Saturday, July 8, 2017

Mini Fiksi : "Selembar Nilai"

Perasaan takut itu timbul,
Menghantuiku,
Semua jadi terasa tidak masuk akal,
Aku sudah berusaha keras,
Aku sudah melakukan yang terbaik.

Selembar kertas itu mengkhianatiku,
Orang-orang disekitarku menjadi palsu,
Aku mencoba berlari,
Terus saja berlari,
Berharap ujung dunia adalah jurang,
Hingga aku terjun kedalamnya,
Dan tidak akan pernah terlihat lagi.

Siang itu,
Aku, kedua orang tuaku,
Diundang ke sekolah.
Ada perasaan cemas terselip,
Aku was-was apa yang terjadi.
Segala kekhawatiranku terlihat begitu melihat kedua orang tuaku.
Melihat parasnya.
Kepalaku ditempeleng.

Aku tidak lulus.

Ibu dan ayah menunjukkan wajah sarat kekecewaan.
Aku menunjukkan wajah tidak percaya.
Pihak sekolah memberikan pengertian, bahwa akan ada ujian paket
Ayah berteriak,
Ibu menangis,
Aku menahan nafas.

Anak bodoh,
Sudah mahal-mahal disekolahkan,
Kami kecewa.

Aku telah berusaha,
Aku tidak mencontek,
Aku yakin sangat yakin,
Aku tidak nakal,
Aku rajin,
Aku anak yang patuh.

Semua jadi melihatku dengan tatapan yang berbeda,
Aku diskreditkan,
Aku didiskriminasi,
Duniaku tiba-tiba jungkir balik,
Orang-orang disekitarku melihatku dengan cara pandang yang berbeda.

Tidak sedikit sahabat yang menyemangati,
Tapi lebih banyak yang mencibir.
Dirumah aku merasa terkucilkan.
Aku tidak aman,
Aku terpojok.

Aku telah berusaha,
Usahaku tidak ada harganya.
Aku mulai mengurung diri dikamar.
Aku tidak mau makan.
Orang tuaku bersikap seolah tidak peduli.
Sebelumnya mereka sangat perduli bila aku tidak makan.
Aku diminta merefleksikan sikapku selama ini.

Ayah.. Ibu..
Usahaku begitu keras,
Tidak bisakah sedikit menghargainya?
Aku mulai menjauhkan diri,
Udara intimidasi berputar disekitarku,
Disaat semua orang meneriakkan kelulusannya,
Aku hanya bisa menatap kosong.

Aku merasa ditekan,
Aku tertekan.
Pembasmi serangga mungkin lebih cocok untuk membasmi orang rendah sepertiku.
Di detik ini aku paham.
Bahwa derajatku akan usahaku layaknya kecoak yang perlu diinjak.
Sudahlah..

-FIN
Dari anak terintimidasi hanya karena nilai. Nilai hanyalah nilai, hargai usaha mereka.
Tidak usah takut cercaan orang, lakukan semua usaha, berdoa dan tetap tawakal.

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi