Thursday, July 7, 2016

“Sepucuk Surat Untuk Ayah”

Hai yah,
Apa kabarmu?
Apa dari sana aku terlihat?
Apa disana lebih indah daripada disini memandang kesana?

Yaa, aku rasa manapun akan indah asal aku mengenang terus dirimu yah..
Kini aku telah dewasa, kakak-kakakku pun begitu. Maaf hari ini tidak bisa bawa cucumu ketika berkunjung, bukannya tidak mau tapi masih tidur.

Hari ini keluarga lengkap mengunjugi, sambil tertawa diatas batu nisanmu. Berkumpul seperti lengkap, aku tau Ayah juga ada disana, memandang bahagia kami yang masih bisa berdiri tegak.
Ayah membesarkan kami dengan sangat baik yah..

Mungkin ada beberapa masalah atau halangan yang membuat kami resah. Mungkin beberapa kali kami mengatakan andaikata ada kepala keluarga. Mungkin beberapa waktu ibu terlihat bersedih sembari memegang fotomu yah, tapi tak apa. Sungguh kami tak mengapa.

Waktu akan terus berjalan, air mata yang keluar akan terhapus tapi tidak kenangan akan dirimu. Kami tidak membiarkan dirimu terkikis oleh waktu. Sela waktu kami membahas bagaimana dulu Ayah begitu bahagia membesarkan kami, dalam keterbatasan, dalam penyakit yang Ayah derita.

Aku bersyukur yah, atas segala waktu yang kumiliki bersamamu dulu. Ketika kita saling bermarahan, ketika ayah memukulku, ketika aku menangis dengan keras, ketika Ayah membelikan barang-barang yang kuinginkan dan tidak kuperlukan.

Dulu aku sangat kesal kenapa Ayahku berbeda, namun kini aku bersyukur karena Ayah berbeda. Aku belajar banyak darimu yah, mungkin masih banyak kekurangan sana sini tapi aku selalu mengganggap dunia ini indah yah.

Ah, kembali lagi. Memang banyak masalah menghadang, namun kami menikmatinya, kami berproses didalamnya. Tidak usah khawatir yah, kami akan baik-baik saja. Ilmu Ayah akan selalu kami pakai. Kami masih teringat bagaimana peluk sayang dari Ayah untuk kami. Kami masih ingat bagaimana ditengah tangis, Ayah masih mengajak kami tertawa. Aku juga masih ingat bagaimana aku membalurkan lotion ke tangan Ayah yang kering kala sakit waktu dulu.

Aku mengingatnya, aku mengenangnya dan aku bersyukur menjadi anakmu dengan hikmah kehidupan tidak terhingga.

Beberapa kali Ayah datang dalam mimpi, ketika Ayah menjemput Ibu dan Ibu menolak, maaf yah, aku berterima kasih karena Ibu menolak dan Ayah tidak memaksa.
Ketika Ayah datang dan tersenyum aku tahu Ayah mengkhawatirkan kami.
Ketika Ayah datang dan memelukku aku tahu Ayah mengerti betapa rindunya kami semua padamu.
Ketika Ayah datang dan menuntunku ke banyak hal aku tahu Ayah paham betapa bingungnya aku.

Aku senang di saat-saat ini Ayah masih datang mengunjungiku.

Makammu kini telah rapih yah, diberi air mawar juga agar harum.
Bunga batang menghias namamu menjadikan keindahan yang lebih.
Bunga tabur kami berikan pada salib indahmu, penanda kami telah berkunjung.

Kami baik-baik saja yah.
Dan tetaplah datang berkunjung bila sempat.

 
Salam sayang dari bumi untuk ayah di surga

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi