Thursday, January 26, 2017

Tentang Ketakutan

Gue pikir semua punya ketakutan, gue pikir semua juga punya phobia.
Dulu gue gak takut apa-apa, dulu banget waktu gue masih dikandungan.
Karena gelap gue sendiri gak ngerti apa yang perlu ditakuti.
Pas kecil, megang apa-apa, makan apa-apa main santap aja gak perlu mikir kayak sekarang.
Setelah beranjak dewasa gue pikir punya sesuatu yang ditakuti itu perlu dan keren banget. Akhirnya dengan meditasi beberapa hari dan melakukan studi banding ke beberapa kawan sejawat gue menemukan hal keren yang kudu ditakuti tapi gak norak-norak banget.

Iya, semisal orang takut karena mengalami trauma yang menyakitkan, gue takut karena gak mau dianggap cewek super strong yang gak punya ketakutan, menurut gue waktu itu punya ketakutan adalah manis, cewek banget gitu.
Gue bertekad bahwa gue takut kecoak, apapun bentuknya, megang pun males.
Tapi lucunya ketika gue LDK dan ada kecoak merayap semua teriak, gue coba teriak tapi ya namanya kecoak gak punya otak diteriakin, kita yang makin histeris bukan kecoaknya. Gue akhirnya tendang kecoak jauh-jauh sambil mencoba teriak kiyut, hasilnya emang agak menjijikkan tapi gue berhasil dapat sorakan kegembiraan dari temen-temen lain. Di lain waktu kecoaknya terbang dan gue bener-bener jadi histeris. Saat itu gue bertekad, gue takutnya sama kecoak terbang bukan merayap. Gue udah bertekad bulat gue takut kecoak terbang.


Akhirnya dari yang gak takut, gue jadi takut beneran sama kecoak terbang. Kalo liat kecoak terbang bawaannya cuman mau ambil sapu lalu libas abis sampe tinggal mayit tuh kecoak.
Iya, tanpa sadar pikiran gue yang 88% nya adalah pikiran bawah sadar meresapi deklarasi ketakutan gue terhadap kecoak terbang dan bukan merayap.
Hebat ya?

Lama menjelang setelah itu kejadian diluar kepala yang terbayang juga enggak. Ketika gue maskeran dengan tomat dan ada yang menggeliat di muka gue. Iya, belatung sayur. Belatung. Putih. Menggeliat. Tanpa kaki. Binatang penghasut, dan gue teriakan gak karuan.
Dari yang takutnya dibuat-buat sampai akhirnya takut beneran, dari yang gak pernah dapet kejadian aneh sampe akhirnya gue didatengin kejadian. Semenjak itu bukan cuman masker yang gue tanggalkan tapi juga deklarasi bahwa apapun binatang merayap panjang ataupun jenis melata apapun termasuk ulat kaki seribu adalah binatang yang bisa bikin gue mual dan muntah.

Ini beneran, ketika salah satu rekan kerja gue menyodorkan ulat tanaman yang sebenernya dipencet mati gue langsung kabur, mual dan hendak muntah. Mereka bilang ketakutan gue udah gawat dan gue kurang perduli. Gue takut dan gak peduli apapun.

Semakin besar semakin banyak yang kita takuti, semakin banyak yang kita pikirkan. Reaksi dari pertanggungjawaban dan tembok dalam kamus orang dewasa membuat kita seutuhnya terjebak dalam lingkaran setan, ini yang akhirnya gue cetuskan.
Gue merasakan penyekat ini kadang membatasi kita lebih dan lebih, lebih berkreasi dan lebih mengembangkan diri.

Memang seharusnya break your limit, tapi limit ini akhirnya diciptakan pribadi tanpa sadar karena selalu diingatkan pada umur dan tanggung jawab yang harus diemban.

Ya gak sih?
Gue sering banget denger orang yang mengeluh "ini gak gue banget", "ini bukan sesuatu yang gue inginkan", "bukan batas ini yang gue inginkan".
Kita diinvasi oleh kecoak dan pemikiran yang membatasinya.
Persis seperti saat gue bilang butuh sebuah ketakutan agar diterima dalam masyrakat, begitu pula dengan pribadi dewasa. Kita membutuhkan batasan agar bisa diterima khalayak umum.

Ketika si bayi beranjak anak kecil dia akan memakai apapun yang akhirnya bisa dipilih, ketika si anak kecil beranjak remaja dia akan membangkang karena merasakan semua orang tidak ada yang mengerti dirinya kecuali teman-teman sepermainannya, ketika si remaja beranjak dewasa dia akan mulai berfikir tentang apa yang akan dia lakukan, ketika si dewasa beranjak menjadi orang tua dia akan berfikir bagaimana yang pantas ditunjukkan orang tua kepada anaknya agar baik, ketika orang tua menjadi kakek dan nenek tentulah dia akan lebih bijak karena sudah terlalu banyak makan asam garam kehidupan, tidak mungkin lagi mereka memakai tanktop dan celana pendek lalu berjogging dengan kulit menggelambir.
Itu tidak mungkin, masuk angin iya.

Sekat-sekat dalam kamus tidak mungkin membuat kita bertindak dan bersikap lebih hati-hati. Penyekat antara si tua dan si muda, si bijak dan si tukang bingung membuat segalanya berputar bukan kearah yang lebih baik bahkan ke arah dimana do and dont.
Mungkin malah kebanyakan dont nya.

Sejauh ini gue masih berfikiran inilah hidup dengan batasan yang harus diemban.   

2 comments:

  1. Secara umum, gue nggak punya phobia. Nggak punya alergi ini itu. Tapi gue punya trauma. Trauma sama yang namanya berenang. Dulu pas kecil, sekitar kelas 4 SD gue nggak takutan kalau berenang. Malah senang. Semenjak pernah tenggelam, gue jadi takut berenang. Ya, takutnya masih belum parah, sih. Masih bisa diatasi kalau gue mau. Kalau nggak ada yang menganggu. Gue pernah waktu itu berenang sendiri. Tanpa ngajakin orang lain. Dari situ gue berinisiatif buat belajar renang. Walaupun nggak bisa-bisa sampai sekarang (karena malesan juga belajarnya), gue jadi tau kenapa gue takut. Gue takut kalau ada orang iseng ngejailin gue waktu lagi renang. Waktu kecil dulu gue tenggelamnya juga karena di jailin. Terlebih lagi waktu itu gue memang belum bisa renang. Intinya sih, selama ada kemauan untuk merubah, melawan ketakutan, pasti bisa, kok. Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju deh sama kamu!
      dimana ada kemauan dan niatan disitulah kekuatannya :D

      Delete

  • Etika Profesi Akuntansi