Thursday, September 29, 2016

"Lelaki dalam kereta"

Sumber
Mungkin ini yang aku rasakan.
Rasa yang hilang, kini dan nanti mungkin. 

Dia ini, lelaki ini. Datang begitu saja seperti semilir angin yang aku sendiri bahkan tidak tahu darimana asalnya. 

Pagi itu, mendung merudung Bekasi. Aku berdiri menundukkan kepala, menunggu kereta di Stasiun Kranji. Aku tidak tahu apa yang membuatku resah, rasa hujan yang membawa memori lama kembali atau tempat kerja baru yang akan kudatangi. 
Ya, ada rasa berdebar namun lebih pada rasa khawatir. Aku mengkhawatirkan banyak hal, apakah aku diterima disana, apakah aku akan bisa bergaul bersama mereka, apakah aku akan segera diterima oleh lingkungan baru, Bagaimana kalau ada orang yang menyebalkan disana.
Aku mengkhawatirkan dan begitu memikirkan sampai aku tidak sadar lelaki yang berdiri disebelahku menatapku khawatir.

"anda tidak apa-apa?"
Aku tidak menyahut, aku mendengar namun tidak berkenan membalas. Siapa lelaki ini hingga mengangganggu kekhawatiranku. 

"baiklah kalau anda tidak apa-apa"
Aku masih tetap diam, menoleh pun tidak.
Namun ketika aku hendak turun aku menoleh padanya dan kusunggingkan senyum untuknya, untuk orang asing yang sudah dengan baik menanyakan kabarku. 
Dia hanya menatapku tidak mengerti namun begitu pintu tertutup kutahu dia balas senyumku.

Hari pertama selalu menjadi ketakutan terbesar dalam hidupku, ibuku bilang aku terlalu takut pada hal-hal yang belum aku lalui, beliau bilang aku terlalu mengkhawatirkan orang-orang dan keadaan, begitu membodohi diri sendiri dalam perkara kecil yang seharusnya tidak diperlukan. Begitu hebat dan bijaknya beliau, tiap harinya aku dibekali segudang kalimat motivasi hingga dirasa cukup, beliau pergi menghadap sang Khalik. 

Aku berjalan, mencoba mengingat apa yang sudah ibu ajarkan. Abaikan ketakutan, lalui saja dulu, apa yang terjadi nanti biarlah nanti dipikirkan. 

Aku mencoba untuk tersenyum, namun rasa tegang ini tak kuasa merebut fokusku.
Ya, hari itu menjadi hari yang panjang untukku namun kudapatkan hal yang luar biasa. Rasa takut dan khawatir ini seketika berubah menjadi rasa yang sungguh buatku bahagia. Mereka sungguh hangat menerimaku. 

Hari telah berlalu kini ketika aku berangkat kerja, dengan rasa positif dan senyum di bibir. 
 
"anda tidak apa-apa?"
Pertanyaan itu kulontarkan pada seorang lelaki yang terlihat pucat, dia mendongak lalu menatapku. Tahulah aku siapa lelaki ini. Dia yang dahulu menanyakan hal yang sama padaku.

"wah, kulihat kini kamu yang sangat baik-baik saja"
Aku kemudian tertawa melihat dia tersenyum

"ya, sekarang aku baik-baik saja"
Pertanyaan itu diliputi obrolan panjang dan seperti tidak ada habisnya. 
Kami seperti teman lama yang baru saja bertemu.
Obrolan makin panjang
Ucapan demi ucapan silih berganti
Candaan perlahan dilontarkan
Tawa hiasi obrolan kami 

Aku tidak mengerti apakah ini takdir, kebetulan yang disengaja atau bagaimana. Seperti terikat janji tak terucap kami kembali bertemu di gerbong yang sama.
Lama waktu berlalu kami tersadar bahwa kami saling mencari.
Tanpa diduga kami saling menanti.
Pernah selama seminggu aku harus pergi keluar kota dan aku mulai merindui banyolan yang selalu dia kemukakan.
Entah apa yang ada dipikirannya saat ini ketika dia menemukan aku tidak lagi digerbong dan diwaktu yang sama. 

Ketika aku kembali bekerja aku yang kini tidak menemukannya. Aku merasa memang sudah seharusnya begini.12 rangkaian bahkan menjadi sangat luas ketika aku tidak bisa menemukan dia. Jam jam kereta menjadi lebih kejam, karena aku tetap tidak bisa menemukannya.
Kupikir inilah saatnya melepaskan sahabat ngobrol terbaik untukku.

"Anya.. "
Panggil seseorang ketika aku hendak turun di Stasiun Gondangdia, aku menoleh dan menemukan dia dengan senyumnya. Aku membalas senyumnya seiring tertutupnya pintu.
Ya, aku tau. Dia telah kembali dan hatiku terselamatkan.

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi