Thursday, August 20, 2015

[FIKSI] Halaman 151

Aku sangat menyukai buku, sukaa sekali. Bahkan saking sukanya, aku selalu bersemangat berkunjung dalam pameran buku. Melihat buku bertebaran membuatku merasa aman dan nyaman.
Aku tidak perduli berapa uang yang kukeluarkan untuk membeli buku, aku bisa mencarinya lagi nanti. Tapi buku yang kutemui belum tentu akan kutemui selanjutnya. Maka aku rela meminjam uang ibu atau temanku hanya untuk membeli buku. Aku lebih memilih selalu berpuasa untuk mengumpulkan uang yang nantinya akan kupakai untuk membeli buku.

Orang bilang aku kutu buku atau freak, selalu ikuti trend buku bukan tren fashion. Memakai baju yang itu-itu saja sampai buluk dan hilang gambarnya. Tapi aku tidak perduli, bagiku yang utama adalah bisa membeli buku.

Buku yang paling kusukai adalah buku dengan imajinasi tingkat tinggi, buku yang membuatku merasakan terbang melayang. Indahnya dunia dengan bagaimana kita memandangnya lewat pikiran kita. Itu menyenangkan, aku menyukainya.
Buku menghantarkanku kepada banyak hal, bermacam-macam hal. Membawaku kepada dunia yang sebelumnya belum pernah kutemui.

Sampai hari itu tiba, entah mengapa aku tidak bisa membalik halaman bukuku yang berikutnya. Itu aneh. Bacaanku hanya terhenti di halaman 150, bahkan belum separuhnya. Aku bingung kenapa aku tidak bisa kepada halaman selanjutnya.
Ketika sampai distasiun yang kutuju, aku tutup rapat buku itu lalu berjalan menuju perpustakaan nasional. Iya, aku adalah seorang penjaga perpustakaan, penerjemah jurnal, novel dan penulis. Banyak sekali yang bisa kulakukan dari membaca. Aku menyukainya, sukaa sekali pada membaca.
Ketika sampai di kantor, kantor sepi. Aku pun mulai membereskan dan menyiapkan sebelum perpustakaan dibuka. Aku menyenangi pekerjaan ini, kesunyian membuatku tentram.
Ketika semua sudah dirapihkan, teman-temanku satu per satu berdatangan dan menyapa. Aku tidak menyukai mereka, kadang mereka terlalu berisik memang sih itu jam istirahat, tapi aku benci bising ditempat yang amat kusukai. Maka kadang aku menyingkir dari mereka dan duduk di kantor belakang atau bagian skripsi, disana lebih tentram.
Aku membuka novel yang sedang kubaca, tetap tidak bisa kubuka halaman 151-nya. Rasanya halaman selanjutnya dilem atau semacamnya sehingga aku tidak bisa membukanya. Aku harus protes kepada penjualnya, karena aku baru membaca setengahnya dan sangat penasaran pada akhirnya.

Ketika jam pulang aku menyempatkan diri mampir ke toko yang menjual novel yang tidak bisa dibuka halaman 151-nya, tapi memang bukan rejeki tokonya tutup. Aku pun kembali pulang dengan kecewa karena novelnya tidak bisa lanjut kubaca, enggan untuk melanjutkan ketika ada cerita lain yang mengganjal, dan aku tidak menyukai itu.

Begitu sampai dirumah, ayah dan ibuku sedang makan malam. Aku berjinjit masuk ke kamar takut mengganggu mereka. Akhirnya aku kembali membaca dari halaman pertama sambil menunggu besok kembali ke toko buku itu.

Seminggu aku berkutat pada buku yang sama dengan bolak balik halaman sampai aku menemukan cara untuk membuka halaman 151-nya. Bahkan semua yang kutanya pun hanya mengabaikanku, menganggap candaanku tidak pada tempatnya. Itu menyebalkan, aku sempat mengadu kepada ayah dan ibu tapi mereka pun sama tidak mengacuhkanku, mereka hanya menatap sedih pada buku yang kupegang. Mungkin mereka juga merasakan apa yang kurasakan. Tidak bisa membalik halaman 151-nya.

“Mau aku balik?” tanya seorang anak padaku, melihatku kesulitan membuka halaman selanjutnya. Tentu saja aku mengangguk senang dan membiarkannya menolongku dengan membalik buku itu.
Dan dibalik, halaman 151 muncul. Aku senang sekali, karena sebelumnya halaman itu sama sekali tidak mau terbuka. Kemudian dia mengajakku menuju rumahku.
Aku bingung kenapa orang asing ini meminta diantarkan kerumahku. Di rumah ibu masih berwajah murung sepertinya habis berantam sama ayah. Aku mengucapkan salam lalu mengabaikan ibu yang masih menunduk lesu, mau menyemangati rasanya aku pun jadi tidak semangat.
Anak itu mengambil buku yang kupegang, meletakkan didepan ibuku.

“dia tidak akan tenang sampai bisa membaca habis bukunya bu. Tolong balikkan halaman per halaman agar dia bisa membacanya” anak itu berkata dengan lugas, membuatku terperangah. Apa maksud semua ini.

“kamu tau darimana?” ibu bertanya dengan wajah kagetnya.

“dia ada disebelah saya sekarang. Setiap pagi dan pulang kerja dia selalu berusaha membuka halaman selanjutnya. Dia selalu datang ke toko. Kasihan sekali, tidak ada yang membukakan halaman selanjutnya”. anak itu menjawab dengan tenang dan aku masih belum mengerti apa-apa.

“Dia tidak sadar telah tiada, hingga rohnya tertahan disini karena ada keinginan untuk menyelesaikan urusan yang belum tuntas. Membaca buku ini sampai selesai” dan aku tersadar aku telah tiada.
Kecelakaan kereta saat aku berada dihalaman 150. Aku hanya mengingat bagaimana aku naik kereta dan sedang membaca.
Aku telah mengusik ayah dan ibuku dengan buku yang selalu kubolak balik dengan berisik. dari 1 ke 150 begitu seterusnya tanpa pernah maju ke 151. Yang dipikiranku hanyalah menyelesaikan bacaan itu tanpa pernah sadar kenapa aku tidak bisa lanjut ke halaman 151.

Aku telah tiada,
dengan kesadaran ingin menyelesaikan apa yang telah kubaca.

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi