Sunday, October 23, 2016

Bertumbuh Sebagai OMK yang (+) di Tengah Keluarga

Siapakah OMK itu?
Sepenting apakah OMK?
Bagaimana peran mereka dalam keluarga?
Apa fungsi mereka dalam keluarga?

Tentunya banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam kepala kita, mengenai hal-hal ini.
Menariknya Sie Kepemudaan Paroki Bekasi Utara, Gereja Katolik Santa Klara mengangkat OMK dan Keluarga sebagai topik hangat dalam seminar OMK (Minggu, 02.10.16).
Pembukaan bagi bulan Oktober yang sangat bermakna.

Sebagai pembicara Fr. Charles Lelu Talu, OFM seminar ini dimulai pukul 10.00 wib tepat di Kapel Asri dan dihadiri sekitar 50 orang OMK dari 11 wilayah.
Buat gue sendiri kebanyakan ngeliat muka baru dan kali ini temen-temen dari satu wilayah gue berhalangan hadir, alhasil gue sendirilah yang menampakkan diri di seminar itu.


Fr. Charles secara gamblang menjelaskan dua bahasan yang akan dibahas pada seminar ini, yang pertama adalah menyadari pribadi sebagai OMK dan apa aku, kamu, kita semua adalah OMK. Apa peran OMK dan bagaimana kita memfungsikan peran tersebut.
Lalu bahasan yang kedua adalah menyadari pribadi OMK ditengah keluarga, bukan hanya sebagai pribadi yang taat kepada Kristus tapi juga pribadi yang taat pada pelayanan Keluarga.
Oke untuk mempersingkat waktu, mari kita ulas untuk bahasan pertama.

"Siapakah OMK"

Sebelum kita mengenal kata OMK (Orang Muda Katolik) sebenarnya sebutan bagi orang muda ini adalah MUDIKA atau Muda Mudi Katolik, dimana mencakup muda mudi yang terbatas dalam gereja tanpa kelompok kategorial anak muda Katolik, ini membuat Gereja berfikir bahwa definisi ini semakin membatasi hal-hal yang seharusnya lebih luas, maka pada tahun 2004 Gereja memutuskan untuk mengubah MUDIKA menjadi OMK dimana mencakup segala kelompok, dimulai dari kelompok non kategorial sampai kategorial.

Umurnya pun diperjelas dengan rincian sebagai berikut :
  1. 13 - 15 tahun sebagai kelompok usia remaja
  2. 16 - 19 tahun sebagai usia Taruna
  3. 20 - 24 tahun sebagai usia Madya
  4. 25 - 35 tahun sebagai usia Karya
Dengan pengelompokkan ini tentu memperjelas posisi usia OMK dan siapa saja yang bisa masuk OMK.

Fr. Charles melanjutkan OMK pun harus memiliki faktor yang seimbang baik secara Intelektual, Kepribadian, Kerohanian, Sosial Kemasyrakatan dan Ketrampilan.
Pada pembahasan mengenai faktor keseimbangan ini, gue agak keberatan mengenai "Katolik seharusnya terdepan" menurut gue bukan hal ini yang harus digarisbawahi pada pembahasan ini.
Tapi mengenai begini :
  • OMK seimbang secara Intelektual, berati mampu mengembangkan pikiran secara rasional dan jernih. Tidak mesti juara satu dalam segala aspek tapi lebih kepada kemampuan berkembang, tantangan jaman makin tinggi Orang Muda dituntut untuk lebih bijak dan rasional dalam penggunaan dan penerapan kehidupan, menjadi yang nomor satu bukanlah motivasi yang bijak untuk hal ini
  • OMK seimbang secara Kepribadian, berarti mempu menyeimbangkan diri secara pribadi. Matang dalam bertindak, ingat OMK diharapkan berpikir rasional dan jernih maka secara pribadi tentulah ini akan menjadi pribadi yang baik
  • OMK seimbang secara Kerohanian, mengingat doa dan berpegang pada Tuhan adalah hakiki setiap manusia, maka tidaklah mengherankan bila sisi kerohanian yang baik akan memandu hidup menjadi lebih nyata seimbang
  • OMK seimbang secara Sosial Kemasyrakatan, sehat pikiran, sehat jiwa dan sehat pribadi, bukan hanya dipupuk namun juga harus dikembangkan, salah satunya adalah bagaimana OMK secara aktif terlibat dalam kegiatan sosial kemasyrakatan. Baik dalam komunitas katolik ataupun non katolik, melibatkan diri secara aktif dalam masyrakat tanah air. 
  • OMK seimbang secara Ketrampilan, bukan hanya dituntut untuk rasional dan memperbaiki diri secara pribadi jiwa dan rohani tapi juga memiliki ketrampilan, ketrampilan yang dibutuhkan dalam bermasyarakat
Terakhir untuk pembahasan pertama ini adalah "Identify Yourself in Jesus Christ" yang diharapkan
bukanlah bagaimana kita meniru segala perilaku Yesus (bisa-bisa malah jadi nabi baru :P) tapi bagaimana kita mengidentifikasi diri melalui Yesus, bahwa hal-hal memberi tanpa menuntut balik seperti yang Yesus lakukan adalah perbuatan luar biasa yang patut mengisi antar hubungan manusia.

Masuk kedalam sesi berikutnya adalah yang menjadi inti seminar ini, gue rasa Frater mengawali dengan menggugah pertanyaan gue,

"Kenakalan Orang Tua"
Bagaimana ditekankan banget nih, keluarga yang positif menjadi kunci lahirnya orang muda yang positif. Maksudnya nih keluarga adalah gereja kecil, maka rumah menjadi suatu hal yang dirindukan dan memberi kedamaian lebih bagi penghuninya, karena keluarga disebut juga gereja kecil maka diharapkan aktifitas keluarga pun menjadi kudus.

Berat banget gak sih?

Jelas berat banget, bahkan kata-kata kudus membuatnya nampak seperti keluarga kudus Bunda Maria, Santa Yoseph dan si kecil Yesus. Tentunya ini menjadi khayalan semata menurut gue, bukan bilang mustahil ada. Tapi yang namanya keluarga itu pasti ada prasangka yang salah dan memercik pertengkaran. Ini bukan salah siapa, tapi begitulah keluarga. 
Menurut gue pribadi yang dibutuhkan keluarga adalah Family Time, saatnya satu dan yang lain bukan cuman bertukar canda tapi juga secara rileks mengeluarkan pendapatnya mengenai keluarga yang menaungi mereka.
Frater juga mengutip 3 kata ampuh dalam keluarga seperti Pope Francis katakan.

 



Keluarga sendiri mempunyai pelayanan yang unik dan khas, menjadi pendorong atau pusat perhatian "Apa yang Tuhan minta dari saya untuk menjadi gereja ditengah-tengah dunia.

Beranjak dari sini maka sebagai OMK tentulah harus tangguh, akan ada banyak tantangan dari internal atau eksternal yang terus mencoba merobohkan arti keluarga.

OMK dituntut untuk setia pelayanan kepada Tuhan tanpa mengabaikan waktu bersama keluarga.

Inilah pertanyaannya sekarang,
Siapkah kita membaginya?

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi