Friday, March 10, 2017

Perjalanan Sebelas Ribu Rupiah




“Aku mencari..”
“Aku Berjalan..”
“Aku Melangkah..”

Ini sepenggal lagu dari Monita, kalau gak tau coba searching, karena kalau gue ngejabarin takut pamor google kalah..

Jadi siang ini gue berjalan secara random, ngepost di Instagram secara random, ikutin kemana kaki dan hati ini mau melangkah.
Awalnya gue mau menuhin janji sama seorang teman, gue pernah janji sama dia untuk ngajak ke Kota Tua, tapi emang bukan jodoh dia gak bisa akhirnya gue melangkah kemana kaki mengarah.

Beranjak dari kantor, berbekal uang tunai Rp. 11.000, gue sempet mikir gimana caranya bersenang-senang dengan berbekal uang cuman segini di Jakarta..

Langkah awal gue dengan naik mpok siti sekalian mengobati rasa rindu udah lama gak naik nih kendaraan. Lama menunggu gue memperhatikan orang tua yang menggandeng anaknya, dengan senyum lebar mereka saling melempar tawa, sang anak digandeng erat ibunya, ayahnya sesekali mengarahkan mata mengawasi siapa tau mpok sitinya mendekat. Ada juga satu dua orang akhirnya beralih naik transjakarta.
Gue pun menemui rekan kerja, rupanya dia juga naik city tour sampai daerah Sudirman, berhubung pikiran gue gak mau ke daerah sana, akhirnya gue langsung naik city tour.

Angin dingin langsung ngelus pipi gue dengan lembut, gue terpaksa duduk didepan dekat supir karena tidak ada bangku kosong ditingkat dua.
Sebelah gue duduk seorang ibu tua dengan barang dagangannya, tidurnya lelap sampai menganga, gue ngeliat keriput dan bekas kelu keringat didahinya. Kulitnya hitam legam, terlalu akrab dengan matahari. Kakinya menggantung di bangku, sandalnya dia copot. Rasa lelah tersirat jelas dan panas ibukota hari ini memang sangat menyengat.


Gue tersenyum..
Gue lirik si supir city tour, seorang wanita.
Ini bukan sekali dua kali pas gue naik city tour yang mengendarai wanita dan buat gue ini sungguh hal luar biasa.
Katakanlah gue selalu uring-uringan menghadapi macet dan sukanya tersenyum getir lalu bagaimana dengan mereka yang menghadapi macet ibukota dengan sangat lapang dada?

Gue ngeliat jalanan yang sebelumnya gak pernah  gue perhatikan, banyak gedung yang sedang direnovasi, Jakarta benar-benar menyengat sampai sungai yang mengalir semakin terang coklatnya.

Perhentian pertama Masjid Istiqlal.
Bersabar adalah salah satu tantangan bagi pengguna angkutan umum dan diwaktu yang senggang ini gue memperhatikan banyak hal. Pasangan baru yang saling berpegangan tangan, berdiri berdempetan namun diam memandang aspal jalanan, segerombolan anak tanggung yang asik bercanda sambil mengomentari bahwa lebih cepat naik kereta daripada menunggu (nyatanya mereka menunggu sampai bus tujuan datang), keluarga yang pergi bersama dengan anak-anaknya (ini memang weekend, jadi wajar banyak sekali anak kecil), lalu supir city tour yang sedang menyuapi anaknya.
Ya, Supir dan seorang ibu, wanita tangguh darimanakah dia ini?
Ketika bekerja dia membawa anak bersamanya, anaknya memegang tiket gratis city tour, ditangan kiri sang ibu memegang kotak bekal makan, ketika berhenti menunggu antrian masuk bus, sang ibu menyuapi anaknya.
“Nikmat manalagi yang gue dustakan, manakala ibu menyuapi disela kesibukannya mencari nafkah?”
Terenyuh adalah salah satu dari perasaan yang gue rasakan. Gue berharap ketika gue menjadi orang beruntung dengan panggilan ibu dapat menyayangi anak kayak gitu.

Perjalanan kembali dilanjutkan menuju Kota Tua, gue segera naik dan memilih posisi paling belakang. Terlihat beberapa bangku kosong, sebelah gue duduk keluarga yang terlihat sangat harmonis.

“Mbak ac-nya kalau mau dinyalain dibuka aja”, si bapak negur gue, karena gue menutup ac-nya, gue tersenyum lalu berkata
“takut masuk angin pak..” dan bapaknya mengangguk mencoba mengerti.

Keperduliannya patut diapresiasi dan gue senang dengan penghargaannya akan kehadiran gue dipojok bus yang hampir-hampir tidak terlihat. Perjalanan panjang menuju Kota Tua dengan kemacetannya. Gue memperhatikan jalanan yang sepertinya tidak terputus kecuali bila kalian menginginkan itu menjadi tujuan kalian.
Kehidupan ini seperti jalanan, kalian harus sesekali berhenti tidak harus terus berjalan. Kalian harus mengerti bahwa ada saatnya buat beristirahat, memandang langit, menarik nafas panjang dan tersenyum.
Kota Tua terlihat, bank Indonesia didepan mata, bank mandiri tinggal selangkah, gue berjanji kesini bersama dengan teman dan sekarang dia gak ada, maka gue berjalan ke arah sebaliknya, melalui lorong antara stasiun dan asemka.
Gue berjalan mengikuti hati menuju stasiun beos.. stasiun kota.

Perut gue kebetulan senang banget nyanyi di jadwal-jadwal tertentu, kadang perut gue nyanyi dan rasanya itu bukan jadwalnya gue biasanya mikir sebentar,
“benarkah ini perut gue yang sedang bernyanyi?” batin gue, namun dialog itu hanya berlaku sebentar, karena gue langsung ke alfamart dan beli roti, rasa terima kasih karena perut telah memperdengarkan nyanyiannya yang begitu merdu.

Gue naik kereta menuju Bogor, mencari bangku diantara gerbong gerbong.
Ketika mencari gue ngerasain satu hal, mata mereka semua mengikuti kemana gue ngelangkah. Pikiran itu menguap menjadi satu hal, dia mau kemana?
Gue terus berjalan dan semakin banyak mata yang mengawasi.
Kalian tau, setiap kali gue berjalan, gue menapak, gue ngerasain bahwa semua orang menjadi juri dengan mata mereka, dengan pandangan mereka. Mungkin bagi kalian, gue terlihat bersikap seolah tidak perduli, tapi taukah kalian bahwa didalam diri ini begitu kuat dan keras menentang pandangan itu. Gue harus terlihat kuat.
Gue duduk dan ngeliat kereta menuju Bekasi ada dijalur tepat didepan mata, gue menatapnya lama.
Ketika tujuan jelas ada didepan mata gue sama sekali tidak beranjak, gue tetap duduk dan termenung. Gue sedang memikirkan, apa iya harus sampai disini saja?
Gue masih berfikir, masih meragukan, namun langkah gue gak ragu, pantat gue pun berkompromi dengan langkah, tidak akan beranjak dan pintu kereta menuju Bekasi tertutup begitu dramatis.
Apa gue melewatkan hal yang seharusnya gue lakukan?






Stasiun Manggarai menjadi hal yang gue pilih selanjutnya. Dibelakang gue kembali ada pasangan, dimana lelakinya mengomentari cat kuku pacarnya yang terlihat mencolok (berwarna hijau), lelaki itu bilang “aku tidak perduli apa merknya, aku tidak menyukai warnanya” dan gadis itu mulai mencoba merusak cat kuku mahalnya dengan kukunya sendiri.
Ironikah? bagaimana kenyamanan itu timbul dengan hal bertentangan yang harus dituruti? bagaimana kalian berusaha tampil lebih baik dihadapannya meskipun itu bukan diri kalian..
Ketika gue edarkan pandangan sekali dua kali mereka menatap gue kembali dan kami saling bertatapan lalu membuang muka. Tak sedikitpun tersenyum ataupun menyapa. Kami hanya bertatap mata lalu membuang muka berharap tidak mengusik satu sama lain.


Stasiun Manggarai masih berbenah, suara bising pembangunan terdengar nyaring. Kereta tujuan Jatinegara melewati Duri – Kampung Bandan – Senen – Jatinegara mengusik. Gue pun melangkahkan kaki memasuki gerbong.
Satu demi satu stasiun terlewati, ketika melihatnya melalui jendela itu semua bergerak cepat.
Tanpa sadar ketika gue memegang kepala dan menepuknya, gue sudah setinggi ini, begitu banyak hal-hal yang gue lewati, entah dilewati begitu saja sampai terlupa atau dengan rasa hingga membekas.
Kereta makin sepi, sudah makin berkurang penumpangnya. Gue masih setia duduk disini menatap banyak orang sampai Stasiun Jatinegara.
Di stasiun Jatinegara gue harus menanti lama untuk kereta menuju Bekasi. Ketika kereta itu datang pun gue harus rela tidak naik karena sangat penuh, rupanya ada penundaan sebentar yang membuat menumpuknya penumpang.
Ya, harapan yang sudah lama dinanti, ketika datang pun tidak bisa langsung disambut. Kadang kita harus merelakan harapan itu dengan harapan bahwa harapan yang lain akan datang dengan caranya sendiri
Gue menanti cukup lama, lalu kereta itu datang dengan lebih sepi tentunya.
Berdiri menatap jalan diluar sana, adegan per adegan kembali tampil menghias pandangan.
Segala kejadian sepanjang hari ini ngebuat gue tersenyum, mungkin gue belum bisa memenuhi janji untuk membawanya ke Kota Tua, namun gue mendapatkan banyak hal hari ini. Gue mendapatkan banyak pengalaman.
Gue bersyukur bahwa gue bisa bersyukur.











No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi