Saturday, May 30, 2015

Muara Gembong (Juga) Bekasi

Oiiiiiiiiiiiiii, lebaiers..
duh saking lamanya gak ngepost debunya sampe tumpeh-tumpeh nih blog.
Nah mengawali kembalinya pahlawan ber-kancut, gue bakal menulis kegiatan gue selama sebulan galau kemarin.
Kenapa gue bilang sebulan galau, nanti gue ceritain kalo muka gue udah secakep merry riana.

Ini sesungguhnya adalah post late bener karena gue ngelakuin kegiatan ini pada akhir bulan kemarin kemarinnya, tepatnya tanggal 26 April 2015, telat banget kan? yah yang penting sih guenya gak telat :v
Skip aja obrolan yang gak diobral, sekarang kita langsung ke intinya..
tenang gan, ini bukan di saturnus tapi BEKASI
Kali ini gue dengan penasaran yang luber-luber berpartisisapi dalam acara penanaman Mangrove, secara gue cuman liat di tipi dan gak pernah terjun langsung apalagi acara ini diadain diplanet sendiri dimana sama sekali belum gue jamah, raba dan terawang tertariklah gue ikut.
Gue rasa dengan berpartisisapi menulis juga akan menggugah kalian untuk ikut terjun langsung dan sadar bahwa lingkungan kita dalam keadaan berbahaya dibanding pacar yang posesif.

Pagi itu tepat pukul 06.00 laskar Bekasi dan sekitarnya berkumpul di alun-alun Bekasi yang masih sepi dan diselimuti kabut tebal *okeh ini agak lebay*.
Acara ini diselenggarakan sama Delegasi Komunitas dan yang ikut pun dari komunitas mana-mana, gue dan Retno (anak pinggiran Bekasi) yang udah gagah ngebawa bendera Kancut dalam komunitas ini (dan disertai tawa orang lain sambil nunjuk-nunjuk kancut ke baju yang gue pake -_-")
Perjalanan ke Muara Gembong sendiri butuh waktu 2-3,5 jaman (bayangin men 3,5 jaman!, gue aja gak bisa bayangin). Dari yang ngeliat rumah-rumah merepet, jalanan mulus sampe ke kebon-kebon, pemakaman, sawah dan hal-hal yang gak gue sangka ada di Bekasi, ada disini. Gue aja yang penduduk Bekasi takjub apalagi anak Jakarta yang kemari. Persis kayak waktu gue ke kabupaten Tangerang, abis ngeliat bandara ngeliat kapal nelayan, jauh banget men..


jalanan proyek pertamina
Nah kebetulan gue boncengan sama Retno, sebenernya panitianya udah menghimbau kalo boncengan motor hanya boleh cewek cowok (mereka kasian lah, perjalanan antar negara terus cewek yang bawa). Seperempat perjalanan panitia sadar dan menegur kita karena gak menghiraukan himbauan (mafhum kita adalah bikers yang gak biasa diboncengin #halah). Kebetulan gue sama mas Rian nih boncengannya, jadi pengawas dibelakang kerumunan, anak dari komunitas SEKANJI yang kalau gak salah kepanjangannya Sekumpulan Anak Kranji (Kranji itu nama daerah di Bekasi, ada stasiunnya juga kok). Tampangnya serem dan keliatannya orang yang sering ngelakuin perjalanan gituu tapi ternyata dia kuliah di jurusan pendidikan, gue sampe ngelongo nih dibuatnya persis ketika tau temen gue yang ngelambai dan keliatan lemah ternyata punya dua gelar sempurna. Ternyata si Mas Rian ini adalah sosok yang peduli banget terhadap bangsa, mulai dari ngelakonin perjalanan demi lingkungan sampai dunia pendidikan. Luar biasa sama mereka yang perduli akan hal-hal ini, gue aja sampe terpana ngedenger cerita-ceritanya. Sepanjang perjalanan kita ngobrol tuh (meski suara kebawa angin, lanjut mang) sampai ngelewatin tempat-tempat yang gue bilang "Ini beneran masih di Bekasi?" dan dia cuman ketawa sambil bilang "Inilah Bekasi yang gak semua orang Bekasi tau".

sesungguhnya meski kering ini keren, apalgi pas perjalanan pulang
Udah sampe ke lokasi gue dibuat bingung lagi karena bukan hanya akses yang super duper sulit seperti gak nginjek bumi, situasi yang gak gue sangka dimana tiap gue buka pintu masih bisa ngeliat kemewahan perkotaan tapi yang ini bener-bener aseli pedesaan, bahkan air bersih disini pun beli ditambah pendidikan yang menurut gue kurang. Kalau di Kota Bekasi gue biasa ngeliat bangunan berlantai ada lapangan berpager dan gue sebut sekolahan maka disini gue bisa ngeliat PonPes ataupun sekolah umum berdiri tanpa pagar dan lapangan, meski ada itu jadi satu-satunya dikawasan itu.

Well dengan jeda gue jelasin dulu maksud komunitas ini mengadakan rencana dan bagaimana situasi yang dihadapi penduduk terhadap hutan mangrove yang berlokasi di Muara Gembong dalam kondisi tidak selayaknya :
 "Masih banyak Orang Bekasi yang gak sadar mereka punya hutan Mangrove, sudah untung kalau mereka sadar punya ujung Bekasi, kasarnya masih untung kalo kabupaten bekasi masih dianggap bekasi lebih-lebih kalau orang Bekasi sadar punya binatang khas yang biasanya ditemui di pegunungan tapi hadir cuman di Bekasi. Yap, Lutung Jawa. Awalnya kecamatan kecil, nyempil, gak terurus dan berada paling ujung ketambahan adanya proyek pertamina yang ngebuat daerah itu semakin pengap punya hutan mangrove yang luar biasa luas. Menghadang air laut menggerus tanah kehidupan dan membuat masyrakat dapat tidur tenang di kala rembulan hadir dan air pantai pasang. Namun ketika masyrakat telah berkembang dan semakin banyak, mereka mengadakan perjanjian dengan pemerintah untuk menebang hutan mangrove tentunya melalui perhitungan agar tidak menjadi kerugian bagi si Mangrove yang telah menjaga tempat berpijak. Manusia hanyalah manusia apalagi tanpa pengetahuan, menebang si Mangrove tanpa sadar bahaya, menyakiti pacar yang baik aja bisa jadi karma apalagi nyakitin si Mangrove, hasilnya adalah perjanjian diawal hanya jadi perjanjian dan si Mangrove tergerus bukan hanya setengahnya tapi hampir hilang. Lahan si Mangrove berubah jadi tambak, ikan berkelimpahan, muncul dari mana-mana, masyrakat bersukacita, bersyukur telah mengganti Mangrove dengan tambak yang lebih menjanjikan. Sukacita dialami langsung oleh desa-desa yang ada dikecamatan Muara Gembong, kehidupan makmur nan sejahtera dengan ikan bertebaran di jala. Hidup bagaikan roda kawan, mungkin direm sebentar untuk kenikmatan tapi akhirnya Mangrove mulai membalas apa yang telah mereka lakukan. Abrasi terjadi, air laut naik ke tempat berpijak. Air tawar kini sudah bercampur dengan air asin. Air pasang yang dulu diolok karena tak bisa naik menggenangi jalanan yang berubah menjadi sungai, menghantarkan lumpur-lumpur dan membuat sekolah berhenti manakala pasang terjadi. Masyrakat yang gelisah berteriak kepada pemerintah, pemerintah menutup mata terlampau bingung atas kondisi yang telah terjadi. Masyrakat berteriak, air laut tak mendengar. Kehidupan telah berubah, rumah yang dihuni padat mulai hilang, tanah tempat berpijak menjadi rapuh dan lumpur menghantar mereka kepada kesadaran bahwa mereka telah melewati batas. Rumah-rumah yang berjejer telah ditinggal, meninggalkan puing ditengah kemerosotan keperdulian. Hanya tinggal beberapa rumah berjejer menanti tangan-tangan bukan hanya untuk memberi tapi untuk menuntun, mengajari mereka bagaimana caranya. Ikan sudah tak ada, hilang bersama keserakahan yang dulu hadir. Jika pun ada hanya lewat segelintir lalu hilang sejenak. Kehidupan tak seperti dulu lagi, si Mangrove tak lagi tegak berdiri menghadang air laut dan masyrakat kini yang masih bertahan menunjukkan kecintaan mereka kepada tanah kelahiran meski tanah itu tak lagi subur, meski tanah itu kini perlu diperjuangkan untuk dihidupkan kembali"

 Kira-kira kalau di-alkisah-kan ya begitu, Hutan Mangrove sudah tidak lagi berjaya, tidak berhak menyalahkan siapapun meski pada akhirnya ada pendapat dalam diri sendiri siapa yang salah.
ini bareng komunitas pendidik
Melalui kepedulian terhadap tanah kelahiran, Bekasi, komunitas-komunitas pun mulai bergerak memperjuangkan keberadaan Hutan Mangrove. Dari tahun ke tahun penanaman Mangrove pun meningkat diiringi dengan #SaveMugo atau Lutung Jawa. Yap Lutung Jawa juga terkena imbas nih. Mereka ketar ketir karena bukan hanya habitat mereka (hutan mangrove) yang semakin tergerus tapi juga orang-orang yang memperjual belikan mereka. Kayaknya gak aneh ya kalo Lutung Jawa diperjualbelikan wong manusia aja diperjualbelikan, dunia udah edan emang gan...

ini sungai citarumnya
Setelah diceritakan alasan-alasan yang mendasari itu semua, kita pun melanjutkan perjalanan menggunakan perahu ke daerah penanaman mangrove. Membelah sungai citarum dan dalam beberapa menit dirundung matahari Bekasi yang ada 3 kita pun sampe. Menapak kaki sebentar, isoma lalu melanjutkan ke lokasi penanaman. Kalau gue liat di tipi-tipi rasanya nyenengin banget. Loe tinggal iket sama bambu yang udah disiapin selesai. Tapi kenyataan gak seindah badan Jupe bang, kita orang harus melewati sungai berlumpur dulu persis kayak benteng takashi deehh, lalu mulai menanam. Well jangan tanya gue, karena gue emang berhasil melewati lumpur tapi gak berhasil tanem, karena udah gak kuat lagi. Maklum porsi badannya keterlaluan, tapi seenggaknya gue bangga karena berhasil melewati sungai berlumpur dan bisa sampe diujung, meski harus minta bantuan teman untuk mengikatkannya di bambu yang terletak diujung. Makasih yaa mas, jasamu tak akan kulupakan #halah.

yaa itulah medan yang harus kita lalui, mari berjuang kawan demi hutan mangrove dan saudara kita lutung jawa


 Pada akhirnya gue emang gak bisa mengabadikan keindahan mutlak dari perjalanan kali ini, karena gue terlalu terpukau pada pemandangan yang baru pertama kali gue liat (biasa anak yang terlalu gampang excited). Ohya ini nih gue tunjukin penampakan buah mangrove dan dodol mangrove yang asem asem manis enyoy..


Begini nih kira-kira kalo dirangkum gimana gue melihat keindahan itu..

Indahnya langit terbentang luas dengan tanah kering sebagai pijakan. Tambak-tambak terpampang nyata dihadapan mata, sepanjang mata memandang kulihat sawah dan langit cerah membentang, membentuk sekumpulan awan menyambut kami semua. Di tanah yang panas kami rasa syukur atas hari yang indah dan cerah meski semalam diguyur hujan hingga tanah menjadi lebih basah dan lumpur menghadang. Jalanan sulit terlewati namun pemandangan yang baru pertama kali ditemui dengan luasnya sudut pandang, langit biru yang memancar dengan penuh semangat. Kulihat beberapa pohon mangrove berdiri menyambut kami. Meski kerikil hadir ditengah tapak kami namun tak menyurutkan antusiasme. Rumah yang hampir tak terlihat saat perjalanan dan jalanan yang senyap. Beberapa bangunan dari proyek pertamina terlihat, sesudahnya tentram, hening. Akhirnya rumah-rumah hadir, kunikmati sejenak dan kami kembali dilempar dalam senyapnya tambak dan pohon-pohon. Udara terasa panas, hati pun seperti itu. Tidak kuasa menahan kekuasaan Sang Kuasa. Ketika menginjak tempat kami menanam Mangrove yang dirasa adalah pedih, hilang sudah pesona rumah-rumah berjejer. Hilang ditelan laut pasang meninggalkan puing-puing tak terurus menunggu penghuni lain menyingkir. Namun pemandangan yang telah dilalui seakan menyedot segala perhatian galaksi. Manakala jalan pulang, berkerikil, berhati-hati. Gelap tanpa penerangan, bulan pun hilang. Hanya mengandalkan lampu motor dan suara motor yang menderu sebagai tanda ada kehidupan yang sedang berjalan. Keadaan yang senyap ini membuatku bergidik namun mensyukuri adanya karunia keheningan ini. Beberapa sudut jalan kutemui kemenyan yang mengeluarkan asap dan beberapa bunga tabur, bersembunyi dipojokan dengan lilin yang menerangi, menambah kesan aneh dimalam itu. Namun inilah, ketika satu bintang terlihat malam di perjalanan pulang berubah menjadi khidmat. Dan ketika melewati proyek pertamina dengan api membara yang keluar dari pipa pertamina menandakan sebentar lagi kami menuju jalan yang mulus. 

Begitulah pemandangan yang gue tangkap, kali ini juga gue gak bisa menyambangi Habitat Lutung Jawa karena sudah terlalu sore dan akses yang tidak mungkin ditempuh bila terlalu malam, mungkin ketika kedua kalinya gue tetap gak bisa menghadirkan pesona yang tertinggal dihati. Tapi mungkin jika kalian kesana, kalian bisa memberikan foto keindahan itu sama gue. :)
Memandang mentari terbenam rasanya menjadi hal yang berbeda disana.


#SaveMugo #SaveMuaraGembong #BukanMerekaTapiKita

4 comments:

  1. Dulu Aku pernah pengen ke muara gembong, tapi akhirnya pada lelah gegara nyasar trus bensinnya wasslaam :<

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah sayang banget, besok harus dijadiinlah *sok banget, wkwkwk :v

      Delete
  2. Replies
    1. akses mobil bisa, tapi jalanannya sampai saya datang terakhir masih rusak, jadi kalau bisa mobilnya jangan mobil ceper (kasian nanti kegores2)

      Delete

  • Etika Profesi Akuntansi