Sunday, October 4, 2015

Cuman Nilai

Hal yang gue pahami sekarang-sekarang ini adalah begini :

Ketika kita kecil, anggaplah sekolah dasar, kita akan merasa malu bila nilai kita jelek, bila nilai kita lebih rendah daripada orang lain dan terpaksa masuk ke dalam jajaran mahkluk-mahkluk mistis yang akrab dengan remedial.

Penanaman akan nilai bagus pertanda pintar (tapi belum paham) sudah menjadi bakat alami gue. Jadi tolak ukurnya adalah kita apal dan kita bisa dapet nilai bagus, lain halnya dengan prinsip jika kita mengerti bagaimana cara kerjanya maka akan dengan mudah kita meramu hasilnya.
Macem matematika, dimana bila kita ngerti cara itungan yang bener dikasih soal yang ada gambar Aderai aja kita masih sanggup mengerjakan,
Macem sejarah yang ekstrim, dimana bila kita ngerti bahwa kita adalah bagian dari sejarah itu dikasih soal yang ada gambar nenek moyang aja kita masih sanggup buat mengerjakan.
Tapi gak gitu, semuanya gak gitu karena kita udah merasa ada kesalahpahaman dalam menilai bagaimana sekolah diciptakan.
Sebenernya sampe sekarang anggepan gue adalah sekolah tercipta supaya gak mubazir transfer ilmu dari satu anak doang tapi rata ke semua anak. Jadi yaa anak-anak yang mau belajar dan punya uang dikumpulkan di satu tempat, diajarkan membaca dan belajar beragam hal yang bagi sebagian anak adalah hal paling sia-sia yang mereka pelajari bukan sebagai bagian dari pembentukan karakter dan ilmu yang harus diturunkan.

Belajar sepinter-pinternya biar bisa jadi pengusaha sukses atau paling banter kerja di perusahaan high class dengan gaji setinggi lantai dua belas (mentok dan udah gak bisa berkembang) punya anak dan pasangan, ngempanin mereka dan hidup bahagia. Angan-angannya sih begitu, dan intinya sih punya sesuatu yang menghasilkan dan bisa menjamin kehidupan selanjutnya terlaksana.

Tapi ya belakangan gue beranggapan bahwa nilai bagus itu bukan apa-apa dibandingkan dengan cara mereka mengerti dan paham sesuatu dari sudut pandang yang mereka bentuk melalui beragam proses belajar dikelas lalu penerapan mereka di luar kelas.

Ribet?

Gue juga tadinya puyeng 7 burung tapi pas gue keluar dari zona nyaman gue sebagai mahasiswa yang umpan pancingannya masih ngemis, gue mendapati bahwa para user akan mengajukan pertanyaan ini :
“Apa yang bisa kamu lakukan untuk perusahaan kami?”
“Apa kontribusimu terhadap perusahaan kami?”
“Apa yang membuatmu berfikir bisa bekerja diperusahaan kami?”
“Apa yang membuat rambutmu keliatan kinclong?” *lalu gue kibas rambut*
Yang mereka tekankan bukanlah berapa ipk loe, seberapa banyak sertifikat seminar yang telah loe ikutin, seberapa sering loe ikut kompetisi dan sesering apa loe menang.

Mereka gak tanya itu,
Mereka cuman tanya kontribusi loe buat perusahaan apa.
Dan yang terutama bahwa hal-hal eksternal macem IPK loe, sertifikat dan kejuaraan-kejuaraan yang sering loe ikuti merupakan keyakinan mereka bahwa loe memiliki mental juara, rasa bersaing yang kuat dan tentunya pekerja yang handal.
Kompetisi aja loe menang apalagi berkompetisi dalam pekerjaan yang akan loe lakonin.

Tapi gak semuanya begitu, meski loe sering juara ternyata ketika hinggap di dunia kerja yang maenannya sikut, loe malah terjebak ke bawah dan gak berani naek. Loe malah tenggelam dalam keputusasaan dan mental juara loe dilembekin macem rempeyek gagal.
Kacau banget lah..

 Jadi ya, dunia ini bukan seberapa besar IPK loe dan loe pamer ke sana kemari di dunia social media. Bukan gimana nilai-nilai bagus loe tertoreh di ijazah loe kelak. It’s just value.
"Nilai yang sebenarnya adalah yang tertanam dalam diri loe."

Loe punya apa, Loe bisa apa, dengan semua ilmu itu Loe jadi apa.
Bukan cuman karena loe pernah terus jadi bisa. Gak gitu men, Bang Einstein harus 99x gagal dan loe gak bisa 1x bisa lalu jadi professional.

IPK memenuhi kualifikasi artinya loe punya ilmu minimal setingkat perkuliahan,
Sisanya adalah bagaimana loe mengolah nilai menjadi nilai kehidupan yang loe emban.
Bahkan Pak Haji pun kalau duduk di kursi DPR bisa berubah jadi satria berkuda.

2 comments:

  1. bener sob, gak ada yang nanya nilai ipk, yang semangat..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk yaa sebagai motivasi jadikan IPK mu sebagai hasil murni bukan hasil nyontek kanan kiri XD

      Delete

  • Etika Profesi Akuntansi