Saturday, October 31, 2015

"Yang Penting Nulis"

Kebanyakan orang yang bertitel blogger biasanya akan terusik bila mendengar hal-hal seperti ini :

"Pedekate aja gencar, kapan gencar nulisnya?"

"Blog apa rumah berhantu, yang gentayangan banyak, kontennya gak nambah"

"Blog atau rumah spiderman, sarangnya banyak bener"


Blog itu ibarat rumah pertama bagi orang bertitel blogger dimana mereka menuangkan isi otak mereka. Bagi sebagian blogger malah lebih condong curhat ke dalam blog daripada orang nyata yang menurut mereka mungkin kurang sepaham sama bahasa mereka.

Tapi selama gue sendiri ngeblog dan ngasih merk blogger gue malah mengalami satu kebakaran yang nimbulin asap kemana-mana, yaitu :
 "Yang penting nulis"
Awalnya gue sendiri megang pedoman ini, karena blog personal yang juga rumah gue adalah murni milik gue. Namanya juga rumah sendiri mau gue apain ya suka-suka gue. Tapi gue salah, gue terlalu egois sama blog gue, gue gak ngertiin perasaan blog gue sendiri, untung aja blog gue adalah tipikal pasangan setia, gak ngeluh atau balik caci maki karena kalau blog gue begitu mungkin gue yang bakal ninggalin dia, terima kasih blog.

Permasalahannya adalah sebagai blogger dan empunya rumah atau pacar atau apalah itu terserah kalian menyebut blog sebagai apa, mau tidak mau adalah milik umum juga, dan yang berbau umum harus bayar (oke itu WC Umum).
Pedoman "yang penting nulis" pun menimbulkan asap kemana-mana, salah banyaknya adalah :
Nulisnya buru-buru kayak dikejar kamtib, sialnya gak punya materi tapi dipaksain punya. Ibarat jomblo akhirnya punya pasangan khayalan. Membayangkan semampunya dan kadang melebihi ekspektasi. Bahayanya tulisan kita bisa aja gak sinkron dengan apa yang kita pikirkan dan maksudkan.
Beda lagi sama satu ini, saking meluapnya materi dalam kepala yang kecil sampe bingung dan akhirnya nulis buru-buru apa yang terlintas dalam kepala hasilnya bisa dipastikan dengan yang gak punya materi. Maksud dan tujuan belum tentu sampai ke pembaca.
Yang menganggap blog sebagai rumah, berarti menempatkan tulisan sebagai perabotan yang mengisi rumah tersebut. Kita emang berhak menaruh apa aja dalam rumah tersebut tapi "apa aja" yang kita taruh inilah yang akan mempengaruhi rumah kita secara keseluruhan. Pepatahnya gara-gara lirikan mata jadi selingkuh.
 4. Copy Paste 

Gue rasa menurut kode etik blogger urusan copy paste adalah hal paling laknat di dunia blogger. Kalau kita aja merasa stuck untuk menulis berarti ada kesadaran bahwa ide sekecil apapun mahal harganya dan bagaimana sepelenya artikel itu harus ada apresiasinya. 
 5. Tidak Runut
Karena buru-buru, baik memiliki materi ataupun tidak memiliki materi lalu mencopy tulisan orang. Maka yang terjadi adalah ketidak-runutan dari sebuah peristiwa. Kenyataannya pembaca perlu juga mengetahui kisah dari A-B-C-D tanpa melompati dan terasa janggal. Beberapa tulisan gue sendiri masih banyak yang gak runut sehingga menimbulkan pertanyaan pengunjung yang ngebuat gue berfikir "lah salah banget ini tulisan gue".

 Menurut gue menulis adalah refleksi jiwa dan cerminan pikiran. Ya mau kita nulis mengenai politik yang mendasari peraturan tidak berpihak pada siapapun, tapi gaya tulisan mau tidak mau akan berbaur pada pemahaman pribadi.

Super? Super sekali saudara-saudara..

Maka sebelum menulis gue juga masih belajar adalah :
 1. Rileks
Menuangkan ide secepatnya memang penting, tapi paling penting adalah tenang dulu, rileks. Tata apa yang mau kita tulis, tata apa yang mau kita kasih ke orang lain biar maksud dan tujuannya gak ngambang. Jika ketika menulis kita merasa jenuh coba pandang langit, siapa tau kalian ingat gue karena langit yang kita pandang sama #eaa

Rileks ini ibarat brainstroming bedanya kita udah punya ide sebesar bima sakti tapi harus diciutin sebesar bola dunia agar pemahaman pembaca langsung kena.
2. Cari Sumber
Tergantung apa ide kita, kalau memang itu berdasarkan pengalaman dan pikiran coba dalami lagi, selami lagi ide itu. Tapi bila ide itu yang bukan pengalaman cari sumber yang berkaitan dengan ide itu sehingga bukan cuman wawasan kita yang bertambah tapi juga kacamata kita bertambah.
3. Nulis kok ribet amat
Daritadi gue ngetik sampe berbusa mungkin dari kalian ada yang bilang "Oh, paham gue maksud loe" atau malah ada yang bersifat skeptis "yaelah, nulis tinggal nulis".
Menulis adalah berbagi, dengan mempublish berarti siap untuk memberitahu dunia tentang isi kepala kita.
Bagaimana bila kenyataannya apa yang kita pikirkan, dengan apa yang kita tulis dan pesan yang ingin disampaikan tidak berjalan beriringan?

