Wednesday, April 12, 2017

Setan and The Power Of Tepok

Pasti kalian bertanya-tanya apakah itu TEPOK, karena disandingkan dengan penggunaan bahasa inggris, ditambah ini bukanlah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Tepok dalam bahasa Bekasi dan Tepuk dalam bahasa Indonesia sejatinya, menurut KBBI adalah :
    “3. Tamparan tidak keras dari belakang dan dari samping”

Jadi, TEPOK adalah penggunaan tangan untuk menampar pundak/bahu/kepala dari belakang atau dari samping, karna kalau depan bukan menepuk tapi mengelus *mau dong dielus*.

Pertama akan gue jelaskan dulu hikayat dari pengambilan judul yang agak misterius ini, awalnya dari perbincangan di grup WhatsApp, yang entah terdampar dipulau mana pada akhirnya salah satu anggota menceritakan bagaimana kejadian mistis ini hinggap.

“Aku emang udah capek banget waktu itu, tapi aku paksa soalnya penutupan kemping. Ini juga aku diceritain sama temen aku, jadi pas udah capek-capeknya tiba-tiba pundak terasa berat banget, aku udah gak tau lagi tuh ada apa. Nah katanya aku jalan ke barisan belakang. Pas jalan gitu aku dihadang sama kakak Pembina, dia bilang “Mau kemana?” terus aku ketawa gitu ditanyain, “mau kemana ya, hehe..”, “mau bawa murid saya kemana?” Tanya kakak pembinanya, nah kakak pembinannya ini emang bisa ‘ngeliat’, “kerumah saya”, waktu ngomong begitu aku sambil nunjuk kali yang ada dibelakang, nah aku langsung ngeloyor pergi, “istigfar de istigfar.. sadar de”, kakak Pembina ngomong begitu sambil nepok pundak aku, dan sisanya aku denger kakak Pembina bacain surat buat aku terus aku pingsan deh 2 hari”

Jadi, karena menepuk akhirnya sadar, bagaimana gue gak bilang bahwa ada kekuatan dalam tepokan itu? Apakah itu tepokan mistis juga?

Semudah itukah setan menyerah pada sebuah tepokan?
Apakah setan adalah tipe sensitif, ditepok dikit baper selangit?
Atau setan adalah orang yang gak suka digangguin?



Kalau setan baperan apa mungkin dia lagi PMS? Entahlah, yang jelas setan dari dulu sampai sekarang tidak berubah.
Terimakasih setan.. #loh

Sebelum kita memaknai lebih jauh relasi setan dan tepokan, maka ijinkan gue menjelaskan dulu konsep dari kesurupan, konsep yang udah ada sejak jaman nenek moyang masih pendaki gunung. Mulai dari sengaja kesurupan (trance) sampai kesurupan beneran, mulai dari tulang belakang yang longgar sampai akhirnya malah jadi pintu keluar masuk setan.

Nah, kesurupan dalam konteksnya adalah hilangnya kesadaran pribadi dan digantikan dengan pribadi yang lain. Bukan kepribadian ganda, tapi pribadi diluar jasmani dan rohani sebagai pemilik.

Yang menyebabkan hal-hal ini pun ada banyak, salah tiganya adalah :
1.    Secara fisik sudah sangat lelah namun tetap dipaksa, hingga pikiran kosong (Pikiran kosong bukan berarti dia tidak berpikir sama sekali, dia hanya memikirkan hal yang membuat melayang-layang dan tidak jelas). Nah dari pikiran kosong ini jadi melemah dan menerima sugesti (bisikan) dari luar tubuh hingga sulit membedakan apakah itu nyata atau imajinasi
2.    Kendali/kontrol diri lemah, seperti mudah terpengaruh lingkungan sekitar, menganggap dirinya lemah, tidak punya kontrol, hidup dalam kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan menyebabkan potensi untuk kesurupan
3.    Faktor lingkungan, secara langsung lingkungan dapat memancing segala perilaku yang sebenarnya tidak usah terjadi. Seperti lingkungan yang agak mistis lalu kehilangan kontrol diri hingga dihinggapi rasa yang berlebihan dan tergantinya pribadi.

Menurut gue sih yang paling menarik adalah kontrol diri, jadi gue pikir orang yang gampang kesurupan (kayak tetangga sebelah rumah sebelahnya dan sebelahnya lagi yang emang gampang banget kesurupan) berarti tidak bisa membuat dirinya sendiri dalam kesadaran penuh dan alam bawah sadarnya masih terlalu gampang untuk dipengaruhi.
Adalagi karena memang pribadi ini adalah media untuk roh masuk, sebut saja jatilan, pernah suatu ketika gue menonton jatilan di kampung gue yang pelosok dan susah sinyal itu ada penampilan jatilan. Disitu pemeran jatilan sengaja dirasuki agar lebih menghayati, agak menyeramkan dan mistis sih, tapi alhasil warga sekampung senang dan berduyun-duyun menonton, dengan alasan kelestarian budaya dan adat kita sebenarnya memelihara banyak hal gaib…. Dan gue percaya bahwa itu emang kudu dipelihara

Lalu bagaimana dengan tepokan? Kenapa juga bisa langsung sadar?
Sebenarnya untuk tepokan sendiri punya makna sendiri.
Ketika kita menepuk lalu bertanya,
“Rey, lu kenapa?”,”Nada, lu gak papa?”
Penyebutan nama aslinya akan menggerakkan alam bawah sadarnya bahwa ada persepsi yang salah sedang berjalan tanpa ijinnya.

Sepanjang kehidupan gue melihat pengusiran setan, mau urut kaki, urut jempol sampe disembur pake aer, gue menggarisbawahi satu hal. Para pengusir setan ini mencoba masuk lewat bawah sadar orang yang kesurupan. Mencoba membangunkan sang pemilik (pada akhirnya diri sendiri yang sanggup mengalahkan).

Ah, gue pernah dengar cerita kesurupan hanya karena dia mengambil yang bukan miliknya tanpa permisi lagi. Akhir cerita ibunya nyari-nyari barang itu mengembalikannya dan anaknya kembali seperti semula.
Bagaimana dengan cerita seperti ini?
Apakah mungkin kalau pribadi yang bersangkutan memiliki kontrol diri yang kuat hal tersebut tidak akan terjadi meskipun dia mengambil barang yang bukan miliknya, bukan milik setan tapi milik Alam?

Yang jelas gue gak pernah ngeliat orang logis yang kesurupan, yang stress atau depresi mah sering. Jadi apakah ini pusaran dari kontrol diri?

Nah, kekuatan dari tepok menepok ini juga bukan cuman berlaku untuk kesurupan tapi juga hipnotis. Menurut gue sih hipnotis dan kesurupan ini beda tipis, sama-sama hilang kendali atas diri sendiri. Penyembuhan umumnya pun ditepok, kalo udah agak akut gampar aja dari belakang, haha..

Kuncinya adalah tetap waspada dan mulai melakukan kontrol diri, jangan bertindak sembarangan, karena gue sendiri yakin sama dunia kedua.. fufufu..

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi