Monday, August 7, 2017

Meremehkan kemampuan diri melawan kehidupan.

Dalam kehidupan ini kadang dikejutkan oleh hal-hal yang kita sendiri gak ngerti kenapa bisa kita terkejut.
Bahkan kita seringkali bertanya mengapa itu terjadi.
Hal baik seringkali membuat kita kaget apalagi hal buruk.

Sama seperti begini, gue dan kesukaan gue mencoba makan di pinggir jalan.
Pertimbangan gue memilih makan di pinggir jalan adalah apakah tempat itu cukup bersih, apakah sanitasinya cukup terjaga. Apakah akan baik-baik saja, biasanya kalau sudah memastikan hal itu dengan melihat sekilas gue akan langsung memutuskan untuk makan ditempat itu.


Jika tempat makan itu menjadi pertama kalinya bagi gue untuk dikunjungi, maka sensasi terkejut yang gue rasakan adalah berlipat.
Entah harganya..
Entah rasanya..
Entah pelayanannya..
Semua memiliki nilai plus atau minus.
Ibarat kata nih ya,
"Tingkat kepuasan konsumen dengan harga mahal, rasanya enak dan pelayanan cukup di pedagang kaki lima sekitar Jakarta dan Bekasi"
maka gue akan santai bilang pantes harganya..

Nah kalau kebalikannya
"Tingkat kepuasan konsumen dengan harga mahal, rasanya tidak enak dan pelayanan cukup di pedagang kaki lima sekitar Jakarta dan Bekasi"
maka gue biasanya akan bilang sinting mahal banget..

Contoh yang lain
"Tingkat kepuasan konsumen dengan harga murah, rasa enak dan pelayanan cukup di pedagang kaki lima sekitar Jakarta Bekasi"
gue dengan bangga akan promote kemana-mana

Satu lagi contohnya
"Tingkat kepuasan konsumen dengan harga murah, rasa murahan dan pelayanan cukup di pedagang kaki lima sekitar Jakarta Bekasi"
maka gue dengan sarkasme bakal bilang harga murah makanan murahan

((Bukankah lama-lama judul diatas macem judul skripsi yang gak kelar-kelar?))

Yang jelas kayak kita mencoba hal-hal baru pada jualan pedagang kaki lima, kita makin menyadari bahwa hidup kita pun bisa dianalogikan dengan hal-hal diatas. Merasa gak nyambung? sambungin aja jek!

Ketika kita memiliki pilihan dalam hidup kita gak serta merta menarik kesimpulan sebelah mata. Bila itu menyangkut hal yang vital pasti kita akan berfikir beberapa kali lipat atau menggunakan otak kita secara maksimal. Bahkan seringkali kita meminta pendapat orang lain untuk menentukan apakah keputusan kita sudah seratus persen benar sekali atau tidak.

Dalam pertimbangan itu kita seringkali dihadapkan apakah benar begini adanya, kalau salah bagaimana?
Akhirnya jika kita kalah dengan mental itu kita akan mengatakan bahwa yang salah adalah ini atau itu, dan keadaan jadi bermasalah padahal jika lu gak ngejalanin hal itu juga lu gak tau kalau itu salah.

Ikhlas, mengenal situasi juga hati sendiri dan bertanggung jawab secara penuh atas pilihan sendiri adalah hal paling mendasar yang harus direlakan di awal sebelum mengambil keputusan akan pilihan yang ada.

Dulu gue pernah dapet tawaran beasiswa dari Kampus untuk S2, tapi jurusannya bukan jurusan yang pengen gue ambil, akhirnya gue dengan kebulatan tekad mengundurkan diri. Orang bilang sayang karena gak semua orang bisa dapet, kalau gue sih gak sayang soalnya belum kenalan. Haha..
Pernah ada rasa menyesal kenapa saat itu gak mengambil beasiswa itu, tapi gak gue biarkan rasa menyesal itu ada karena tanpa pilihan yang sekarang gue gak bakal tau kalau gue itu disayang banyak orang (I love you fans!), kalau kehidupan itu kadang keras banget, kalau rasa-rasa yang ada sekarang tuh begini adanya.

Setelah menjalani pilihan demi pilihan kita pun menyadari bahwa pilihan tidak pernah berhenti disatu titik, pilihan itu bahkan memiliki logika tersendiri dimana kita kadang harus mengikuti aturan main yang telah ditetapkan sebisa apapun kita menghindar. Pernah banyak sekali dalam kehidupan ini, gue gak memilih satu pilihan yang emang udah hati gue pilih. Ketika gue berkeliling dengan pilihan lain akhirnya gue kembali ke pilihan awal.
Bingung.. Gugup.. karena gue yakin itu adalah pilihan yang gak gue pilih, rupa-rupanya pilihan pun punya semangat juang untuk dipilih atau mungkin Tuhan punya cara tersendiri menunjukkan jalan dengan lenteranya bukan dengan lampu petromak yang bisa habis bahan bakar.

Kejutan-kejutan seperti harga rasa dan pelayanan pun menjadi andil tersendiri bagi pilihan dalam kehidupan. Gue kadang mendongak melihat langit, dimana katanya Tuhan berada dan bernaung.
Gue tersenyum sambil bilang

"Oalah ya Tuhan, andai gue gak pilih ini gimana coba, pasti gak bakal tau rasanya kalau begini"

Selalu ada hal-hal yang bisa kita syukuri atas apapun yang terjadi, baik buruk, senang atau tidak begitulah hidup.
Lu bisa aja ketawa sampe nangis hari ini tapi satu detik kemudian lu mungkin akan dipaksa nangis sambil ketawa. Meremehkan kemampuan diri melawan kehidupan.

Paksalah diri berfikir positif, karena melawan diri lebih sulit dari melawan kehidupan dan pilihan yang tengah dijalani.
Tapi..
Jangan paksakan diri dengan tidak menggalau, menggalaulah sesekali
Jangan paksakan diri untuk tidak mengeluh, mengeluhlah sesekali
Jangan paksakan diri untuk tersenyum, bersedihlah sesekali
Jangan selalu terlihat kuat, lemahlah sesekali.
Karena lu akan tau betapa berharganya rasa itu jika sesekali.

Oke akhir kata,
Jangan lupa tersenyum karena lu manis kalau tersenyum
Jangan lupa minum air putih.

-bye

1 comment:

  1. Again something that is in a different language and I don't know what exactly means. I will be really thankful to you if you update or translate the content. Thanks

    ReplyDelete

  • Etika Profesi Akuntansi