Monday, April 25, 2016

SURAT TERBUKA UNTUK YOANA Y.

Kepada,
Yoana Y.
Di manapun berada.

    Halo Yoana Y., sahabat seperjalanan selama 4 tahun, dari bertegur sapa sampai akhirnya kini berjalan bersama. Yang meneduhkan teriknya mentari dengan obrolan pagi jenaka.


    Cinta adalah hal lumrah yang dimiliki setiap orang, aku dan kamu tentu saja memiliki cinta itu, karena kodrat sebagai manusia.
Bukan cinta yang datang terlambat tapi pengalamanlah yang belum sempurna. Mungkin kini kamu merasa sangat tidak beruntung dalam kisah percintaan itu. Tak mengapa jangan bermuram durja karena ini adalah proses yang harus kamu lalui.


    Mungkin aku hanyalah segelintir orang yang kebetulan mengenalmu cukup dalam, dari tutur kata yang selalu kamu keluarkan tiap harinya.
Mungkin aku hanyalah orang luar yang hanya bisa memberikanmu pendapat dan tisu untuk melap air mata yang jatuh dari matamu.
Mungkin aku hanyalah sekedar teman pendamping dalam perjalananmu menemukan cinta.

Tapi dengarlah bahwa segala sesuatunya berproses, jatuh cinta memang mudah. Cukup 5 menit, cukup dengan canda tawa renyah, cukup dengan nyambung, semua serba cukup. Tapi ingatlah kawan tidak akan pernah cukup untuk membangun cinta. 

Tersadarkan oleh kalimat kesukaanku akhir-akhir ini "Dimana ada hati disitu ada arti" -Khrisnamurti Words- membangun sebuah relasi antara hati dan arti. Bila hatimu telah memilih dan terbalas maka hatimu akan menjadi berarti.
Sekarang ini mungkin cinta membuatmu berputus asa, membuatmu jenuh akan keadaan yang tidak kunjung bisa kamu ubah, bosan dengan pergerakan yang lambat. Ego yang bermain membuatmu maju mundur, susah bergerak, pikiranmu hanya tentang dia dan ada apa dengan dia.

Tak apa kawan, itu yang mau kuucapkan padamu. Segalanya berproses.
Cinta memang manis, tapi proses sesakit apapun itu berdoalah akan ada hasil yang manis.

Aku tak akan memintamu memilih untuk mundur ataupun maju, ini hakmu karena ini hatimu. Aku hanya meminta kawanku tidak pernah menyakiti dirinya. Aku tidak akan membiarkan kawanku jatuh terduduk lalu tenggelam bersama nafas yang koma, aku akan membuatmu bangun dan menarikmu untuk sadar.

Mungkin sebagai sahabat aku tidak seperti benalu selalu ada disisimu, tapi ingatlah kawan nomorku tidak akan berganti. Aku selalu ada dialamat yang sama.

Kutuliskan surat ini untuk menyadarkan betapa berharganya hati dan dirimu, tidaklah elok kau sakiti hatimu hanya demi tunas yang belum tumbuh. Tidaklah elok kamu sakiti dirimu hanya untuk melihat sejauh mana dia memperjuangkanmu.

Maka kawan, selain sebagai surat terbuka kutuliskan pula sebagai surat tantangan. Aku menantangmu sahabat untuk meneruskan blog dan tulisanmu. Curhatlah lewat tulisan, agar rasa yang masih tersembunyi didalam dirimu terkuak seutuhnya.

Aku dan peduliku,
Untuk Sahabat kesayangan yang dilanda hilang cinta.

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi