Saturday, July 18, 2015

[FIKSI] Jari Manis

Ketika aku kecil, aku merasa keluargaku adalah yang paling aneh. Hubungan antara ayah dan ibuku juga yang kurasakan paling aneh. Hubungan antara mereka ke aku juga lebih aneh. Pokoknya aku sudah mencap keluargaku adalah paling aneh.

Begini, biar kuceritakan kenapa aku mengatakan betapa anehnya keluargaku itu.
1. Ibu dan Ayahku jarang berbicara didepanku
2. Kalau mereka bertemu mereka seringnya tersenyum
3. Bila ada aku mereka akan langsung memeluk dan mengelusku
4. Mereka tidak terlihat semesra tetangga sebelah rumah
5. Ayah dan ibuku tidak pernah bertengkar
6. Ayah dan ibuku tidak terlihat seperti ayah dan ibu yang lain
Itulah daftar yang kubuat bila aku membandingkan dengan ayah dan ibu teman-temanku ketika kami saling membanggakan orang tua kami. Ayahku seorang arsitek yang membuat rumah kami indah dan simpel, ibuku seorang penjual tanaman yang membuat rumah kami banyak bunga dan terlihat hijau. Kalau sudah besar begini kupikir mereka saling melengkapi tetapi ketika aku kecil aku pikir itu adalah suatu hal yang sangat aneh, gimana caranya kedua orang tuaku yang jarang berbicara didepanku membuat rumah indah dan nyaman untukku.

          Dari kecil hingga besar tidak sekalipun terbersit keberanian untuk bertanya ada apa, aku hanya mengamati dan mencoba mengerti apa yang kedua orang dewasa ini lakukan didepanku. Rasanya mereka tidak ada semangatnya untuk membuatkan adik untukku, tidak seperti teman-temanku, Aldi misalnya. Dia bercerita ayahnya mengatakan akan memberikan adik perempuan untuk Aldi dan ayahnya menepatinya, beberapa bulan kemudian perut ibu Aldi menggelembung dan tiba-tiba saja muncul dedek bayi. Aku masih belum mengerti kenapa dari perut besar itu bisa keluar bayi, kalau kata ibuku itu seperti kangguru. Jadi manusia meniru kangguru?

Teman-temanku memiliki adik atau kakak, kalau kutanya bagaimana rasanya, mereka bilang itu menyebalkan dan menyenangkan. Aku tidak mengerti kenapa bisa ada sebal dan senang dalam satu paduan. Ketika mereka pulang, mereka ada yang menjemput atau mereka ingin cepat pulang ingin bermain dengan adik mereka, ketika mereka pergi jalan-jalan, mereka ada yang menemani ataupun minta ditemani.

Sedangkan aku masih sendiri, setiap pulang sekolah aku mampir ke toko bunga ibuku. Tokonya sederhana, dicat putih diberi list merah muda. Tokonya terlihat berwarna dengan mekarnya tanaman-tanaman disana dan biasanya ibuku duduk dibangku taman yang tersedia dekat situ dan menghirup teh yang harum. Iya, ini adalah toko bunga dengan konsep kafe. Kata ibuku kalau begini orang yang tidak tertarik bisa tertarik, orang yang gelisah bisa tenang.

Kadang aku mampir ke kantor ayahku yang terletak berlawanan arah dengan toko bunga ibuku. Kantor ayahku didesain dengan modis dan trendi, sangat nyaman karena memang ayah arsitek. Ayah mendesain kantornya dengan sangat cermat sehingga tempat kecil yang dipakai ayahku terasa friendly dan comfort. Tapi itu hanya kadang, aku lebih suka tempat ibuku yang biasanya dipenuhi dengan wewangian.

Waktu kecil saking jarangnya aku melihat ayah dan ibuku berbicara dan aku sudah tahu apa itu arti perceraian, aku mengira ayah dan ibuku akan bercerai. Aku sempat menangis dan mereka bertanya ada apa, kujawab dengan gelengan kepala dan menyatukan tangan mereka. Mereka lalu memelukku dan mengelus tanganku, memberikan kue dan teh mawar buatan ibu. Aku menangis lebih kencang, ayah mendudukkanku di pangkuannya. Ingin berucap jangan berpisah tapi yang keluar hanyalah tangisan yang makin kencang. Jadi ayah dan ibuku terus berada didekatku sampai aku tertidur pulas. Ketika esoknya bangun, aku takut mereka akan berpisah jadi aku memiliki ide brillian untuk memfoto mereka dengan kamera digital milik ayah, aku mengambilnya dan memotret mereka, kukembalikan ke tempat asalnya dan aku menyelipkan kembali badanku diantara mereka sambil memegang tangan mereka, kusatukan diatas dadaku dengan tanganku diatasnya.

 Ketakutan akan kedua orang tuaku bercerai menghantarkan aku juga kepada pulang sekolah tepat waktu dan dekat kepada orang tuaku, jadinya aku hanya memiliki sedikit teman. Tapi seiring berjalannya waktu, aku tau ayah dan ibuku tidak akan bercerai. Aku gembira sekali hingga aku selalu melemparkan badanku kepada ayah dan ibuku, mengecup mereka dengan senang.

 Hilang perceraian timbul sebutan anak angkat karena aku tidak mirip ayah dan ibuku, aku pilu, teman-teman disekolah memanggilku anak angkat. Aku ingin melawan, tapi kata ayah anak lelaki tidak pernah bertarung pada hal yang sia-sia, karena itu aku menahan diri lalu menangis di depan ayahku, malu kalau menangis didepan ibu. Aku menahan sebutan itu dengan mengisyaratkan tidak akan memberi lihat mereka tugas yang sudah kukerjakan. Iya, ibu bilang aku bisa jadi apapun kalau aku pintar, maka aku belajar lebih giat dan aku membuktikan sendiri kepandaianku ada gunanya dengan tidak membiarkan orang lain tidak berani mengolok-olokku.

 Pertanyaan terbesar kualami ketika masa sekolah menengah atas menjelang perkuliahan. Ketika sekolah menengah atas semua teman-temanku meributkan pacar siapa yang paling hot, mereka meributkan siapa yang paling lama dan paling romantis. Aku sendiri masih berkutat dengan onderdil robot, pada rumus-rumus yang terlihat rumit dan sibuk mengobrak-abrik robot-robot yang akhirnya menghantarkan aku kepada perlombaan tingkat nasional dan internasional, aku masih belum terusik pada sandangan pacar, sampai pada upacara kelulusan saat itu. Aku diminta untuk memberikan kata sambutan dan saat pulang seorang gadis yang bilang dari kelas sebelah menyatakan perasaannya kepadaku. Ah, memangnya aku sekeren itu ya? Aku tidak menerimanya, hanya menggeleng dengan senyum.

 Dari sinilah aku mulai terusik, bagaimana hatiku harus bertaut pada seseorang, bagaimana akhirnya aku menjadi manusia yang dipasang-pasangkan oleh Tuhan. Ya, seperti bagaimana aku memasangkan semua part robot hingga menjadi robot seutuhnya dan bisa bergerak.

Tapi apakah hubungan yang akan kulalui itu akan seperti ayah dan ibuku yang lebih terlihat tentram atau akan jadi seperti apa, dipacu rasa penasaran aku pun memberanikan pacaran ketika masuk semester dua. Dia jurusan sastra dan gadis tercantik, begitu populer dan memiliki banyak penggemar. Menyenangkan memang punya pacar seperti itu, dimana semua orang menatapmu dengan iri dan arogan, tapi gadis ini penuntut dan selalu meminta diperhatikan padahal pekerjaanku bukanlah pekerjaan tanpa ketelitian dan perhatian penuh. Dia berisik dan akhirnya aku memutuskan untuk pergi darinya, kembali tenggelam pada kehidupan robotku, bersentuhan dengan benda dingin yang merangsang otakku.

Semenjak duduk di bangku kuliah aku memutuskan untuk membuat duniaku sendiri dengan ngekost, ayah mendesain kamarku dengan barang-barang yang ada dirumah hingga aku tidak kepayahan dan yang kuperlukan benar-benar dapat ditampung. Besoknya ibuku datang, merapikan segalanya, mengirimkan bunga kekamarku setiap hari untuk membuat ruanganku segar, padahal aku ngekost dikota yang berbeda, tapi ibuku bela-belain buka toko baru di kota ini, entah aku harus terharu atau bagaimana. Aku tidak keberatan sama sekali sama seperti mereka tidak keberatan ketika aku memutuskan untuk mencoba mandiri.

Masa perkuliahan aku lewati dengan cemerlang, lulus dengan nilai tertinggi, menjadi panutan, menolak para wanita hingga disebut lelaki dengan kelainan akut pada robot, ada yang menyebutku menikah dengan robot ataupun penyuka tante-tante yang sebenarnya adalah ibuku. Ibuku memang memiliki wajah terlalu imut untuk punya anak seumuranku.

Begitu lulus kuliah aku kembali ke kotaku dan membuka usaha disana namun memutuskan untuk tidak tinggal bersama kedua orang tuaku, memilih untuk membuat area sendiri. Lagi-lagi ayahku yang mendesain ibuku yang merapikan dan bunga ada hampir disetiap sudut rumahku (juga dikantorku). Luar biasa dan aku masih belum mengerti apa-apa.

Sampai hari itu, ketika aku duduk tercenung menatap tanaman segar dimejaku sambil menghirup teh mawar yang diracik oleh ibuku, gadis itu datang mendekat. Menyapaku dalam senyumnya, dia anak baru yang kurekrut setahun yang lalu dan karena kecakapannya dalam bekerja membuatku ingin mengangkatnya langsung meski sepertinya dia tidak berniat memperpanjang kontrak disini.

Usai menyapa dia mencoba berbincang-bincang kepadaku, kulihat dari kaca beberapa anak buahku melihat ketempatku duduk. Mereka sedang merencanakan sesuatu dan aku kurang suka hal-hal bersifat rahasia.
“taruhannya apa?” tanyaku, gadis yang bernama Mia itu tersentak lalu segera tersenyum, pintar.. dia tahu aku tidak akan mencampuradukkan hal pribadi kedalam pekerjaan.

“bisa tahu bos suka makan apa” jawabnya ringan. Aku menarik tangannya lalu menatap anak buahku dan menyeret mereka semua keruanganku.

“kalian pikir dia cocok untukku?” tanyaku penasaran. Kini aku penasaran apa saja dalam pikiran orang-orang itu terhadap bos mereka yang rambutnya kini sudah sepundak, berantakan, memakai celana jeans dan kaos oblong dijodohkan dengan Mia, yang meski tidak secantik ibuku tapi bisa mendapatkan lebih.

“Seperti biasa bos” jawab salah satu dari mereka, terakhir mereka membuatku sebagai taruhan adalah dengan mengetahui aku berkuliah dimana. Aku mengangguk.

“baiklah aku akan jadian dengannya. Semoga kita sampai pada tahap pernikahan mia” ucapku, Mia bersemu merah, malu dan benci.Dia melakukan ini hanya untuk taruhan semata dan gak berniat sama sekali pacaran denganku apalagi menikahiku. Sedangkan aku, aku tahu meski ayah dan ibuku tidak menagih anak dariku tapi setidaknya aku bisa memberikan anak kepada mereka sebagai balas jasaku.

 “bos kamu bercanda kan?” Mia mengejarku ketika jam pulang, aku tak menghiraukannya.

“Besok sore aku akan kerumahmu dan memperkenalkan diriku” ucapku lalu mengambil sepeda dari pos satpam dan pergi meninggalkannya dengan kekesalannya. Permainan yang anak buahku ciptakan sendiri berbuah kesialan. Dan besok adalah malam minggu, bagaimana dengan pacarnya?
Sorenya aku memotong rambut, meminta bibi penjaga rumah menyiapkan mobil, memetik beberapa bunga mawar dari halaman belakang dan pergi kerumah Mia berbekal alamat yang kudapatkan dari HRD.

Belum sampai rumah Mia, kulihat Mia dan seorang lelaki berboncengan pergi. Aku mengikuti mereka dan kudapatkan mereka dengan seorang wanita berada ditengah-tengah mereka.

Aku menunggu mereka. Mia tersenyum senang. Mia ditinggalkan. Mia berlutut. Mia menangis. Aku mendekat memberikannya mawar. Dia tersentak lalu memelukku. Jantungku berdegup kencang.
“Kupikir kami pacaran ternyata aku malah terjebak friendzone, ternyata aku yang kegeeran, ternyata aku cuman tempat dia latihan. 3 bulan. sial” dia menangis sesenggukan, dengan air mata dan ingus yang membasahi mawar ibuku. Sepanjang perjalanan sampai rumahnya, dia yang membekap bunga mawar pemberianku hanya bisa mengoceh tanpa henti, aku hanya berdeham dan kusadari bahwa degupan jantung yang kurasakan ketika Mia memelukku tidak dapat berhenti. Ketika sampai dirumahnya aku memutuskan untuk tidak mampir dan segera pulang, dia tidak sadar sama potongan rambutku, sungguh sial.
Pulangnya aku pergi kerumah orang tuaku. Ayah dan ibuku. Keluarga yang aneh. Rupanya mereka sedang candle light, karena kulihat dimeja makan ada lilin. Dulu waktu kecil aku juga pernah melihat ini sekali dan aku baru sadar sekarang ini adalah salah satu sifat romantis. Kukecup ibuku yang wajahnya merona merah dan ayahku yang tersenyum senang, memohon diri meninggalkan mereka dan pergi ke kamar karena tidak mau mengganggu ketenangan kencan mereka.

Ketika aku ke kamarku yang terletak diatas kulihat ada foto baru yang belum pernah kulihat. Ayah dan ibuku dengan pose tertidur, aku seperti dilempar dimasa lalu, ini adalah ketika aku dengan sindrom cerai. Aku tersenyum dan memandang foto itu lama-lama. Bersyukur bahwa sampai sekarang ayah dan ibuku sangat baik-baik saja meski mereka jarang romantis.

Esoknya satu kantor heboh semua melihat atasan mereka tidak berambut gondrong, memakai kemeja dan berpenampilan parlente apalagi membawa mobil. Habis apa boleh buat, aku tidak sempat pulang kerumah karena aku menyadari sesuatu yang tidak kusadari ketika aku kecil dulu. Dan dirumah ayah ibuku, aku hanya meninggalkan pakaian resmi.

Aku pergi ke divisi Mia, lalu memberikan 3 mawar beserta vasnya ke meja Mia, memberikannya senyum lalu pergi keruanganku sendiri. Semua hanya terpana dan Mia hanya diam seribu bahasa, menyadari perubahanku.
“Apa aku terlihat setampan itu?” tanyaku pada anak buahku saat rapat dan mereka menatapku penuh perhatian

“sangat tampan” Aby, kepala divisi perancangan menatapku hampir tidak percaya. Aku memiringkan kepala lalu mengatakan gila dan mereka serempak tertawa, kecuali aku. Aku jarang tertawa bersama mereka, aku merasa aku sangat dingin kepada mereka tapi mereka menilainya itu professional dan selalu tanpa keseganan mengerjaiku, entahlah bagaimana sebenarnya kepemimpinanku dimata mereka.
Beberapa hari terakhir aku tinggal bersama ayah dan ibuku, mereka sempat menanyakan tapi kujawab tak apa. Beberapa hari terakhir juga aku rajin mengunjungi ayah dan ibuku untuk makan siang.

Aku menyadari pada hari itu ketika aku kekantor ayahku, untuk memakai jasanya. Kutemukan ayahku mendapatkan kiriman vitamin dan makanan, dua kotak makanan?

Aku bertanya apa ini, ayah menjawab sembari tersenyum
“ini untukmu, ibumu tahu kamu kesini jadi dia sengaja membuatkan dua bekal makanan. Ini Vitamin untukku, akhir-akhir ini ibumu mencemaskan cara tertawaku yang tidak merdu” lalu ayahku tertawa. Ah, sudah berapa lama aku tidak pernah berbicara hati dengan hati begini. Rasanya masa mudaku dipadati dengan kegiatan yang benar-benar menyita waktu, hingga aku tidak pernah tahu kalau ibuku selalu mengingat apa yang kusuka, selalu mengingat apa yang ayah suka, selalu mengirimkan ayah vitamin dan membuatkan minuman kesehatan.

“dulu aku pernah bertanya tanya kenapa aku tidak punya adik” ucapku membuat ayahku menatapku

“dulu aku menunggumu bertanya mengenai hal itu” balas ayahku membuatku menatapnya tidak percaya

“ya, kami mengerti apa yang terjadi padamu. Karena kamu sudah kelewat besar maka kuceritakan semua padamu. Ibumu itu pemalu dan pendiam. Saking pendiamnya ayah hanya bisa leluasa berbicaranya melalui mata dan gerakan, saking pemalunya ayah harus bisa mengerti keinginannya. Tapi dengan rasa cinta dan belajar kami akhirnya bisa saling mengerti. Awal mulanya adalah ketika keguguran pertama yang dialami ibumu, membuatnya depresi tapi tertahan, meski begitu dia mengerti betul bagaimana perasaanku yang menginginkan anak itu, bagaimana penantian menjadi ayah, justru dia yang menolong ayahmu ini.
Anak kedua kami pun kembali gagal berperang. Ayah merosot, orang tua kami menekan. Ibumu tertekan tapi sekali lagi ketegarannya bagaikan mawar yang rupawan. Meski rapuh namun tidak bisa begitu saja ditumbangkan.

Akhirnya yang ketiga muncul dan itulah kamu, dengan kelemahanmu yang lahir secara premature, dengan kasihnya dan perlindungan seorang ibu. Dengan doanya kamu pun dinyatakan menguat dan siap menghadapi dunia. Ibumu bersukacita, riang gembira meski akhirnya di terkena kanker rahim dan harus mengangkat rahimnya. Itu tidak membuatnya sedih. Dia merasa tugasnya adalah menjaga dan membesarkanmu. Itulah kisah mengapa kamu menjadi anak tunggal”
Aku terhenyak, kisah yang begitu lama disembunyikan. Ayah banyak bercerita tentang bagaimana ibu yang selalu mengawasiku, tentang kesedihannya ketika dia tahu aku diolok sebagai anak angkat dan meyakinkanku dengan berkali-kali meletakkan akte kelahiran padahal saat itu aku belum mengerti akte kelahiran. Tentang bagaimana dia memelukku, mengelus kepalaku, mengecup pipiku saat tertidur, selalu menungguku tertidur sebelum dia tidur, selalu mengirimkan bunga agar aku selalu rileks dan tidak kesepian. Tentang bagaimana ibu membuatku selalu merasakan kehadirannya.

Tentang bagaimana cinta tidak harus diutarakan dengan kata-kata, tentang bagaimana belajar saling mengerti.

Sekembalinya aku dari kantor ayahku kuputuskan untuk tidak kembali ke kantor dan membelok ke toko bunga ibuku. Kulihat ibuku disana sedang meracik teh. Wajahnya masih cantik dengan rambutnya yang digerai indah, konsentrasinya saat meracik teh terasa begitu menyegarkan meskipun panas diluar menyengat. Aku rasa aku mulai mengerti kenapa ayah bisa jatuh cinta.
“bagaimana awal mula ayah dan ibu bertemu?” aku bertanya tanpa tedeng aling-aling, membuat ibuku menolehku lalu wajahnya memerah. Ibuku sepertinya benar-benar pemalu dan aku sekarang jadi mengerti kenapa setiap ambil rapot selalu ayahku atau ayah ibu dan tidak pernah ibu seorang diri.
Ibu mendekatiku, meletakkan cangkir teh dihadapanku lalu menatapku, mengelus kepalaku dan mulai berbicara.
“Persis diposisimu, ketika aku sedang meracik teh. Persis dengan bagaimana kamu menatapku nak” ucapnya lalu wajahnya kembali bersemu merah. Aku tertawa dan terpana. Rasanya seperti tidak janggal kalau semua lelaki mencintai ibuku. Caranya tertawa, terpana. Ah, ayahku benar-benar beruntung.
Kupaksa ibuku banyak bercerita dan kali ini, pada kesempatan yang beruntung ini aku menyaksikan tawa ibuku sebanyak kelopak mawar yang tumbuh dihalaman rumah kami.
“Ayahmu adalah sosok yang tidak bisa dilukiskan melalui kata-kata. Bagaimana dia belajar naik sepeda sebelum dia mengajarimu, bagaimana dia belajar menghadapi orang tua yang lain karena aku yang pemalu ini, bagaimana dia menguatkanku, selalu menjadi tempat perhentian terakhir bagiku”
Ibu memuji ayah dengan kehebatannya dan aku menyenangi bagaimana cara ibu bertutur dengan sangat halus, perasaan sayang terbarukan kepada sang ibu menyergap dalam dadaku, perasaan bakti kepada orang tua rasanya berseru dalam dadaku.

Keluargaku tidaklah aneh, ini hanyalah ekspresi dari cinta yang lain. Yang lebih manis dan lebih berharga.

Ayah dan ibuku berhasil mendidikku menjadi lelaki yang baik dan berguna, menjadi lelaki yang bukan hidup untuk diri sendiri tapi menjadi makna bagi sesama. Ayah ibuku memberiku bekal hidup didunia ini, membimbingku untuk hidup, tapi mereka memintaku untuk belajar langsung mengenai cinta. Mereka mempraktekkan dan aku mempelajarinya. Mereka mengajariku lewat kasih mereka agar aku mengerti bahwa cinta bukanlah hal yang sepandangan mata, bukanlah apa yang ada dipikiran, tapi cinta adalah apa yang tumbuh dihatimu dan dia pasanganmu. Menjadikan kalian bukan hanya dua orang melainkan sepasang. Setengah hidupmu adalah hidupnya dan setengah hidupnya adalah hidupmu. Ragamu adalah raganya dan raganya adalah ragamu. Bukan tentang bagaimana kalian berfoto bersama, berpegangan tangan, seromantis apa, secantik apa, selembut apa, segarang apa. Karena cinta yang akan merubahmu menjadi kehidupan yang saling menopang.

Kutemukan cinta itu pada Mia dan dengan rasaku akan kuajarkan dia cinta ini hingga kuletakkan cinta itu pada jari manisnya.

4 comments:

  1. Sedih gini ceritanya.. keren bahasanya :)
    Pengen nyoba belajar bahasa fiksi gini, tp gk pernah bisa -___-

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah terimakasih bro :D
      terus terus belajar, gue juga gak bisa sampe ke titik ini kalo bukan mulai dari minus.. wkwk

      Delete
  2. Keren, lembut tapi menyentil. Sukses, Kak! :)

    ReplyDelete

  • Etika Profesi Akuntansi