Monday, April 25, 2016

Hiatus Berpacaran

Buang sial?
Okeh, ini agak buat merinding disko ya.
Tapi bener dijaman sekarang ini masih banyak aja yang ngelakuin ritual buang sial, meskipun kepercayaan terhadap Tuhan sama tingginya dengan suatu hari "gue bakal nikah" tapi kepercayaan-kepercayaan yang kata orang musyrik ini tetep dilakuin, gue pun salah satu pelakunya.

Apakah yang gue lakuin untuk buang sial itu?
Apa gue buang semua baju mantan biar gak kekenang dia lagi?
Apa gue bakar semua barang pemberian mantan biar dia menjauh dan mengharapkan dia kepanasan?
Apa gue bikin boneka voodoo lalu tusuk-tusuk dia pake jarum?
Oke, selain terlalu baper lama-lama gue persis maniak mantan.


Yang gue lakuin adalah potong rambut, apa? potong rambut? perlu gue ulang lagi gak, macem di sinetron-sinetron sambil kamera zoom in zoom out berparade persis kayak kameramen ababil.
Sebenernya banyak banget yang bisa dilakuin buat buang sial, tapi gue ngerasa ini adalah yang paling gampang dan paling disukai banyak orang. Paling gampang karena udah gak keitung jari salon yang gue lewatin ketika pulang gawe jadi gampang banget kan, tinggal pilih dengan lempar kancut mau pilih salon yang mana, disukai banyak orang karena sifatnya praktis.
Nah, mungkin potong sesenti cukup buat mereka tapi gak buat gue. Dengan sadis gue membabat rambut gue gak sampe botak sih tapi cukuplah buat dijambak-jambak. Iya, gue melakukan hal gila ini lagi untuk kedua kalinya.

Dahulu banget waktu gue putus sama mantan kesekian gue memutuskan ngebabat abis rambut, tujuannya simpel biar rasa kehilangan pergi bersama rambut yang gue potong, biar bisa gue move on lagi dan itu adalah tekad gue untuk fokus kuliah dan bermain. Serius kuliah yang gue habiskan bukan cuman semata-mata ngedudukin materi yang ada tapi gue juga mencoba menemukan dunia baru.
Gue serius juga untuk gak ngejalin hubungan hati, bukan karena mantan lama yang bikin baper terus-terusan tapi berguna juga buat refleksi kehidupan (duh bahasa gue).

Nah sekarang ketika gue memutuskan untuk waktunya memikat hati kembali gue pun memotong rambut lagi, dengan harapan kesialan mencari pasangan yang salah dapat berubah menjadi kebaikan.
4 tahun kurang gue rasa waktu yang cukup buat menyendiri, kini saatnya mencari baru.

2012
2016












Mungkin orang bakal bilang kenapa membutuhkan waktu yang begitu lama, tapi gue bilang karena hati yang teguh tidak didirikan hanya dalam semalam. Jadi, ya bisa dikatakan gue memperkuat batin dulu takut tersakiti dan disakiti #QuotesByMarioTeguh.

Yang jelas ketika hati dan hari telah siap, gue melangkahkan kaki dengan tegap dan menyatakan kesiapan untuk menyongsong masa depan.
Terus gue disadarkan pada kenyataan bahwa gue sama sekali gak punya orang yang menunggu gue membuka hati..(lari ke kamar garuk tembok)

Ternyata memang harus mulai dari nol yak haha..

Berbagai cara dilakukan orang-orang untuk bisa move on dari kehidupan percintaan yang lama. Mulai dari cari pacar baru, cari TTM-an sampe buang sial kayak gue.
Dulu gue sempet begitu, putus cari lagi putus cari lagi. Tapi memang lelah ketika kita terus menerus menemukan yang baru bukan kepuasan yang gue dapet karena merasakan pengalaman yang berbeda tapi justru rasa lelah karena terus menerus menyesuaikan sedangkan penyesuaian membutuhkan kesabaran yang besar.
Wuft lah, hubungan antar manusia itu memang menyenangkan tapi juga agak merepotkan karena kita harus terus-terusan belajar mengenal dan mengenal, tanpa kenal lelah terus mempelajari.

Menurut gue sih kalian sah-sah aja memiliki pacar dan mantan tanpa jeda waktu, juga sah kalo kalian membuat permainan dengan namanya pacaran, sah juga kalo kalian memilih jomblo sampe bau tanah. Yang jelas Tuhan menciptakan berpasang-pasangan dan pilihan apa yang kalian tentukan adalah hak kalian.

Banyak yang berfikir bahwa menemukan orang yang tepat adalah langkah awal menuju kematangan pribadi, tapi ada juga yang berfikiran kalau kita tidak mencoba bagaimana bisa tau.
Maka dari itu mulai dari serius sekali hingga mumet sampai pada orang yang santainya keterlaluan, semua menyikapi masalah kasmaran dengan antusias.

Nah menurut gue hiatus untuk pacaran adalah salah satu hal yang wajib dilalui, selain sebagai refleksi terhadap diri sendiri ini juga menyadarkan seberapa cinta kita sama diri kita sendiri. Inget quote ini?

"Cintailah dirimu sendiri sebelum mencintai orang lain, tapi jangan terlalu mencintai dirimu sendiri seperti kamu mencintai orang lain. Lakukan segalanya seimbang agar cinta itu tetap terjaga"

Gak papa kalo gak tau quote ini, soalnya ini buatan gue sendiri. Hahaha..
Jelas yang gue maksud adalah bagaimana mencintai orang lain sama pentingnya dengan mencintai diri sendiri, ibarat kata kita harus udah mandi dulu sebelum bilang dia wangi kalo udah mandi.

Macem begitu, jeda waktu juga akan membuat kita berfikir kehidupan didepan macem apa yang akan kita lakonin, orientasi pemilihan lelaki pun akan bergeser.
Dari yang tadinya dari tampang turun ke hati, mulai akan berfikir dari hati menjadi janji.. janji nikah #eaak.
Yang pasti mungkin ini adalah pertanyaan refleksi yang mungkin bisa lu pake juga. Ini pertanyaan refleksi dalam tahap hiatus pacaran gue.

1. Siapakah aku ini hingga layak dicintai?
2. Apakah aku layak?
3. Siapa yang hendak aku cari?
4. Yang menuntunku kepada kebahagiaan bersama Tuhan atau kebahagiaan dengan duniawi?
5. Siapkah aku untuk jatuh cinta?
6. Cinta itu apa?
7. Aku ini apa?
8. Hatiku itu apa?
9. Siapa diriku?
10. Aku harus berubah?
11. Untuk siapa aku berubah?
12. Untuk apa aku berubah?
13. Aku harus berubah menjadi apa?
14. Aku harus bagaimana?
15. Apa yang salah denganku?

Semua adalah refleksi jiwa, dan memang butuh waktu panjang ketika gue jawab semua itu. Hingga akhirnya sekarang ini gue siap menjejakkan langkah kedepan.

Yaaa.. sesama jomblo ngenes, coba kita bergandeng tangan berdoa bersama semoga jomblonya gak bikin lumutan wekekekek.. :D





No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi