Monday, April 25, 2016

Untuk Hati Yang Hilang

Hari begitu terik dan aku termangu pada teriknya mentari,
Tidak ada angin hanya ada rasa gerah menyelimuti badan.
Tapi kamu disana dengan senyummu.
Kamu dengan semangatmu, memberikan rasa pada setiap orang yang berada didekatmu.
Kamu dan auramu, tidak melirikku. Asik bercanda dengan teman-temanmu.
Aku termangu, sebentar menatap langit.. sebentar menatapmu. Dan aku tau perhatianku telah teralih pada dirimu.

Aku mencoba berbicara padamu meski kicau burung bersaing, aku mencoba mendekatimu meski teduh pohon lebih menggoda.
Aku mencoba dan terus mencoba, kamu tidak menjauh, kamu tidak merengut perbuatanku padamu.
Aku tersenyum kamu tersenyum, aku tertawa kamu tertawa, aku terdiam kamu diam, dan aku tau kita telah satu langkah.


Kaki kita telah beriringan dan kamu tidak keberatan. Kamu mengiringi langkahku, menuntunku pada hati yang merindu akan hati yang lain. Kita bersama dengan status yang sama, dengan rasa yang sama, dan bahagia yang sama.

Nada-nada terjalin begitu elok, hari yang lewat bagai rasa yang tercerap. Aku menikmati kebersamaanku denganmu meski ada hari-hari tak seindah mentari tenggelam.
Kadang awan gelap itu menyelimuti kita, berselubung rasa yang tidak manis. Membuat kita saling melepehkan apa yang kita cecap.
Kadang awan itu bertambah gelap dan kita merasa berada diujung jalan.
Aku menangis kamu menangis, hati kita tersakiti.
Tembok besar serasa menghalangi jalan kita berdua.
Aku menolak kamu menerima, rasa sakit itu lebih besar.

Aku mencoba berjalan dan tidak menengok ke belakang, namun apa dayaku.
Hilang egoku besar rasaku,
Aku selalu menengok ke belakang atas langkah majuku dan kulihat kamu disana.
Ketika awan itu menggantung dan hujan berderai tanpa henti, aku diam di tempat.
Memandang jauh kearahmu, menunggumu.. berlari ke arahku.
Memandang jauh ke arahmu, menantimu.. menyapa kembali hatiku.

Aku habis dilanda hujan, aku habis diterpa angin dan kamu tidak juga datang padaku.
Tangismu terdengar ke tempatku, namun kamu tidak menghampiriku.
Bagai tersayat sebilah pisau, kamu menyakiti dengan isak tangismu.
Aku tiada berdaya tubuhku tidak bergerak, ingin kupeluk erat dirimu namun tidak bisa.

Ingin aku berkata, "Sayang, semuanya baik-baik saja. Aku akan selalu ada disampingmu"
Namun kamu tidak kunjung mendengarku, aku kalah oleh isak tangismu.
Hingga akhirnya kamu berhenti menangis, datang ke padaku dan sekejap awan yang menggantung itu berarak meninggalkanku.
Ada rasa bahagia yang menyembul begitu hebat namun tersisa ganjalan yang mantap, membuatku sesak hingga sulit berdiri.

Hari yang berlalu pun kamu anggap biasa, tidak berarti.
Ya, kita berpisah kembali dengan keyakinan yang berbeda dengan persepsi yang saling kita bawa dan pendapat yang kita percayai.
Kita menderita dalam satu kenyataan, kita menderita dalam satu jeritan.

Pernah bertemu namun percuma, rasa yang tertuang hanya menjadi tegukan bagi hati yang lara. Kita hanya saling merengguk kesalahan masing-masing menjadikan gelas kenangan penuh dengan alasan untuk saling melupakan.
Kita kembali berjalan, berbeda arah. Rasa sentimen tertinggal, rasa sayang tersembunyi siap untuk meledak kapan saja.
Bahkan hatiku telah sulit kukendalikan.
Senyum palsu yang kukeluarkan tidak mengobati apapun, waktu yang habis tidak mengubah apapun, doa yang kulantunkan tidak berarti apa-apa.
Aku bagaikan tubuh berisi angin, melambai tanpa arah dan siap menangis kapanpun.
Aku ingin menangis, berteriak kencang hingga keluar jiwa-jiwa yang sedih.
Ingin kubuang segala rasa meski rasa itulah yang menjadikanku hidup.
Ingin kubuang segala kenangan meski itu membuatku berarti.
Aku ingin melupakannya meski rasa sakit ini menusuk tepat dijantungku.
Aku ingin melupakannya meski sulit bagiku melepas kenangannya.

Aku ingin berhenti. Hingga nafasku habis. Hingga hilang visiku padamu. Hingga aku bisa menemukan yang baru.
Usahamu untuk membuatku menjauh,
Upayamu untuk membuatku muak padamu.
Itu tidak berarti apa-apa, karena aku hanya akan melupakanmu pelan-pelan.
Sepelan keong beracun yang membalur hati ini dengan racunnya.
Aku hanya akan berjalan perlahan, hingga kamu tidak akan sadar aku sudah berhasil menggantimu dengan yang lain, hingga kamu tau bahwa seutuhnya aku telah belajar dari kenangan yang kita jalin berdua.
Mustahil bagiku menghapus apa yang telah terjadi, menghapus kamu dari sejarahku, menghapus kenangan yang telah tertoreh. Tapi tidak bagi hati. Hatiku akan berjuang untuk sendiri lalu mencari.
Aku telah siap dan inilah tekadku atas upayamu, atas usahamu untuk membuatku melupakanmu.

Untuk hati yang hilang dari kotak kenangan.

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi