Thursday, November 12, 2015

Surat untuk hari ayah

Dear Tuhan,

Pertama-tama ijinkan aku menyapa diriMu yang agung dan ciptamu yang mengagungkan hati.
Kedua ijinkan aku menanyakan kabarMu disana.
Ketiga ijinkan aku dengan ketidaksopanan dan kekhilafanku sebagai manusia menitipkan pesan untuk seseorang ditempatMu berada.
Pesan yang sederhana dan sangat mudah diingat, aku tidak memperpanjangnya karena aku ingin Tuhan tidak lupa dan ketika berpapasan dengan seseorang itu bisa langsung teringat padaku dan pesanku.


Pesanku hanya terdiri dari 4 kata, jadi Tuhan tidak perlu khawatir.
Setelah Tuhan mengijinkan diriku menyapa ciptamu lalu menanyakan kabar Tuhan dan menitipkan pesan, maka biarkan aku bercerita sedikit tentang seseorang ini yang kehadirannya bagaikan pelangi di teduhnya sungai yang mengalir.
Aku mengenalnya selama 19 tahun. Sangat lama, hingga detik kebersamaanku menjadi terasa sepele.
Aku berjalan bersamanya,
Aku berlari bersamanya,
Aku jatuh bersamanya,
dan kemudian dia mengulurkan tangan dan membantuku berdiri.
Dalam tangisku ada usapan tangannya,
Dalam dinginnya malam ada dekap hangatnya,
Kadang ketika aku nakal, aku siap ditarik telinganya, aku terkesiap dan menangis, sedetik kemudian dia menarikku dalam pelukannya dan menimangku.
Ketika dia pulang bekerja, aku berlari ke arahnya meminta diantar keliling komplek dengan motornya, dan meski dia lelah dia menyempatkan dirinya bersamaku menikmati awan sore menjelang maghrib.
Aku ingat ketika dia menggendongku di bahunya, lalu memutar badanku, suasana terasa lucu hingga aku tertawa sampai menangis. Dia pintar memainkan piano, kadang mengajakku bermain dan bernyanyi bersama, suaranya bagus dan aku suka sekali melihatnya memimpin paduan suara.

Tuhan yang baik, aku menikmati sekali saat-saat itu, ketika dia memukulku, memelukku dengan erat atau membisikkan kata-kata manis, menyemangatiku dan membelikanku mainan hanya karena rengekanku.
Aku dan keegoisanku.
Sampai ketika aku duduk di kelas 5 sd, dia terbujur lemah di tempat tidur rumah sakit. Aku seperti dibuai nestapa, kebencianku tumbuh dengan bau obat yang merebak.
Aku sudah tidak bisa berlari bersama, aku sudah tidak bisa bercanda dengannya, aku sudah tidak mengerti. Waktu itu aku bertanya pada Tuhan, Tuhan tidak menjawab.
Aku bertanya kembali, Tuhan terdiam,
Aku bertanya untuk kesekian kalinya, Tuhan hanya memintaku untuk menggenggam tangannya.
Aku erat menggenggam tangan Tuhan, sampai kadang Tuhan terasa sakit karena genggamanku terlalu erat.
Tuhan tidak mengeluh, tapi selalu mendengarkan keluhanku.
Semakin erat kugenggam tangan ini, semakin aku sadar bahwa yang orang lain miliki aku tidak punya, bahwa yang hadir saat pengambilan rapot hanya kakakku dan tak lama aku sendiri.
Menunggu diluar kelas sampai semua teman-temanku mengambil rapotnya.
Waktu berlalu, tidak terasa aku menghamburkannya bagai bintang dilangit. Cahayanya masih tetap terkenang meski bintangnya telah mati seribu tahun sebelumnya.
Dia meninggalkanku tanpa tetesan air mata, aku memandangnya kesal. Dia meninggalkanku disaat aku ingin memeluknya, ingin mengucap banyak hal, dia meninggalkan jejak-jejak kerinduanku yang membuatku pergi mencari awan sore untuk kupandang dan mengenang dirinya.

Itu ceritaku Tuhan, tentang seseorang yang hadir dalam nyataku dan kini hatiku. Terkenang tak akan terlupa sebagai seseorang yang amat kubanggakan. Bahwa kehadirannya adalah anugerah bagiku, bahwa yang kini aku miliki adalah pengorbanan yang dia lakukan untukku.
Meski aku tidak bisa memeluknya kini, aku amat beruntung pernah memilikinya.
Jadi inilah pesanku untuk seseorang yang kini ada di ruang dan waktu yang sama denganmu Tuhan.

"Selamat hari ayah, ayah."

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi