Friday, August 14, 2015

Pramuka = Wamil (?)

Salam Pramuka! broh.. (pake broh biar gahol dikit)
bertepat tanggal 14 Agustus dan ini adalah artikel pertama gue dibulan keramat ini, karena nyokap dan Negara yang samanya gue cintai juga kagumi bertambah umur. Tapi untuk urusan itu ntar dulu. Ini edisi spesial pake kacu, karena hari ini adalah hari Pramuka, sebuah hari peringatan yang benar-benar hanya diperingati tanpa ada makna didalamnya.

Tadinya gue bertanya-tanya punya siapa hati lelaki itu #halah #gagalfokus, gue bertanya-tanya mengenai :
“Sejak kapan upacara hari senin?”
“kenapa upacara hari senin?”
“kenapa harus ada upacara setiap senin?”
“kenapa upacaranya cuman naikin bendera tapi jarang diturunin?”
“kenapa pas kuliah gak ada upacara?”
“kenapa gue masih jomblo?” #abaikan

Lalu dari situ beranjak pada pertanyaan :

“Bagaimana dengan sekolah yang hanya melaksanakan upacara di hari besar?”
“apa korelasi antara upacara dan cinta tanah air?”
“apa hanya hapal lagu tanah air lalu bisa jadi cinta?”
“kenapa mereka yang masih sering upacara bendera ada yang gak apal pancasila?”
Beberapa jawaban yang gue temui secara acak dan gue baca secara membabi dan membuta, gue menemukan beberapa hal yang maaf sumbernya gak bisa gue inget, tapi syukurilah ada sedikit renovasi buat kata-katanya :

“Upacara bendera memiliki sifat tak terelakkan dalam mendidik siswa/siswi untuk berdisiplin diri, melatih mentalitas kebangsaan, menumbuhkan rasa cinta tanah air, mengenang jasa pahlawan, dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan”

Pada akhirnya ketika gue mengingat masa muda gue yang penuh dengan lika liku maju mundur turun naik, gue memahami sesuatu bahwa upacara bendera hanyalah sekedar upacara dimana ada siswa yang berdiri dan ada inspektur upacara yang hanya berniat menyampaikan amanahnya, lalu sesegera mungkin kembali pada pangkuan tempat duduk dikantornya yang dingin.

Pada akhirnya beberapa bagian dari masyrakat akan mempertanyakan eksistensi upacara lalu menyalahgunakan kesempatan ini untuk mengatakan apakah tidak ada cara lain untuk menumbuhkan mentalitas kebangsaan yang berbudi luhur dan berbangga tanah air tanpa upacara yang membuat guru kadang tidak bisa mengejar target dari pemerintah?
Upacara pun dihilangkan dan diri dilambungkan pada pertanyaan.
“bagaimana dengan upacara diluar negeri?”
Upacara diluar negeri biasanya diposisikan kepada peringatan hari-hari besar atau bagaimana kebijakan Negara tersebut, karena upacara ini adalah sebuah simbol yang membedakan sebuah Negara dengan Negara lain. Nah bagaimana dengan Negara lain yang sepertinya (ingat sepertinya) mencintai negaranya, bahkan terkesan fanatisme terhadap negaranya?

Jawaban kakak gue dengan pertanyaan ini adalah satu
“Wajib Militer atau yang sekarang lebih suka disebut dengan tentara sukarela”
kalo yang wamil cakep begini, pada mau ikut kagak?
Beberapa Negara di dunia tercatat memberlakukan WaMil atau tentara sukarela, mungkin wamil yang sering kalian dengar adalah keluhan dari ujung korea selatan, yang selalu teriak-teriak sambil nangis ketika idolanya mencukur rambut dan mulai wamil.

Wamil juga pernah jadi sarapan pagi di Indonesia, dengan Pak Jokowi yang mendukung dan barikade yang menolak. Well, banyak pihak menyatakan bahwa wamil berefek pada kemandirian dan nasionalisme yang luar biasa. Dia bisa melindungi diri sendiri maka dia bisa melindungi Negara. Mungkin awalnya hal ini dicetuskan karena Perancis butuh bantuan tenaga tapi pada akhirnya hal ini merebak bagaikan kurap ke beberapa Negara.
“Lalu apa hubungannya dengan pramuka?”
Praja Muda Karana, sosok yang sesungguhnya bukan hanya pake baju coklat dengan kacu menggantung di leher, baret tertata manis dikepala dan TKU atau TKK berjejer mentereng di lengan. Bukan cuman sosok yang teriak teriak salam pramuka tiap ketemu pramuka lain. Tapi gue pikir dengan gerakan ini seharusnya menumbuhkan mentalitas cinta tanah air yang sama baiknya seperti pelatihan wamil.

Bagaimana Pramuka yang kini cuman jadi kegiatan rutinitas, yang cuman jadi keluhan karena harus terus bergerak, yang jadi keluhan karena menyita waktu malah membuat kita kehilangan waktu untuk terus belajar.

Dari pramuka lewat Dasa Darma dan Trisatya-nya kita mengenal segala hal. Dengan pancasila sebagai dasar Negara tentunya akan membuat kita memahami betul bagaimana cara mencintai bangsa dan bagaimana memperlakukan kehidupan ini.

Dari akar pramuka juga biasanya timbul-timbul pemimpin netral, jujur, mandiri, bertanggung jawab, berkomitmen dan rajin menabung #halah. Toh sifat-sifat itu bukanlah sesuatu yang muncul kayak jin tapi asahan dari pisau tumpul menjadi tajam.
Jadi, pramuka yang tercipta berkat bapak powell bukan hanya isapan jempol untuk diludah, ini mengandung makna kebesaran cinta pada tanah air, menghormati segala bentuk kehidupan dan terutama bisa berbuah menjadi pelayan masyrakat.

Dulu kata kakak gue, pramuka adalah pandega penjaga hutan, dimana mereka menjaga hutan, membuka jalan baru, belajar bertahan hidup dari alam, dan mereka jugalah penjaga garda terdepan terhadap bentuk pelanggaran para pendaki yang tidak mengindahkan larangan. Seperti membawa kertas-kertas tidak penting, benda tajam yang tidak semestinya. Para pramuka ini juga yang berhak menyuruh turun para pendaki yang tidak memenuhi kriteria. Pramuka juga bertugas untuk membantu polisi, yaah bisa disebut mereka adalah bibit-bibit pelayan masyrakat yang nantinya diharapkan bisa menjadi bibit unggul dalam memajukan bangsa dan bukan hanya seonggok daging bertuan yang hilang rasa ketika sudah lulus.

Walah ternyata di jaman kakak gue, pramuka benar-benar sosok wow yang dipandang apik oleh masyrakat karena kepercayaan akan pribadi yang tercipta.








Sumur :
http://satdaka.blogspot.com/2013/05/makna-upacara-dihari-senin.html
http://www.cnnindonesia.com/internasional/20141112160638-106-11067/asal-mula-pemberlakuan-wajib-militer/
http://terbaru2015.net/e55b88e/-pemandangan-hamparan-sawah-dan-gunung-serta-petani-yang-diambil-di-.html




No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi