Sunday, May 1, 2016

Dia dan Kereta Anjlok

"Mas, mau ke manggarai?" tawar gue pada lelaki itu yang duduk termenung dan sedari tadi melirik ke arahku
"bukan, mau ke bekasi" jawabnya dengan senyumnya
"tapi harus ke manggarai dulu kan?" sahut gue kemudian
"iya, deket gak ya?"
"mau jalan atau naik bajaj"
"dilihat dari gps, jalan butuh waktu 50 menit"
"kalo naik bajaj mau share cost?" dia ngangguk dan berangkatlah kami. 

Hari ini memang bukan hari keberuntunganku, padahal sudah berusaha pulang lebih awal tapi malah terhambat di perjalanan pulang.
Lalu lintas kereta yang tadi pagi baik-baik saja tiba-tiba gangguan karena ada kereta anjlok di Manggarai, padahal sebentar lagi jam sibuk kereta tapi malah ada saja yang begini. Aku mencoba sabar dan menanti sebentar, memiliki harapan situasi kembali normal dan kereta yang akan mengantarku pulang membawaku tepat waktu ke rumah. Aku termangu sedih saat mendengar seseorang bercakap-cakap dengan Walka didepan gerbong kereta.

"Ada kereta anjlok di Manggarai, jadi dari Bekasi atau Bogor hanya terhenti di Manggarai lalu kembali lagi. Tidak bisa ke arah Jakarta Kota, saya sendiri tidak tahu kapan benarnya".
Yang benar saja, ketemu mentari saat pulang kerumah bagai mimpi. Untuk mendapatkan kepastian lebih jelas aku pun bertanya lagi pada petugas lalu duduk, lama kududuk hingga lelaki yang sedari tadi disebelahku, berdiri menghampiri petugas yang dengan sabar menjawab pertanyaan penumpang. Tak lama lelaki itu kembali duduk disebelahku, menghela nafas panjang. Aku menatapnya kurasakan aura yang sama. Aura kebingungan.

Terjadilah percakapan dan kami akhirnya memutuskan untuk naik bajaj dengan share cost. Berbicara panjang lebar hanya untuk melepas penat, hanya untuk melepas peluh lelah menunggu.

Lelaki itu, iya lelaki dengan senyum menawan itu namanya sungguh membuatku beruntung. Awalnya dia menyodorkan tangan itu, menawarkan pertemanan, bukan lebih dari apapun hanya sekedar berbasa basi agar tidak basi.

"Namaku setia" dan aku terperanjat, dalam hati kukatakan aku juga setia.
"Ayu" ku menjawab singkat, bukankah setia itu cantik atau cantik itu setia?
Kita banyak berbincang, bercanda dan saling tersenyum.
Dia anak sukabumi yang ke Jakarta hanya untuk pelatihan selama 2 hari, rumahnya jauh di Medan. Kukatakan bahwa aku pernah ke daerah sukabumi dan kami makin larut dalam perbincangan.

Entah apa yang kudoakan, hingga jarak tempuh Manggarai yang biasanya 45 menit menjadi 90 menit.
Kami banyak bertukar kata, bertukar pikiran dan canda hingga lelah tiada tersisa.
Sampai pada akhirnya kulihat kemilau dari jemari manisnya, begitu semarak dirinya dan kemilau itu bagaikan paduan yang pas.
Aku memperhatikan sedikit, banyak mencuri pandang.
Benar, kemilau itu ada di jari manisnya.
Melingkar dengan sempurna, tunduk pada tuannya.
Aku memalingkan wajah lalu menatap langit, ketika kami sampai di tempat tujuan kami masih bertukar kata, sedikit kusembunyikan rasa itu.
Sebelum kereta berjalan kuputuskan berhenti bersamanya. Sebelum ini terlambat, sebelum segalanya makin jauh dan menjauh.

Dia berdiri didepan pintu, aku berdiri ditepian garis kuning.
Kami saling menatap, dia menatapku mengisyaratkan "ada apa"
Aku berjalan mundur perlahan tapi pasti, semua orang masih berusaha masuk, berusaha untuk mengambil tempat.
Aku tersenyum padanya lalu membalik badan kulihat sekilas ia membalas senyum itu.

Aku menunggu kereta selanjutnya, memalingkan wajah lalu menatap sepinya langit ditengah hingar bingar orang.
"Aku bersyukur bahwa aku masih bisa merasakan bagaimana rasa pada kali pertama lihat"

3 comments:

  1. Kenapa gak dimintai nomor kontaknya dia kak ? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. walah, ini namanya sebelum janur kuning melengkung pasrah yak haha

      Delete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

  • Etika Profesi Akuntansi