Saturday, July 1, 2017

Mini Fiksi : "Demi Ayahku"

Aku tidak apa,
Meski ayah dan ibuku berantem,
Aku tidak apa,
Aku hanya akan berpura-pura bermain dan tidak mendengar apa-apa.

Sungguh, aku tidak apa.
Aku hanya akan merasa sedih bila Ibu pergi tak kunjung kembali.
Aku merasa kehilangan bila kedua orang tuaku tidak di rumah yang sama.

Aku pernah bertanya pada ayah,
Kemana ibuku.
Ayah langsung memelukku,
Mengatakan ibu akan kembali pada waktunya
Aku hanya harus bersabar.

Aku tersenyum,
Kutepuk pundak ayah,
Aku katakan,
Demi ayah, aku akan menunggu ibu sampai kapanpun.
Hari berlalu ibu tak kunjung kembali,
Sampai senja berganti fajar,
Dihari ketiga ibu akhirnya kembali.

Aku mendengar teriakan,
Teriakan lagi
Dan lagi
Setelah mereda,
aku keluar kamar,
Aku pura-pura mengucek mata,
Kulihat ibuku disana, menangis.
Aku mendekati ibuku, memeluknya.
Aku merindukannya,
Apa ibu merindukanku?

Ada lelaki lain diluar rumah kami,
Bapak-bapak tua,
Badannya lebih kekar daripada ayahku,
Dengan mobil mewah berada dibelakangnya.
Aku bertanya,
Siapa dia,
Ibuku menjawab,
Bukan siapa-siapa.
Ayah meninju tembok rumah,
padahal di tembok sudah ada garis retak memanjang.

Ibu tidak terluka,
Tapi ayah yang terluka,
Ibu terlihat kurus,
Tapi ayah yang lebih kurus,
Ibu terlihat pucat,
Tapi ayah yang lebih pucat.

Setiap malam ayah konsisten menangis,
Berdoa kembalinya ibu ditengah kami,
Setiap malam ayah pajang wajah ibu di sebelahnya,
Baik untuk makan bersama,
Baik untuk tertawa bersama,
Baik untuk menonton bersama,
Rasa cinta ayah kurasakan setiap harinya.
Bagaimana dia memelukku,
Bagaimana dia mengecupku,
Bagaimana dia berkata,
Betapa dia sayang padaku.
Aku bersyukur tidak bersama ibu tapi ayah.

Sejak bapak-bapak itu datang,
Ibu tidak terlihat lagi,
Ayah terlihat lebih gelisah,
Terlihat lebih stress,
Aku coba menghibur,
Ayah tertawa.
Dan ayah sudah bisa menyembunyikan kegelisahannya lebih rapi.
Ayah sudah bisa kuat dan terus menguatiku untuk tetap mencintai ibu.

Sampai ketika aku pulang bermain,
Kulihat ayah tergantung diatap rumah.
Kugoyangkan kaki ayah,
Badannya hanya berayun saja.
Aku panggil ayah.. ayah..
Dia diam,
Wajahnya membiru.

Dan aku tahu,
Ayah sudah pergi.
 
-FIN
Setiap orang tua harus sadar bila punya anak,
Bukan sadar akan kehadiran mereka,
Tapi turut sadar bagaimana harus membesarkan,
Ingatlah bagaimana mencintai.

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi