Friday, August 19, 2016

Hujan Semakin Besar Kawan!

Sumber
Hujan semakin besar kawan!
Rintik kemayu itu tidak lagi ramah, dia berubah menjadi bulir besar yang menyakitkan.
Kita sudah tidak bisa bersantai lagi kawan!
Rintik telah hilang tertelan kenangan pahit
Tertelan dan tak mungkin akan kembali.

Hujan semakin membesar kawan!
Sudah tidak ada lagi ampun,
Hujan telah mendendangkan jendela yang longgar,
Menggebrak keras jendela yang terbuka,
Meratap pada atap-atap rumah yang tidak mengerti.


Bulan telah hilang kawan,
Tertelan gelap malam.
Mata praktis menerawang
Mencari bintang yang tertutup air.

Hati tak kuasa menahan rindu,
Hujan membawa angin dingin menusuk tulang,
Termenung sendiri tak ayal melempar pada kenangan tempo dulu
Merengek pada hujan yang tiba-tiba datang
Menghantarkan sekotak kenangan yang ingin terlupa

Ada apa kawan?
Rindu itu kenapa?
Hati ini bagaimana?

Sebaris sajak pujangga patah hati tak akan berarti apa-apa
Mendengar sedikit lagu melayu lalu layu
Tiada semangat yang tersisa
Lalu bimbang menyerang
Mengingat kenangan lama yang membuat wajah merona

Sebentar merona,
Sebentar bersedih,
Sebentar muak,
Lalu merasa terjerembab sepi karena hanya sebentar.

Namun tak lama Bintang datang,
Hujan lari pontang panting,
Awan gelap telah menyingkir,
Langit malam sudah kembali,
Dengan jutaan bintang penyejuk hati.

Tak lagi sepi, namun rasa telah kembali.
Sedikit tersentil namun tetap kuasa tegar,
Meski merangkak Bintang tetap disana, sabar menunggu
Meski mungkin dia telah hilang dimakan lubang hitam
Bintang tetap duduk manis dalam pandang mata.

Ya,
Kenangan telah tertutup bersama hujan,
kadang kotak sedikit terbuka, kenangan sedang mengintip
Bimbang sebentar namun Bintang telah meyakini hati yang limbung
Bintang tak akan pergi.
Bukan salam pada pelangi
Bukan salam pada mentari
Bintang tetap berdiri disana, sinarnya menyala terang bahkan pada bulan sekalipun.



2 comments:

  • Etika Profesi Akuntansi