Tuesday, May 3, 2016

Kode-kodean

“Mana janji manismu..” 

Lagu Nidji mengalun manis di telingaku, mentari sudah mulai menanjak, terik makin menantang dan aku masih menunggu disini. Menunggu seseorang yang sudah tidak sabar kutemui.

Dia membuatku menunggu selama satu jam, sungguh terlalu kalau kata bang Rhoma, sangat keterlaluan, tapi ku mencoba sabar dan tetap berfikir positif siapa tau dia nabrak dinosaurus hingga harus kerumah sakit dan menungguinya sebentar sampe dinosaurusnya jadi fosil.
Yang pasti aku mencoba sabar.
Lima menit
Dua puluh lima menit
Tiga puluh lima menit
Oke lima menit yang semakin memuakkan, akhirnya aku menyerah. Kunyalakan starter motor lalu pergi melaju menuju jalan kenangan kembali ke rumah membawa kekecewaan yang luar biasa.

Dahulu, dia itu tidak pernah begini.
Datangnya selalu tepat waktu, mungkin sesekali terlambat namun tidak akan membiarkanku mengucurkan keringat dengan deras dan dongkol setengah dewa. Kadang dia malah datang duluan dan membuatku terharu, karena dilingkunganku aku terkenal paling sering menunggu.
Tapi dihari ini dengan janji yang menurutku seharusnya ditepati dia malah gak datang, menyebalkan sungguh.
Aku pulang dalam keadaan ngamuk luar biasa hingga ibu mengurungku dalam kandang, oke ini agak berlebihan, yang benar ibu mengikatku di pohon tetangga untuk jaga ternak, oke ini juga keterlaluan. Tapi yang pasti ini gak seketerlaluan membuatku menunggu.

Untukku menunggu adalah kegiatan paling membosankan karena membuang waktu, aku jadi tidak bisa melakukan banyak hal hanya karena menunggu. Kalau menunggu ibarat menambang emas, mungkin aku akan memilih untuk selalu menunggu, tapi kan kenyatannya hanya begini. Membuat diri menjadi jengkel dan memunculkan keriput yang sungguh tidak sedap dipandang apalagi dicium.
“Maaaf, aku bangun kesiangan” 
dan aku mulai gondokan dengan bisul di pantat, kenapa sih dengan anak satu ini. Gak sebegitu berartinya aku hingga mudah saja meminta maaf lalu bilang bangun kesiangan.

Memangnya aku ini cowoknya yang dengan setia menanti meski hujan badai sekalipun? Hello, kita sahabatan dan begini aja cara dia memperlakukan sahabatnya?
“Tadi malam ibuku collapse soalnya, jadi aku begadangan” 

dan aku mulai merutuki nasib, semudah aku mengumpat dan mengomel semudah itu juga aku mencair. Sehina inikah perasaan negative hingga sahabat yang sejatinya sedang kesusahan harus berakhir dengan hujatan dalam kepala
Aku pun meminta maaf dan langsung menanyakan kabar ibunya, sungguh sahabat macam apa aku ini hingga menghujatnya dikala orang tuanya collapse.
Aku menceritakan bagaimana kesalnya aku menunggu dan sekali lagi dia hanya meminta maaf dan berjanji untuk kedepannya dia akan langsung cerita dan membatalkan, hingga aku tidak akan menunggu tanpa kepastian.

Besoknya ketika kami bertemu, kami kembali seperti sahabat, tertawa bersama hingga cupid pun pingsan selamanya karena hubungan kami terlalu akrab, tenang kami bukan LGBT kami hanya LG BT, oh itu juga bukan. Yang jelas persahabatan ini memang sudah cukup lama.
“Ke animefest yuk” 
ajakku dengan semangat menggebu-gebu, dan rupanya dibalas olehnya dengan sangat antusias. Tiket akhirnya dibeli dan kita membicarakan rundown acaranya yang pastinya bakalan seru banget. Kita sudah berangan-angan kesana ngapain aja, beli apa.
Mendekati hari H kami semakin bersemangat, semangat pula membahas konten acara yang akan ditampilkan, begitu juga dengan selalu menshare updatean mereka. Sungguh saat itu kami sangat antusias.
Hujan badai datang terik mentari kembali lalu hujan badai lagi, awalnya rintik-rintik lama-lama menjadi deras. Hujan datang lagi sampai mentari bangkit menerangi awan gelap mengeringkan yang basah, tapi hujan kembali lagi terik lagi hujan lagi terik lagi, begitu terus sampai kiamat.

Dia dateng lagi, apa ibunya collapse lagi? Daripada penasaran terus dosa akhirnya kuputuskan untuk menghubungi ibunya, bertanya apa lagi collapse, tapi ya jelas banget. Kalo diangkat dan dijawab, jawabannya adalah tidak. Lalu kemana dia?
Lima menit
Dua puluh lima menit
Tiga puluh lima menit
Lagi-lagi lima menit, kali ini hilang sabarku. Aku kunjungi rumahnya, mencoba meredam rasa penasaran juga.
Sampai dirumahnya, ku lihat motor yang kukenal. Masa sih.. banyak pikiran mulai bermain dikepalaku, meracau sendiri hingga kulihat benar adanya.

Sahabat satu ini tepat menusukku pakai tombak besi dengan panjang 100 meter. Kupikir yang dia tabrak sekarang adalah paus ternyata hiu. Gebetan 2 tahunku, yang tak kunjung menembakku dan selalu ku kodein karena dia anak jurusan komputer disalip sahabatku sendiri.
Sahabatku yang lagi megang tiket animefest kaget melihat kedatanganku, mereka lagi rebutan tiket. Nyesek ngeliat mereka deket banget, padahal tau itu inceran siapa.
Cukup sahabat yang ahli menusuk, bukan begini caranya.
“aku bisa jelasin semuanya kok” 
ucapnya dan aku cuman diam mematung, dia mengakui bahwa gebetanku, ngegebet dia, kalo ibunya gak collapse, kalo sekarang ini dia lagi galau.
Setelah mendengarkan sebentar aku ambil tiketnya, pergi ke senayan sendiri buat nikmatin Animefest dengan suasana Jakarta yang diguyur hujan. Pas banget.

Emang bukan salah siapa-siapa, semua berhak ngegebet dan digebet tapi bukan berarti juga sampe harus digerebek.

Bukan salah dia juga, kode aku kurang sampe, justru sahabatku yang gak ngode malah dikodein, jadi kodeku dilanjutin ke sahabatku, terus mereka kode-kodean sampe tercipta website sendiri mana pernah nyampe kodeku kalo begitu caranya, aku rasa mereka juga pasti bikin firewall, pake dinding tinggi sampe titan gak pada bisa masuk apalagi aku yang kerdil.

Aku nangis sejadi-jadinya dibawah guyuran hujan Jakarta, ketawa sekenceng-kencengnya waktu ada stand up pake bahasa jepang saking gak ngertinya. Pada akhirnya ya aku dengan hati yang patah dan sahabatku yang masih ditemenin meski gak seintens dulu, juga gebetan yang gak pernah aku ceritain ke dia.
Yaa, akhirnya aku ngerti bahwa sesuatu yang bernama sahabat adalah hal terlangka, maka ketika menemukannya harus dijaga baik-baik dan cinta adalah hak setiap orang, maka keberadaannya harus dihargai.

Ini cerita patah hatiku, mana patah hatimu?



No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi