Saturday, September 19, 2015

Pertukaran dengan Tuhan

Rasanya gak munafik kalo kita sebagai manusia menginginkan sesuatu dibalik yang kita perbuat.
Ya gak sih? 
atau enggak?

Hari ini gue terhenyak oleh perkataan seseorang. Dia mengatakan gue sok manis, jujur semua cewek seneng disanjung. Gue juga seneng disanjung, itu sebagai apresiasi mereka terhadap jerih payah gue untuk memantaskan diri dihadapan mereka, yang sangat cuek dengan penampilan dan berusaha mati-matian untuk tampil layak.

Kenapa gue sok kalau gue emang manis? #abaikan

Ya gue tanya kenapa, dia dengan memandang atas bawah, bawah atas lalu ke mata gue dan mata kita saling bertemu kemudian terdengar lagu Ada Cinta.

"Karena loe selalu tersenyum sok ceria ke semua orang dan itu menyebalkan, apalagi ke lelaki"

Pas dia selesai mengatakan itu rasanya gue mau langsung ciee-in karena akhirnya ada yang menyatakan kecemburuannya terhadap ciptaan Tuhan satu ini. Gue harusnya mengapresiasinya dengan menghidangkan semangkok bakso beserta tukang bakso padanya.

Jujur, pandangan orang ke gue ketika naik kereta atau berada ditempat umum ngebuat gue gak nyaman. Sebelumnya gue yang make celana jeans belel, kaos kedodoran, jaket bulukan dengan gaya sok masang headset padahal gak ada lagunya dan orang cuman mandang gue pake ujung matanya ngebuat kehidupan gue nyaman dan selalu merasa terlindungi, gue yang gak suka pandangan menilai atau menghakimi, yang kikuk sama cowok dan gak mengerti harus digimanain itu cowok.
 
Paling kikuk lagi sama cowok penggombal karena mereka ngebuat gue pengen terjun ke lantai delapan saking gak ngertinya mau hadepin macem apa dan rasa ketidakpercayaan bahwa mereka punya kebenaran yang pantas. Tapi begitu memasuki dunia kerja dan ada tuntutan secara alami untuk memantaskan diri (ini juga tuntutan orang tua untuk membuat diri lebih sedap dipandang). Gue mulai merasa gak nyaman, meski gue selalu masuk ke gerbong cewek dan mendapati ada aja cewek yang mandang gue atas bawah, bawah atas dengan detail gue merasa gak nyaman dengan tatapan itu, ketika tatapan kami bertemu dia juga cuman mandangin gue dengan lebih aneh. Njir Freak banget, rasanya pengen buka paksa pintu KRL terus langsung terjun.

Nah lalu apa hubungannya sama omongan cewek yang negor gue itu. Hubungannya adalah, gue bergerak sesuai dengan apa yang gue kenakan, masalahnya gak mungkin bertindak macho disaat loe pake rok, bisa-bisa rok loe disingkap terus dilihat itu burung atau bebek. Kacau kan kalau udah begitu. Permasalahan berikutnya loe gak bisa bertindak feminisme sementara loe pake jeans belel dengan baju kedodoran dan bau ketek. Intinya sih kepribadian gue terpecah kecuali satu, hal gila yang emang udah jadi tulang buat kehidupan gue. 
Berhubung gue percaya bahwa karma sama kayak pacar yang posesif, ngintilin kemanapun kita jalan, ngintipin kemanapun kita pergi, maka gue dengan otak gue yang gak lebih gede daripada jempol yang kerjanya cuman ngetik menyimpulkan bahwa apa yang orang perbuat terhadap kita adalah cermin dari apa yang kita perbuat terhadap orang lain.

Karena Tuhan adil dan gue gak adil, 
Karena Tuhan seimbang dan gue obesitas, 
Karena Tuhan seneng yang pas dan gue seneng yang kurang, 
Karena Tuhan sukanya bengbeng dibekuin dan gue seneng dimakan langsung, 
Maka, gue dan Tuhan gak bisa bersatu karena cara makan bengbeng kita yang beda *FIX BUBAR*

Oke bukan itu, maksud gue adalah bahwa bukan hanya campur tangan Tuhan atas apa yang kita alami sekarang, tapi atas apa yang kita perbuat dimasa lalu dan menjadi cerminan agar kita sadar bahwa sesama citra Tuhan tidak boleh ada perbedaan yang membeda-bedakan.

Lihat saja sapi dan kambing meskipun mereka berbeda, mereka tetap akur sampai idul adha, bahkan mereka mengadakan selebrasi saat idul adha atas pertemanan mereka yang terjalin selama LDSB (Latihan Dasar Siap Berkurban).

Nah, dengan landasan teori yang tercipta dari kepala sendiri dan pengalaman hidup yang gak lebih hot dari paha Beyonce yang masih kenceng, akhirnya gue mengadakan perjanjian dengan diri sendiri untuk memperlakukan semua orang dengan sebaik-baiknya, memperlakukan orang sebagaimana diri sendiri ingin dihargain, memperlakukan semua orang sebagaimana diri sendiri ingin disanjung, dihormati tapi bukan dirasakan karena bukan muhrim.

Tuhan sih emang adil tapi seringnya kasih lebih #ciyee
Jadi gue berfikiran kalau gue minta dengan sopan tanpa menyinggung hati mereka maka gue berharap bahwa orang-orang itu akan meminta sesuatu dengan sopan sama gue.
Jadi ya gue berfikiran kalau gue berbuat baik maka Tuhan gak akan segen memberikan apa yang belum gue pinta dan ternyata butuh banget. 
Jadi ya perbuatan baik gue itu istilahnya buat pertukaran dengan Tuhan, mengadakan perjanjian dengan Tuhan bahwa bila gue berbuat baik maka Tuhan dengan baik akan memberikan gue kesadaran bahwa yang diberikannya adalah hal baik. 
Adil kan?
Ya atau enggak.
Mungkin aja enggak, karena kita manusia dan adil untuk kita bagaikan gaya gravitasi bumi yang saling tarik menarik. 

10 comments:

  1. ini eek banget: "Karena Tuhan seimbang dan gue obesitas" HAHAHA :))

    cuy, paragrafnye rapihin dikit deh soalnya kurang eye catching aje, tambahin ilustrasi biar lebih menarik. sekadar saran yeee :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk, agak merepet ke kenyataan sih..

      siap sist, thanks atas sarannya komandan :D

      Delete
  2. fix itu yang terakhir jadi iklan bengbeng :D

    ReplyDelete
  3. btw, lo nulisnya di ms word terus di copas ya langsung? banyak paragraf yang nyatu soalnya hhe
    kalau bisa di edit lagi ya, biar enak mata bacanya, bener apa kata kak vina :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. sejujurnya ini gue tulis langsung di entri baru, tapii berhubung udah malem dan ikan bobo gue jadi nabrak semua pager #alesan #kurangfokus #butuhpacar #eak

      siap, udah diedit sih, tapi kalau merusak mata lagi komen aja yaak (y)

      Delete
  4. senyum2 pas baca tulisan ini apalagi analoginya, tapi jangan khawatir kak, pesannya utamanya tersampaikan kok~

    ReplyDelete

  • Etika Profesi Akuntansi