Ilmu menulis bukan cuman gue paham jadi jago, gue ngerti jadi pinter, yang punya artikel ribuan aja masih sering tekor dalam ide. Bisa karena biasa berarti dengan seringnya kita menulis kita jadi terlatih untuk lebih runut, untuk lebih logis dalam menulis.
Dalam blog ini mungkin kalian akan banyak menemukan hal-hal salah yang tercantum. Karena yaa akhirnya gue sadar blog gue gak bisa diginiin terus. Oke ini efek menulis di malam minggu.

Akhir kata. Mari kita bermalam minggu sambil memeluk motherboard yang sudah hampir hilang tulisannya.



Sumber gambar :
http://trixmen.heck.in/7-hal-lucu-yang-menyebabkan-kamu-batal-p.xhtml
http://www.republika.co.id/berita/trendtek/gadget/12/07/30/m7xmse-tips-bikin-android-lari-lebih-kencang-2 
http://www.marketingcosmo.com/2014/06/tips-dan-trik-ketika-omset-bisnis-anda-sudah-mulai-menurun/ 
http://www.marketingcosmo.com/2014/06/tips-dan-trik-ketika-omset-bisnis-anda-sudah-mulai-menurun/ 
http://www.keepcalm-o-matic.co.uk/p/keep-kalem-and-say-rileks/ 
https://id.wikipedia.org/wiki/Sumur 
https://ekojuli.wordpress.com/2013/08/14/cerita-tentang-berbagi/ 
http://riaz18.blogspot.co.id/2015/04/cara-menghadapi-malam-minggu.html

18 comments:

  1. Awalnya emang gitu sih. "Yang penting nulis". Lalu konsisten. Kalau udah konsisten, mulai deh tingkatin kualitas tulisan kita. Mulai dari EYD-nya, kontennya, dan- lain-lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah, jadi "yang penting nulis" itu adalah sifat yang memang harus ditumbuhkan untuk pencapaian berikutnya

      Delete
  2. Memang untuk konsisten buat nulis itu butuh kesadaran dari diri sendiri gan :(
    Nice post, sangat membantu gan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama gan,
      menurut gue sih bukan cman kesadaran, karena nyatanya gue sadar dan masih sering stuck haha

      Delete
  3. heran gw,masih aja blogger jaman sekarang yang suka copy paste,gak tau apa nulis itu pake otak juga,dan juga butuh inspirasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah pinter, lebih parah lagi kalo copasnya se-blog2nya T,T

      Delete
  4. gue termasuk tipe orang 'yang penting nulis'. Yah.. intinya yang penting gue nulis, nulis apa aja yang ada diotak gue waktu itu. Tulisan ancur ato gak nyambung bodo amat. Untungnya di blog ada fitur draft. Mulis bisa lanjut kapan aja kalo mood lagi, bisa edit kapan-kapan. hasilnya? Blog gue kebanyakan draft daripada yang publish wkwkwkwkkw XDDDD

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaa, wah yang ini sih penulis draft namanya.
      sebetulnya "yang penting nulis" ini penyakit yang gue alami dulu, sekarang aja agak mikir.

      Delete
  5. Aku punya banyak hal yang mau ditulis sampai pusing sendiri kadang isi konten jadi nyampur nyampur. Yah.. Manusia. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. berarti pembaca dan pengikut loe adalah mahkluk jenius men, karena konten nyampur masih banyak yang komen, haha.. :P

      Delete
  6. stagah!! si Aiiu -_-
    aku masih blogger kok, aku masih suka nulis blog. beneran deh. walau isinya gitu-gitu aja. yang penting nulis kan. Ahahaha :v :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk.. sepertinya memang "yang penting" nulis itu adalah langkah awal untuk mencapai konsistensi menulis

      Delete
  7. jadi keinget kata - kata Tere Liye, jadi ada seorang penonton nanya sama Tere Liye, " Bang, gimana sih supaya pinter nulis ", trus Tere Liye jawab " Sama kayak kita masak, kalo kita nanya ibu - ibu kok bisa pinter masak, mereka pasti bilang ' ya masak, masak aja ', begitu juga nulis, ya tulis - tulis aja ".

    ReplyDelete
    Replies
    1. pada akhirnya ibu-ibu itu pun akan pandai memasak, karena selain dia masak dia juga belajar 'bagaimana memasak untuk orang lain'

      Delete
  8. Hmmm jadi asal nulis tapi gak boleh ngasal ya? INI APAAAN GUE YA?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepertinya adi lelah, monggo makan dulu yang gak bisa dimakan..

      Delete
  9. Setuju banget nih sama tulisan ini. Aku pribadi kadang suka sensi sama sindiran yang intinya blog jarang diupdate (karena aku emang jarang update hahaha). Gak penting juga sih sensi sama sindiran gituan... tapi mau gimana lagi, hati udah keburu sensi dulu haha...

    Aku pribadi bukan penulis yang cepet. Meski cuma nulis 1 tulisan aja, butuh waktu berjam-jam buat nulis plus edit sebelum akhirnya klik publish. Kadang sampai berhari-hari, kadang juga tulisan itu gak jadi dipublish karena gak sreg. Kayak yang kamu bilang, mempublish sesuatu berarti mengizinkan orang lain tahu apa isi kepala kita. Lha kalau isi kepala kita acak adut? Apa kata duniaa? :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk, kayaknya emang semua yang blog harus tersindir dengan kata-kata itu.
      Yap, pada akhirnya dari yang awalnya penting nulis jadi lebih perhatiin kualitas tulisan itu sendiri.

      Delete

  • Etika Profesi Akuntansi