Saturday, July 15, 2017

Mini Fiksi : "Tersenyumlah sayang, meski sembari berdarah"

Aku memandangnya dari jauh,
Jauh sekali,
Kalau aku bilang wajahnya terlihat jelas,
Maka jelaslah aku telah berbohong.
Aku mengatakannya semata-mata untuk menyenangkan diri.

Aku mencintainya sedari dia tidak mencintaiku,
Dulu bagiku cukup hanya memandangnya,
Pandang saja sepuas hati,
Sampai lelah menghampiri dan aku berhenti,
Lalu melakukannya keesokannya lagi.

Kali ini aku memandangnya dengan semangat tak terkira,
Hari ini ulang tahunnya,
Saat ini aku akan memandangnya sambil mendoakannya,
Cukup itu,
Lalu berbisik selamat ulang tahun dari hatiku yang terdalam.
Tapi aku salah,
Aku melihatnya bersama gadis lain,
Menjemukkan,
Namun aku tidak patah semangat,
Aku telah melihatnya bersama dengan satu dua tiga wanita lain,
Aku memang cemburu,
Kenapa aku tidak bisa berada disampingnya,
Tapi aku tidak bodoh seperti mereka.

Mereka hanya sesaat,
Lalu hilang bagai embun pagi,
Datang lagi lalu hilang,
Kalau aku dengan abadi akan disini,
Memang aku tidak bisa menggandengnya,
Berpeluk mesra,
Berucap sayang,
Tapi aku puas.

Aku tidak akan pernah kehilangannya,
Selamanya.

Sampai aku sadar,
Ketika hari pernikahan itu tiba,
Aku baru mengerti bayangan yang begitu kucintai,
Akan hilang,
Dia akan pergi,
Pergi ketempat yang tidak bisa kutuju.

Bagaimana ini,
Aku tidak akan pernah melihatnya lagi,
Aku khawatir,
Aku cemas,
Aku merana,
Aku kasihan pada diriku sendiri.

Aku tidak akan bisa lagi memandangnya,
Tidak bisa lagi mengucapkan selamat ulang tahun,
Tidak akan bisa mencemooh,
Tidak bisa membuat rindu hatiku hilang.

Memikirkannya membuatku sedih tiada tara,
Aku gulana,
Aku benci perasaan ini.

Sayang,
Aku tidak mau sendiri,
Kali ini aku tidak bisa puas melihatmu saja,
Melihatmu pergi dan tak kembali,
Melihatmu tidak tergapai lagi olehku.

Maaf,
Kali ini kamu harus pergi bersamaku.
Selamanya ketempat paling abadi,
Dimana hanya ada kita berdua.

Aku hanya ingin kamu bersamaku,
Tidak perduli meski kamu tidak mencintaiku.

Kini aku bahagia menggandengnya, dengan senyum darah menghias wajahku.


-FIN
Rasa, kagum, maniak. Semua akan berkembang, berhati-hatilah.

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi