Monday, August 21, 2017

Suntikan kegigihan

Hari ini ada acara imunisasi disekolah tempat gue menggali butir-butir berlian. Kebetulan gue yang saat itu tugas berjaga ngawasin mbak mbak perawat ataupun dokter mengganti setiap jarum suntik yang dipakai.

Mulai dari dipeluk erat, digenggam dengan kekuatan dahsyat, baju basah dengan tangisan, sampai akhirnya pada satu titik dimana salah satu murid bersikeras dan sangat keras tidak mau disuntik.

Sebelumnya ada dua murid yang memang tidak berkenan disuntik, menangis sejadinya dan ditenangkan dengan sangat sabar oleh kepala sekolah. Apa mau dikata, ijin dari orang tua agar anaknya disuntik telah dikantongi terlebih ini adalah untuk kesehatan. Maka memang tidak ada salahnya untuk terus berusaha membujuk, dua murid itu meski berteriak akhirnya berhasil disuntik.


Kelas per kelas dipanggil, segerombolan anak berbaris dengan berisik dan dengan semangat mengatakan takut, satu per satu maju, berteriak, menangis rasanya malah jadi hiburan dikala tangan kesakitan dipegang terlalu erat oleh anak-anak yang ketakutan.

Dan satu murid dari giliran awal disuntik tetap tidak bergeming. Dia tetap duduk dipojokan dan bersikeras bahwa disuntik itu sakit.
Jelaslah dia hanya berasumsi tanpa menerima penjelasan sakitnya seperti apa.

Anak ini mengingatkan gue pada situasi yang sering kebanyakan orang alami gak terkecuali gue. Kita seringkali merasakan ketakutan pada sesuatu yang bahkan belum kita jalani sepenuhnya, terlalu banyak hal-hal yang terlihat remeh temeh menjadi begitu penting hingga fokus menjadi hilang kendali dan goyang oleh arah yang tak tentu.

Katakanlah Tuhan adalah pengharapan namun rupa-rupanya kecemasan tetaplah menjadi primadona bagi kebanyakan orang tidak terkecuali gue.
Saat sudah ingin maju, seseorang yang lain akan dengan mudah maju dan bertanya untuk meyakinkan, kadang kita melemah, berfikir ulang dan kembali mundur.

Ketika semua kelas sudah mendapat giliran anak yang tadi pun diminta bagaimana caranya agar mau disuntik.
Dibujuk rayu begitu hebatnya, dipegang erat oleh banyak orang, namun ya jelaslah badannya tegang, ketakutan menjalar penuh di badannya, keringat terus mengucur diruangan yang sangat dingin dan dokter tidak bisa menyuntiknya.

"Kamu mau hari ini atau besok? Tidak bisa berlari begitu saja, akan ada hari esok bagaimanapun kamu menghindar"
"Kalau kamu katakan takut sekarang, kamu akan selalu takut"

Dua kata bujukan untuk si anak yang membuat gue terhenyak, entah bagaimana gue sepenuhnya sadar namun bingung harus berbuat apa. Gue berada di titik ambang dimana setiap kata yang keluar meski gue bilang santai dan masa bodo, gue akan memikirkannya, membawanya dalam butir rosario dan berusaha untuk damai bersama Tuhan.

Kita tidak akan pernah menghindar, sekali kita menghindar Tuhan akan memberikannya kembali. Ini seperti permainan boomerang, dimana ketika kita ngelempar, boomerang akan kembali, kita tepis dia akan kembali lagi, boomerang akan terus kembali sampai akhirnya kita tangkep dan dekap.
Begitulah hematnya menyelesaikan masalah, tidak bisa dilempar karena pada akhirnya akan kembali ke awal dan asal.

Tuhan pun tidak akan membiarkan kita melewatkan satu perkara karena kita belum menemukan solusi yang tepat atas masalah tersebut.
Jangan berhenti berjuang itu mungkin yang tidak akan pernah gue lakukan karena gue belum mulai perjuangan ini.

Apa susahnya sih yang gue mulai sekarang?
Karena belum ada kekuatan itu atau rasa takut yang begitu besarnya, hampir menggerogoti impian demi impian.

Gue memang hidup untuk hari ini, semua melihat betapa gue menikmati kehidupan, gue akui.
Kehilangan yang seringnya gue alami selalu menumbuhkan semangat dalam hati, bahwa bagaimanapun juga gue akan hidup untuk hari ini, sesulit apapun itu, sebagaimana impian gue yang belum bisa gue gapai dan segigih apa orang-orang akan mematahkan semangat itu. Gue harus bahagia untuk diri gue sendiri hari ini.

Janji adalah bagaimana membuat diri menjadi pribadi yang menyenangkan, bukan buat orang lain namun untuk diri sendiri. Bagaimana kesenangan itu akan berbuah kebaikan bagi diri sendiri.

Gue emang gak sempurna dan untuk apa sempurna? Cukup dengan kebahagiaan yang gue ciptakan dalam imaji gue sendiri.
Egoisnya sih begitu.


Anak ini dengan kebimbangan yang panjang, dengan keraguan yang mendalam, pada akhirnya waktu yang memutuskan. Dia mengangguk lemah, disuntik dan selesai dia cuman bilang, "Oh begini". Dengan muka datarnya dan tampang cuman gini aja.

Mengingat bagaimana kerasnya dia menolak, mengingat bagaimana orang disekitarnya mendukung dengan sepenuh hati setengah putus asa, rasanya menjadi puji syukur tak terkira ketika si anak memutuskan untuk mau disuntik.

Kita pun mungkin ketika sudah menjalani akan seperti anak itu, mengatakan oh dengan sepele dan menertawakan ketakutan tempo dulu yang dirasa sudah tidak masuk akal.

Gue pun mulai berfikir inilah pentingnya proses pertambahan umur, kita sering menyadari hal-hal yang bahkan harus kita sadari melalui orang lain.

-aiu

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi