Monday, August 31, 2015

[FIKSI] Randi dan Rani (2)

Baca cerita sebelumnya [FIKSI] Randi dan Rani (1)

Mentari mulai terbenam, senja telah datang berkunjung dan senyap kembali menghadang seperti Rani yang kembali sendiri.
Rani sendiri untuk kesekian hari.
Ibu yang tak pernah mencintai Rani tapi selalu dipandangan Rani telah tiada, bunuh diri.
Ayah yang hanya mencintai Ibu pergi meninggalkan kami berkencan dengan pekerjaannya, bagiku dia mati.
Randi yang hanya kupunya telah tiada dan Rani sendiri.
Ibu mati..
Ayah mati..
Randi mati..
Rani hidup, Rani ingin mati saja menyusul Randi.

Kekasih pura-pura Randi sering mengunjungi Rani untuk menghibur Rani, Rani tidak suka kekasih pura-pura Randi, karena Randi adalah milik Rani baik jiwa dan raganya. Kami saudara kembar, kami berbagi pikiran, berbagi kesedihan, berbagi suka dan berbagi cita, kami juga berbagi tubuh. Di hati Rani hanya ada Randi, dari kecil Randi sudah melindungi Rani. Bukan Ibu ataupun Ayah, tapi Randi. Kakak kembar kesayangan Rani.
Tapi Randi mati, Randi meninggalkan Rani. Randi pembohong, Ibu pembohong, Ayah pembohong, Rani ingin jadi pembohong juga agar bisa menyusul Randi. Rani ingin mati.

Dirumah sepi, hanya ada pembantu tua yang selalu menyiapkan makanan dan memaksa Rani sekolah. Rani tidak ingin sekolah, tidak ingin bertemu teman-teman pecundang dan naïf, mereka bertopeng dua, membicarakan apa didepan apa dibelakang. Rani tidak suka mereka, karena mereka pecundang. Tapi mereka pembohong yang pintar, Rani ingin belajar menjadi pembohong yang pintar agar bisa cepat menyusul Randi.
Randi setia didunia, haruslah setia disurga. Menantikan Rani dipintu surga agar kita bisa bersatu rasa lagi. Rani rindu setengah mati kepada Randi, Rani ingin mati agar bisa menemui Randi.

Hari-hari yang dilalui Rani kini tidak lagi sama, begitu Rani membuka mata, Rani tidak lagi melihat Randi yang bertelanjang dada tertidur disamping Rani. Tidak ada lagi Randi yang mengucapkan selamat pagi, mengecup kening Rani dan berjanji mengadakan hari yang membahagiakan bagi Rani. Randi selalu menjanjikan hari-hari indah bagi Rani, Rani pun selalu bahagia hanya bila ditemani Randi. Randi menemani Rani tidur, sarapan pagi, berangkat sekolah, selama jam istirahat, pulang sekolah, bermain bersama, makan malam sampai akhirnya Rani tertidur lagi dipelukan Randi.

Hanya Randi yang Rani punya.
Tapi Randi mati, Rani mau juga mati.

Kini Rani tidak pernah melihat sosok Randi, baik dihari-hari gelap ataupun terang. Rani tidak lagi merasakan hangatnya pelukan Randi setiap kali Rani gemetar ketakutan ataupun merasa tidak disayang, hati ini dihangatkan dan diisi kasih oleh Randi. Randi mengerti betul Rani. Randi selalu memberikan kejutan-kejutan dan membuat Rani begitu beruntung memiliki Randi.

Hanya Randi yang Rani punya,
Tapi Randi mati, Rani tidak lagi dapat tersenyum.

Tuhan memutus kita lewat takdir, Tuhan tidak adil. Rani ingin menghujat Tuhan meski Randi bilang itu perbuatan yang tidak baik. Tapi, kata orang bila kita menghujat Tuhan kita akan cepat mati. Rani ingin cepat mati untuk menyusul Randi.

Randi tunggulah Rani.

7 comments:

  • Etika Profesi Akuntansi