Saturday, April 11, 2015

Menghargai Kesalahan

Sebenernya ini kejadian udah lama, tapi jadi bahan perenungan sendiri.
Waktu itu ada kesalahan besar yang terjadi dan mengakibatkan beberapa perubahan terjadi, gak besar sih dan bisa dikatakan hanya ketat diawal saja, kebelakangnya kendor.
Nah teman gue ini komentar
"begini nih Indonesia, kejadian dulu baru bertindak"

Menurut gue perkataannya gak salah, dan emang prosedur di Indonesia gak sama baiknya sama para rakyat yang gak pernah belajar sabar dan mencoba sabar, dan ketika sabar malah dihina-hina. Nah gue termasuk rakyat yang gak sabar, dimana setiap kali macet gue gak bakal antri dibelakang tapi ngerangsek maju yang berbuah dikatain brengsek dari arah berlawanan, sorry men, jalanan kalimalang keras. 

Semua orang berjalan dalam kesalahan, kesalahan bagaikan acuan untuk menjadi lebih baik, akhirnya gue pertimbangkan untuk mencoba membandingkan dengan negara maju. 
Dan taraaa.. 
menurut pemahaman gue dimana pada negara maju otak para anak dicuci bersih untuk gak takut pada kesalahan ibarat kata berani kotor itu baik, mereka diajarkan pada pemahaman mendalam terhadap masalah lalu akhirnya mengumumkan kesalahan itu untuk kemudian dipelajari oleh orang lain agar orang lain menemukan jalan lain dan mencobanya, negara-negara ini merubah dari bibit terbawah, mereka menanamkan dari para orang tua-bayi-anak-dewasa, mereka memliki cara unik untuk mempertahankan setelah sebelumnya bertahan dalam kejatuhan. 

Di Indonesia, dimana semua elemen masih dikorupsi, dimana semua masyarakat masih belum sadar kalo ngerokok disamping anak itu sama kayak bunuh perlahan, dimana ketika diperingatkan untuk gak merokok malah bilang "tuh kakek gue lebih tua, perokok aktif" (what the hell men, kalau mau mati jangan ngajak-ngajak kali)
Kita jarang mendengarkan dan sulit untuk menerima bahwa apa yang dialami oleh orang lain akan berbeda dampaknya kepada diri sendiri, seringnya kita tidak mewaspadai apa yang sebenarnya bisa kita alami. Jangan ambil contoh begal deh, yang sekarang udah mulai surut dan seluruh polisi berduyun-duyun ngajakin berantem para preman emperan yang katanya begal, yang orang umum akhirnya ikutan ngebegal padahal tau itu dosa. Kasihan dosa sekarang derajatnya lebih rendah daripada pelacur.
Kita masih takut untuk berbuat kesalahan dan belajar dari kesalahan orang lain (kesalahan yang gue maksud bukan ngehamilin anak orang ataupun make psikotropika secara berlebihan sampe sawan. Karena itu udah jelas banget efek dan dampaknya, toh yang baca juga udah pada gede kan?)

Gue berbicara mengenai posisi kesalahan dalam kehidupan kita, Tuhan juga gak jail-jail amat ngasih kerjaan berupa kesalahan sama kita, dia mau kita belajar, dia mau kita maju, dia mau kita gak buang-buang nyawa dan dia mau kita terus beregenerasi. Gue rasa Tuhan menginginkan kita bukan cuman bertekuk lutut dibawah tampuk kekuasaan kebenaran yang telah didengungkan tapi juga kepada kesalahan yang seringnya kita injak-injak, kita belajar dari kesalahan tersebut (seharusnya) lalu memberitakannya agar menjadi kebaikan bagi sesama, bukan akhirnya menghantarkan kepada siapa yang harus disalahkan. 
Patutkah pencari kesalahan ini dicari, dicecar tanpa ada titik terang pada permasalahan yang kemudian timbul?

Gue inget banget sama perkataan temen gue,
"kenapa kita berpencar? kenapa kita gak duduk bareng, apa masalahnya kita pecahin bersama"
Dunia rasanya indah banget kalo emang semua kesalahan bisa dikatakan seperti ini,
"Masalah saya homo" - -"; silahkan dirukiyah mungkin
"Saya hamilin anak orang" - -"; berani tanggung berani jawab
"Saya pencuri" - -"; mencurilah dari orang kaya dengan mengetuk pintunya lalu kembalilah kepada yang membutuhkan, ah.. itu hanya ada dalam kisah robin hood saja.

Posisi kesalahan menurut gue adalah sebuah pemacu bagi kita untuk bergerak, gerakan ini pun akhirnya bergantung kepada apa pandangan kita terhadap masalah ini, lalu pandangan ini bergantung terhadap apa yang kita percayai dan materi yang ikut tumbuh bersama kita.

Jadi, kesalahan bukanlah sesuatu yang patut dihindari, kesalahan adalah sebuah materi yang harus dipelajari bahkan lebih baik dari orang lain, karena itu akan menambah visi kita ke depan dalam melakukan suatu tindakan, yang pasti jangan suka cari salah orang lain lalu nge-judge kayak kambing gak dikasih makan, semua ada alurnya, semua ada penjelasannya, materi yang tumbuh bersama kita itulah yang akan membawa pada kebenaran.

7 comments:

  1. INi kayaknya aku ngangguk-ngangguk aja deh pas ngebacanya. \O_o

    ReplyDelete
    Replies
    1. ngangguk kagak ngerti ato gimana nih? :v

      Delete
  2. Iya sih, tapi kalo ngelakuin kesalahan tapi diulangin mulu mah apaan namanya tuh?

    XD

    Kesalahan ada untuk bikin kita belajar jadi lebih baik, semestinya sih begitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. namanya sih bego, haha..

      tanpa sadar manusia seringkali mengulang (yang harusnya dengan aksi yang berbeda)

      Delete
  3. Seharusnya kesalahan itu dilakukan sekali dan dijadikan pelajaran.. Tapi faktanya emang ngga segampang itu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap, betul.. *lalu kita akan lari ke kamar dan garuk tanah, haha

      Delete

  • Etika Profesi Akuntansi