Tuesday, April 26, 2016

Akulah pengecut itu

"Karena aku hanya akan menunggumu disini. Sampai engkau kembali"
Bukan lagu menyayat hati yang ingin kudengar,
Bukan juga suara indah yang dapat mencairkan hati,
Bukan asa palsu yang ingin kudapatkan,
Bukan pula suara gemerisik dengan canda tawa.

Aku
Hanya
Butuh
Kamu.

Maka kembalilah kemari, kembalilah dalam genggamanku,
Aku yang selalu menantimu,
Dalam kenangan,
Dalam harapan.
Kembalilah, biarkan kupeluk erat dirimu, dengan rasa yang kupertahankan. Dengan nada-nada sumbang cinta yang masih kugenggam erat.

Kuingat pandang pertama kita,
Kamu dengan senyum polosmu, Kuingat bagaimana kamu menjabat erat tanganku ketika kita saling berkenalan.
Kamu tersenyum,
Kamu memberikan bahagiamu padaku.
Aku termangu sendiri, menatapmu, berfikir aku tidak akan pernah mengharapkanmu.

Waktu berlalu
Denting demi denting terlewat
Kamu hadir dalam kerinduanku yang luar biasa
Aku memikirkanmu
Tapi tidak denganmu
Maka aku larut dalam kesendirianku,
mengagumimu
berharap padamu
kamu hanya menganggapku biasa. Nol. Kosong. Tak berarti.

Kesedihan menjalar keseluruh tubuhku, sulit kukendalikan. Menyebar begitu saja, menyatu dalam dagingku, bercampur pada darahku hingga sesak nafasku, hingga air mataku sulit mengalir.
Air mata ini sudah tak bisa kutampung, namun aku tetap saja tidak bisa mengeluarkannya.
Aku ingin menangis sejadinya, tertawa sejadinya, mengatakan aku tidak baik, aku berharap padamu, aku berharap pada perasaan itu, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu.
Dan kamu tetap saja tidak terlihat olehku.
Kutitipkan salam pada bintang,
Kutitipkan rinduku pada langit.
Tidak tersampaikan.
Aku menitikkan air mata, akulah pecundang itu.
Akulah pengecut itu.
Aku hanya menatapnya dari jauh dan mengatakan betapa aku memikirkannya.
Aku tidak berani melangkah lebih jauh bagai burung yang menyongsong belahan jiwanya.
Aku terlalu lemah hingga hilang cintaku.

Aku siap menangis dan kini aku siap dengan cacian akan kelemahan yang aku punya.
Namun ijinkan aku menjadikan tong sampah tempat sembunyiku, hingga tiada orang ingat lagi padaku.
Ingat akan seseorang yang menangis pada cinta yang tak tersampaikan, ingat akan jeritan hati yang tak pernah terungkap.
Biarkan aku dengan kesendirianku dan jangan usik aku.
Biarkan aku dengan air mata ini, yang tak akan pernah hilang dan selalu membekas.
Biarkan aku hidup dalam kehampaan sejenak saja.
Lalu ijinkan aku bangkit bila hatiku yang perih telah terobati.

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi