Monday, March 7, 2016

Opera Dolorosa

Akhirnya gue nonton juga Opera besutan Komunikasi Sosial yang bernaung di bawah KAJ.
Iyak setelah sebelumnya mengeluarkan Opera "Selubung Perempuan" dan "Nada Untuk Asa" dimana sempat difilmkan juga, kali ini gue berhadapan sama Opera dengan judul "Dolorosa".

Kok dua tiket bro? pergi sama cowok loe?

Selaw para pejantan gue masih single kok wekekekek.. anggap aja sekalian buka lapak, haha..
Oke kembali ke topik, kali ini gue nonton bareng salah satu Suster yang ada di biara, beberapa kali ketemu, entah ada angin apa sampe gue diajakin nonton beginian, nah sehubung malam minggu gue sama kayak hari biasa yang artinya gak ada apa-apa, akhirnya pas diajakin ya gue mau aja.


Tanpa baca review dengan jelas gue pun berangkat bareng partner gue yang disembunyikan identitasnya, karena dia gak mau ada paparazzi yang tau #yaelah.

Kebanyakan cingcong loe, ayo buruan mulai keburu numbuh jenggot di panci gue"
Gue pikir ceritanya bakal semenarik tempat yang menjadi pelaksanaan, Ciputra Artpreneur, sebuah tempat yang menurut gue yahud banget -kamar mandirnya, serius kamar mandinya keren banget-.

Bangkunya banyak yg kosong, karena minggu baru acara puncaknya :D
Jadi banyak spoiler, gue ceritakan dengan lugas dan menggelegar bagaimana cerita ini:
Cerita ini gue rasa terinspirasi dari kehidupan nyata bangsa kita sekarang ini, jelasnya ada 3 pemeran utama yang merupakan teman sepermainan, terpisahkan oleh jarak dan waktu, bertemu kembali bagaikan takdir dari sang Ilahi namun dipertemukan dalam keadaan yang sangat diluar harapan.
Adalah namanya sang dokter Siti, sang penggerak komunitas Pekerti Kasih Baidullah, dan sang Romo Dolorosa.
Tirai telah terangkat, perkenalan telah usai, waktunya pemain bermain, menarikan tulisan-tulisan menjadi gerak nyata. Dibuka dengan suara indah Siti, tapi sungguh teriris hati bahwa suara itu tidak dibarengi adegan yang indah. Penindasan, pemukulan, penggusuran demi tanah terjanji yang akan menghasilkan banyak uang.
Siti pulang ke halaman membawa ilmu untuk diamalkan, Baidullah menetap di kampung mendirikan penggerak rakyat keadilan dan Dolorosa datang mengamalkan tugas sebagai Romo.

Cerita ini diceritakan sangat baik dengan pemeran yang gak perlu gue ragukan lagi karena mereka membawakan dengan sangat apik.
Jelasnya ketiga orang ini akhirnya bersatu melawan bupati sang pengkhianat bangsa, mengeruk kekayaan alam hanya untuk perut dan urusan duniawi, melegalkan segala cara agar alam tidak dimiliki masyrakat luas.
Isu demi isu dibawakan melalui gerakan yang menawan, meminta penonton mengerti bahwa keadaan ini yang bagaimanapun telah terjadi harus segera diatasi, dikendalikan. Karena ini adalah hal kritis dibatas kemanusiaan, bila hilang peduli warga, hilang sudah harapan bangsa untuk bangkit kembali dan menjadi baik bagi generasi selanjutnya.
Disamping itu cerita ini juga menyuguhkan konflik dimana bupati yang rakus memiliki hati yang tersayat perih, kehilangan puteri tunggalnya, yaah, meskipun bupati ini jahat rasanya bapak sutradara ingin menegaskan bahwa dibalik kejahatannya ada rasa sepi dan kecewa yang luar biasa, bukan saja perkara anaknya hilang hidupnya pun rasa-rasanya ikut menghilang.

Diakhir cerita bupati jelas ketemu anaknya, yang ternyata menjadi seorang suster, namanya suster Rosa. Nah, Rosa ini menjadi suster karena mencintai Dolorosa yang memilih menjadi imam, maka Rosa memilih menjadi suster agar dapat mencintai Dolorosa.
Ah, gue lupa bilang bagaimana di kebanyakan opera bahwa harus ada cinta, di opera ini pun begitu, romantisme yang nyata-nyata terlukis bagaikan hati tak berumah, memiliki cinta namun tidak dapat menggapai balasannya.
Siti mencintai Dolorosa, Baidullah mencintai Siti, Rosa mencintai Dolorosa dan Dolorosa mencintai Tuhan.
Untunglah Baidullah tidak turut mencintai Dolorosa, karena kalau iya ceritanya pastilah bakalan lain.

Pada akhirnya, Dolorosa dan perjuangannya bersama Baidullah dan Siti untuk menyadarkan bupati dan membuat rakyat bangkit untuk menghentikan perbuatan keji Bupati harus meninggalkan dunia, Siti, Rosa dan Baidullah yang terpukul hanya menyerahkan apapun pada langit.
Opera dengan drama musikal ini sesungguhnya sangat menghibur, entertain-nya lebih dari dapet, tapi sayang Opera berdurasi 2,5 jam ini memiliki beberapa scene yang belum selesai menurut gue :
1. Perjuangan Dolorosa akhirnya akan berlanjut kemana, kepada siapa?
2. Bagaimana nasib Rosa yang hanya menjadi suster demi dekat dengan Dolorosa yang telah meninggal?
3. Bagaimana nasib Siti dan Baidullah?
4. Bagaimana perkembangan Bupati yang khilaf pada tugasnya sebagai seorang pemimpin?
5. Bagaimana akhirnya respon masyrakat yang telah kehilangan penggerak mereka?

Waktu gue bilang final terhadap perjuangan itu salah seorang akhirnya berkata bahwa jelas terlihat, sutradaranya ingin menyatakan perpanjangan tangan perjuangan itu kepada para penonton maka jelaslah film perjuangan yang menitikberatkan pada keadilan itu telah menaruh tanggung jawab untuk terus memperjuangkan ditangan para penonton.
Gue rasa itu cukup masuk akal meski akhirnya hanya beberapa yang terjawab.

Tapi dibalik scene mengganjal dan belum terselesaikan, gue paling suka waktu scene opening dimana Siti menyanyi sangat epik, lalu bagaimana adzan yang dikumandangkan dibaur dengan Ave Maria. Berapa banyak yang bisa gue bilang bahwa itu adalah adegan menyentuh.
Ditengah gejolak agama kiri kanan, rasanya opera ini membawa pesan untuk tetap lurus dan memandang manusia sebagai manusia; ciptaan Tuhan yang satu; memiliki derajat yang sama, bukan manusia sebagai alat yang menjadi perbedaan.

video

Pada akhirnya, kalo mau lebih lengkap mengetahui film ini monggo cecing di yutub, biar sekalian merefleksikan iman pada kaca jendela yang rupanya sudah retak.

5 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Thank you sist, sudah review pementasan kami...
    hm.. boleh sedikit koreksi ya. nama tokohnya Baidullah bukan Baitullah. Baitullah itu di mekkah. :p

    Thank you juga sudah menyaksikan pementasan ketiga kami. Tunggu pementasan kami selanjutnya ya... See you sist..

    ReplyDelete
    Replies
    1. omaigod.. thanks berat atas koreksinya, haha..
      XD
      yaah semoga dapet lagi tiketnya :v

      Delete
  3. aku juga mau dong dapet tiket gratisan buat nonton opera kayak gini, belom pernah nonton opera :(
    Setuju deh, sudah saatnya lebih menghidupkan lagi toleransi sesama manusia, saling menghormati dan menghargai perbedaan dan hidup berdampingan dengan damai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. berdoalah nak, wkwk.. yap.. setuju banget deh sama loe. :D

      Delete

  • Etika Profesi Akuntansi