Saturday, August 15, 2015

[FIKSI] Randi dan Rani (1)

Aku merasakannya, aku merasakan dirinya disetiap langkah kakiku, disetiap hirup nafasku, dikala jantung yang berdetak. Aku merasakannya kehadirannya. Aku takut, aku tidak mengerti dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Dia selalu hadir disaat aku menoleh, disaat aku mengangkat wajahku. Maka kuputuskan untuk menunduk agar tidak perlu melihatnya.

Melihat dia yang bagaikan cermin bagi diriku.

Ya, dia saudaraku.
Ya, dia saudara kembarku.
Ya, dia telah tiada.

Kala itu umur kami 15 tahun, bersenandung bersama, tertawa bersama. Kami benar-benar bagai pinang dibelah dua. Cara kami berjalan, cara kami tertawa, cara kami berbicara, cara kami mengusili orang benar-benar sama. Kami bagaikan meniru satu sama lain. Kami kompak dan tak ada seorang pun yang menyangkal hal itu.

Hebatnya pertalian saudara kembar adalah kami saling bisa merasakan, apa yang kami pikirkan, apa yang akan kami perbuat dan bagaimana rasa sakit yang dirasa.

Ah, aku lupa. Sebelumnya kuperkenalkan dulu siapa kami. Kami Rani dan Randi, saudara kembar beda kelamin, perempuan dan lelaki. Randi si kakak, hanya berbeda 3 detik dari Rani si adik.
Dari kecil kami sudah tergolong kompak, ibu dan ayah tidak pernah mengatakan kasihilah karena dia perempuan atau karena dia si kakak, ayah dan ibu hanya mengatakan kalau kembar hendaklah saling mengerti dan kami diajarkan betul memahami hal itu.
Beranjak dari kecil dan masuk SMP, ibu pergi meninggalkan kami, Rani dan Randi bersama ayah yang akhirnya depresi dan menjadi workaholic. Kami tidak menyalahkannya, kehilangan ibu begitu kuat dampaknya pada ayah kami yang sangat tergila-gila pada ibu, meskipun kami telah lahir kedunia ini. Kami mencoba memahami dan mengerti kenapa ayah bisa sampai seperti itu. Kuceritakan tentang ayah yang jarang kami lihat ketika ibu telah tiada dan bagaimana prosesnya dia sampai seperti itu.

Ayah kami bertemu dengan ibu kami melalui perjodohan keluarga, tujuannya jelas untuk menyelamatkan perusahaan orang tua ibu kami. Tapi ayah pernah cerita, jauh dari hal itu ayah sudah kepalang cinta dengan ibu yang juga satu kampus tetapi beda jurusan. Rasanya ketika sang calon mertua datang dan menawarkan hal yang tak pernah disangka menjadi sebuah anugerah tersendiri. Ibu begitu lembut dan cantik, layaknya porselen cina yang mahal harganya begitulah ibu kami diasuh dan dididik, penuh dengan kehati-hatian dan kelembutan. Ayah kami jatuh cinta padanya karena sifat dan sikapnya, ayah kami tergila-gila padanya karena kecantikannya.
Ibu kami bisa dikatakan sama sekali tidak mencintai ayah kami, jauh dari kata sayang malah. Ibu menerima perjodohan itu hanya karena baktinya kepada orang tua yang sudah membesarkannya, ibu memiliki belahan hati lain dan belahan hati itu sudah diracun oleh ayah kami. Belahan hati ibu sudah pergi ke surga dan tidak akan pernah kembali.
Ayah rela berbuat apa saja, bahkan menyanggupi segala keinginan ibu yang aneh-aneh. Ibu berbuat begitu untuk mengurangi kadar cinta ayah pada ibu yang terlalu berlebihan, tapi tidak bisa. Ayah adalah tipe lelaki idaman yang penuh tanggung jawab dan setia, ayah pernah bilang ayah akan selalu menunggu ibu mencintai ayah sekalipun sampai mati dan ayah tidak perlu khawatir ibu tidak akan mencintainya kembali karena itu tidak akan mengubah keadaan bahwa ibu adalah milik sah ayah. Pintar tapi juga licik, ibu juga tidak mungkin selingkuh karena dia terlalu memiliki hati yang lembut dan sensitif.
Pada akhirnya ketika kami hadir, cinta ayah tak jua berkurang malah berlipat ganda pada ibu, ibu yang sempat merasakan luka tentang bagaimana cara orang yang dicintainya pergi hanya selalu memberikan senyum dan perawatan yang baik kepada kami, dia melakukannya sebagai bakti seorang isteri dan seorang ibu. Tidak lebih dan tidak kurang, menimang kami sewajarnya, memberi kami susu karena itu memang hak kami tanpa menimbulkan cinta yang mendalam. Ibu bisa melakukannya dengan mudah, karena itu semua didasari luka lama dan kehadiran kami adalah bukti nyata bagaimana masa lalu telah membuat hatinya hancur berkeping-keping. Dan ketika ibu pergi meninggalkan kami selama-lamanya, ibu meninggalkan surat untuk ayah yang membuatnya meneteskan air mata. Ibu bunuh diri, ibu tidak meninggal karena dipanggil Tuhan.
“Untuk suami yang tidak pernah kucintai. Terimakasih karena telah memberiku kebaikan-kebaikan dari setiap jengkal cinta, namun itu tidak pernah mengubah bagaimana rasaku yang telah mati, bagaimana lidahku yang tidak terkecap lagi dan bagaimana mataku memandang. Kini aku yang rapuh telah menjadi debu, hilang terbawa angin. Jaga anak-anakmu karena aku tidak pernah menganggap mereka anak-anakku meski Tuhan yang Maha Murah memberikannya padaku. Selamat Tinggal”
 Kami memandang ayah yang terluka, memandang ayah yang dengan sedih. Rasa sakit menghujam jantung kami juga. Ayah memandang kami, memeluk kami dan kami tau ini adalah awal perubahan yang tidak pernah kami inginkan.
Keluarga kami yang memang tidak pernah bisa disebut keluarga menjadi lebih aneh.

Rani hanya punya Randi, Randi hanya punya Rani.
Kami tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk tempat kami setidaknya menyampaikan salam selamat datang atau pergi.

Tapi waktu tidak pernah menunggu kami, ayah masih sibuk bekerja bahkan dia berekspansi keluar negeri. Rasanya ayah tidak akan pernah kembali dan menginjak rumah ini lagi, rasanya dia sudah melupakan bahwa dia memiliki anak disini, dan kami tidak pernah bisa menyalahkannya karena itu memang bukan salahnya. Tuhanlah yang memberikan kami kepada mereka, jadi Tuhanlah yang harus disalahkan karena keadaan kami.
Kini ketika kami besar, Rani sudah punya pacar Randi pun begitu. Kami sudah saling memiliki pacar tapi kami tetap berpegangan tangan. Ya, ini rahasia saudara kembar yang tidak memiliki orang tua dan pernah tidak memiliki siapa-siapa selain satu sama lain. Kami saling membagi tubuh kami.
Pacar kami hanya status agar kami tidak dilecehkan karena tidak punya rasa pada orang lain. Pada akhirnya hubungan kami lebih dari saudara kembar.

Tapi sekali lagi Tuhan menjungkirbalikkan kepala kami.
Randi meninggal. Bukan Rani. Bukan kedua-duanya.
Kami lahir dari rahim yang sama, memiliki darah yang sama, memiliki wajah yang sama, memiliki watak yang sama. Dan kami dipisahkan oleh takdir yang tidak beruntung.

Randi meninggal, Rani tidak.
Padahal Randi dan Rani tertawa bersama, bercanda bersama, ngobrol bersama dan tidur bersama.
Rani hidup, Randi tidak.
Padahal Randi dan Rani sudah saling berjanji mati sampai hari tua, sudah berjanji mati bersama.

Ayah tidak perduli siapa diantara kami yang meninggal. Ayah juga telah mati.
Jadi,
Ibu mati, Ayah mati, Randi mati dan Rina hidup.
Jadi,
Semua mati dan Rani tidak.
Rani sakit, Rani sepi, Rani ingin ikut Randi.

bersambung...

2 comments:

  • Etika Profesi Akuntansi