Saturday, April 8, 2017

Surat Untukmu Wanita Penginspirasi

Waktu pertama kali melihatnya kupikir wanita gila satu ini seperti kebanyakan wanita lain, gila korea, gila belanja online dan update banget.
Katakanlah begini, wanita ini paling bisa diandalkan kalau urusan belanja online dan informasi terbaru.

Kebetulan kami adalah partner kerja, dia bagian ekstrakurikuler, aku bagian keuangannya.
Jadi, hampir setiap bulan dia menyetorkan absensi dan hitungan honor untuk para pelatih.
Disinilah kami terkoneksi, dari yang tertawa bersama lalu sedih bareng karena hitungan honor ternyata kurang, kami pun diomeli.
Rasa-rasanya pengalaman pahit pun menjadi indah bila mengenangnya sekarang ini.
Iya, setelah beberapa hari aku baru sanggup menulis ini semua, rasanya tidak tahan juga. Rasanya ingin memberitahu semua orang apa yang aku pikirkan tentang Dia, wanita tangguh satu itu.

Ceritanya bermula dari siang itu ketika Aku bilang ada yang berbeda dengan wajahnya, lehernya agak membengkak. Ternyata hal senada juga diungkapkan semua orang dan membuatnya memberanikan diri ke Puskesmas. Beberapa hari terlihat membaik namun tidak selanjutnya, malah semakin parah. Terdapat bercak merah.
Semua pun memaksa agar Dia diperiksa secara serius dirumah sakit.
Dia mengiyakan dan memeriksa.
Kanker..



Mungkin saat itu dunianya goyah, dalam umur yang produktif dan gaya hidup yang sehat Dia malah terkena hal yang sangat tidak diduga itu.
Mungkin saat itu sempat terpikir olehnya untuk memaki Tuhan, menanyakan kenapa dia bisa seperti itu, kenapa dunia sangat tidak adil padanya.
Mungkin saat itu Dia merasakan depresi, satu persatu hal-hal yang disukainya pergi dan tak bisa dirasakannya lagi.

Namun mungkin itu hanya ada didalam kepalaku, nyatanya yang terlihat dari mataku tawanya yang garing masih terpampang manis diwajahnya, nyatnya meskipun kesakitan dia memperlihatkan tekad dia kuat dan sanggup.
Hari itu ketika aku berkunjung kerumah sakit dimana Dia pertama kalinya masuk rumah sakit, sambil tersenyum dia bilang dia lagi nonton film India yang ditunggu-tunggu, kami tertawa karena sempatnya dia memikirkan film India. Tapi katanya,
"Jangan, ini justru lagi seru-serunya"
Untung di kamarnya ada tivi, begitu pikirku.

Aku kurang menyukai rumah sakit memang, bukan karena apa ini mengingatkanku akan ayahku, ketika dia ngedrop dan sebulan aku harus keluar masuk rumah sakit, sejak saat itu tekadku untuk tidak tidur dikasur rumah sakit.
Hari semakin berlalu,
Bulan terus menampakkan pantulan sinarnya.
Bagiku keadaannya terlihat naik turun, aku baru mengenalnya setengah tahun memang, namun karena waktu yang kami habiskan bersama setiap beberapa hari dalam satu bulan menjadikan kami sedikit banyak ngobrol.

"Aku pasti sembuh dan bisa mengajar lagi" ucapnya padaku kala itu,
Hari dimana aku berkunjung ke kost annya, dia terlihat sedang tiduran. Badannya hanya tulang berbalut kulit kini, dia kehilangan banyak berat badannya, rambutnya rontok satu demi satu, kulitnya menghitam karena radiasi kemotrapi yang dia hadapi.
Aku terenyuh, namun ingat untuk tidak menangis, karena dia lebih butuh support daripada rasa kasihan.
Dia kini mengoleksi beberapa topi dan wig, rasanya modisnya tak kunjung hilang. :)

Beberapa kali dia berkunjung ke sekolah untuk menghilangkan rasa penat dirumah dan juga mengisi kembali semangat sembuhnya.
"Aku sudah semakin baik dan siap untuk tahun ajaran baru" ucapnya.
Rasanya baru kemarin dia mengatakan hal itu, hari selanjutnya malah berbalik menghadang.

12.00wib; 24 Maret 2017
Dia akhirnya dipanggil dalam kuasa sang khalik. Dan dari tempat-tempat dimana kami pikir dia akan meninggal, dia memilih rumahnya sendiri.
Sebelumnya dia berpamitan mau pulang ke kampung karena ayahnya sakit.
Dia pamit pada ibu kost, tetangga kanan kiri, pada sahabat-sahabat satu kostan,
"Aku akan kembali hari senin untuk kemo terakhir" janjinya untuk kembali
namun dia tidak pernah kembali.

Dia memilih rumahnya, tempat dia dibesarkan, dia memilih untuk menggenggam tangan sang bunda dan ayah untuk terakhir kali dalam hidupnya. Dia melepas rasa ikhlas luar biasa.
Rumahnya yang hangat, yang membentuk dirinya sejauh ini.
Rasa bangga luar biasa dari orang tua untuknya,
Rasa sayang teramat dalam dari orang tua untuknya, dari saudara-saudaranya
Begitu Tuhan mengerti hingga membuatnya berada ditempat yang tepat untuk meninggalkan dunia.

Tidak pernah ada yang tau ada apa didepan sana, apa yang terjadi setelah yang kita lakukan.
Hari ini kita berjanji akan kembali besok,
Hari ini kita berjanji bahwa besok kita akan tertawa kembali,
Hari ini kita berjanji kembali untuk melempar candaan,
Namun ternyata esok kita sudah harus ucapkan kata pisah.

Aku memang menangisi kepergian Dia, wanita tangguh nan gagah perkasa terhadap penyakitnya. Aku tidak yakin akan sekuat itu.
Aku juga bangga mengenal Dia, sangat bangga.
Aku bersyukur Tuhan mengirimku kesini untuk bertemu dengannya.
Aku bersyukur Tuhan memintaku belajar darinya bukan dari yang lain.

Ya, teman..
Mungkin aku bukan sahabat, kita hanya saling kenal dan tegur sapa. Namun kuatmu tekadmu dan semangatmu menginspirasiku sampai ke lubuk hati terdalam. Karena engkau begitu berarti.
Berarti bahkan oleh Tuhan sekalipun.
Selamat jalan, tidak usah menoleh, kami mengikhlaskanmu.
Aku senang bahwa kamu bangga karena tidak menyerah pada penyakit itu.
Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya yaa..

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi