan kita hanya saling memandang tanpa berbicara. Si kakek memiliki banyak keriput didahinya, mungkin beban yang ditanggung berat. Katanya kalau dahi keriput berlapis-lapis begitu berat masalah yang dipikirkannya, kulitnya legam ditimpa sinar mentari terus menerus.
Sebenarnya ini adalah momen paling canggung, ketika gue dihadapkan pada seseorang dan saling memandang. Ya, gue gak suka dipandangin. Dalam detik kesepuluh gue memilih menunduk dan si kakek melihat ke arah lain.
"Kakek, mau makan apa?" pertanyaan yang berupa teriakan itu juga mengagetkan gue. si Kakek tanya "ada menu apa aja" ibu pelayannya bilang "Sayur tahu aja ya", lalu bicara ke gue kalau ini si kakek agak tuli. Selanjutnya ibunya ngomong dalam bahasa sunda dan gue sama sekali gak ngerti. Gue cuman iya dan ngangguk lalu tersenyum. Para pelanggan mie ayam disebelahnya ngeliatin gue agak aneh.
Kayaknya yang gue iyain itu harusnya dibilang enggak. Dan gue berasa panas diliatin. Lain kali mungkin gue harus bawa penerjemah bahasa sunda atau minimal bahasa sunda gue diperbaikin mengingat pelajaran bahasa sunda gue dapet A.

Usai makan gue langsung cari angkot ke arah curug (no 02). Banten berubah, tadinya dua jalur sekarang jadi satu jalur jadi perjalanan agak memakan waktu.
Angkot sepi gue agak waswas, duduk didekat pintu biar kalau diapa-apain bisa langsung loncat. Untunglah punya badan besar, ketika loncat langsung berguling saja.
Muka datar dan rasa akrab mengenal mungkin adalah modal utama gue pergi kemana-mana sendirian, tapi sesungguhnya dalam hati gue selalu mendaraskan doa baik-baik saja #rahasiaanaksholeha #backpackersolo.
Sampai di Goa Maria Kanada, rupanya sedang ada pembangunan. Gue menuju Goa Maria dulu, menyapa Bunda bahwa anak durhaka yang ngunjungin setahun sekali sudah datang. Berbicara banyak hal dan minta ijin dalam perjalanan doa potret sana sini.
Setelahnya melakukan jalan salib, sendirian.
Si bapak yang gue temuin setahun lalu juga lagi asik ngobrol dengan pendatang, melihat gue sekilas, saling tersenyum dan gue memilih untuk tidak terlibat. Obrolan si bapak dari tahun ke tahun biasanya sama. Tapi menyenangkan melihatnya masih tetap segar bugar.

"Sendirian saja doanya?"
rasanya kayak dejavu, berturut-turut kesini, sendirian dan selalu saja ada yang menanyakan hal itu. Untunglah bapak satpam yang kali ini bertanya tidak menanyakan sekalian "kapan nikah". Puji Tuhan terselamatkanlah para joms.

Selama perjalanan jalan salib, sendiri, ditemani dengan semilir angin sesekali dan bunyi gemerisik dedaunan membuat gue mengenang untuk apa gue disini.
Satu tahun yang lalu gue kesini dengan banyak keraguan dan memohon bantuan menentukan keputusan.
Satu tahun yang lalu gue kesini dengan banyak hal-hal gamang.
Benar-benar seperti jatuh pada waktu itu.
Di tahun ini, keputusan telah dibuat. Ikrar terpancang. Janji menyertai.
Dan gue kembali untuk berterima kasih dan menuntut lanjutannya.
Katanya manusia harus banyak berdoa dan meminta, meski Tuhan tau apa yang kita pinta, Tuhan mau juga dengar dari bibir khilaf kita, kita mau apa.
Katanya manusia harus banyak-banyak panjatkan syukur atas apa yang diperoleh, meski Tuhan tau syukur itu untuk hal-hal yang telah Dia berikan.
Katanya sih begitu dan melalui katanya gue melakukannya.

Usai jalan salib gue lanjutkan dengan doa rosario dan curhat semata.
Mungkin ketika lu ngerasa sulit dan susah, lu bisa ketempat tenang ini.
Bareng angin ngobrolnya, biar angin bawa obrolan ke Tuhan langsung.

Ketika berdoa disini gue juga liat dua sejoli lansia, rupa-rupanya dua sejoli datang mendaraskan puji-pujian kepada Tuhan.
Satu tahun lalu gue dateng dengan dua sejoli muda mudi membawakan doa-doa dengan si wanita terisak menangis. 
Tahun ini gue dateng berpapasan dengan dua sejoli lansia mendaraskan puji-pujian.
Jadi ya mereka berdua gue sendiri, gitu aja sih.

Yang jelas selama perjalanan gue gak merasa sendiri, banyak orang menemani meskipun tidak mengenal. Baik menyapa dari bibir atau menyapa dalam senyum hangat.
Dan ada juga lelaki kesini sendirian, kita saling pandang lalu lempar senyum.
Ya, mungkin galau kita sama bung namun gue harus lebih dulu mengakhiri kegalauan itu dengan pulang kerumah.

Maka perjalanan ini pun berakhir. Gue pulang dalam keadaan damai bukan ke rumah Bapa tapi kerumah ibu yang minta gue pulang tepat waktu.
Pulang pun gue gak mampir ke circle K lagi, yang biasanya kalau gue transit di Manggarai gue bakal datengin Circle K, karena biasanya disana ada pramuniaga ganteng yang punya shift 2.
Ya gitu sih cuci matanya sekalian.

Menemui keputusan dan mulai menjalin kembali. Selamat hari damai kawan!



No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi