Sunday, April 12, 2015

Aku tak apa-apa (1)


Menurut kalian, untuk apa manusia diciptakan kalau bukan untuk diakhiri?
Menurut kalian, untuk apa manusia hidup kalau bukan kematian yang menunggunya diujung kehidupan ini?
Ya, begitu kan? Pada hakikatnya manusia hidup untuk mati sama halnya manusia makan untuk kenyang dan minum untuk menghilangkan dahaga.
Menurutku, kita semua akan mati, karena memang itu adalah hak sekaligus kewajiban sebagai manusia, apalagi dikehidupan yang sangat membosankan ini. Segala ujian hidup, semua manusia yang munafik lagi hina, semua manusia yang merasa mempunyai jawaban atas segala pertanyaan padahal mereka tahu betul mereka menyembah Tuhan.
Menurut kalian, apa gunanya diciptakan Tuhan?
Menurut kalian, apa benar kita tercipta dari Tuhan?
Bukannya aku meragukan Yang Hakiki, tapi aku meragukan definisi Tuhan dari pandangan kalian semua. Kumohon jangan tersinggung karena aku pun meragukan kemampuanku dalam mendefinisikan Yang Hakiki.

Aku bukannya menyesali kehadiranku didunia ini, aku hanya mempertanyakan kegunaan diriku disini, eksistensiku, dan apa sebetulnya aku ini. Banyak orang yang dengan gamblang berkoar-koar bahwa mereka lebih mengenal diri mereka sendiri dibanding dengan siapapun dimuka bumi ini ataupun mengenal seseorang dibanding yang lain, nge-judge lalu menari-nari sambil menginjak kehormatan dari kodrat yang telah dipandang sebelah mata.
Itu manusia.. biar bagaimanapun, meski kita mengelus dada, akhirnya kita mensyukuri bahwa itu bukanlah kita dan kita patut bersyukur. Lalu bagaimana dengan mereka yang bagian juga dari kita?

Manusia, makhluk astral ciptaan Tuhan yang diberikan tubuh dan juga otak, hanya itu saja. Janganlah kamu berharap lebih.

Tuhan menciptakan orang miskin apakah karena pada akhirnya Tuhan muak dengan orang kaya?
Tuhan menciptakan orang pintar apakah karena pada akhirnya Tuhan lelah dengan orang-orang bodoh.
Namun sayang, Tuhan sayang dengan umat terpilih yang memiliki keajaiban-keajaiban, maka dia cepat mengambilnya sebelum umat terpilih itu tercemar oleh polusi kejahatan yang menyelimuti bumi.


Ah, bumi.. sekarang ini banyak sekali bendera yang mengatasnamakan lingkungan, berkata bahwa sebaiknya kita menjaga lingkungan. Kita sadar namun pada akhirnya dengan kesadaran itu justru membawa perubahan kemunduran yang membuat siapapun sakit hati karena lelahnya teriak dihadapan matahari dan hanya bulan yang menjawab.
Manusia.. ketika sudah bosan tinggallah sudah. Barang berharga pun menjadi sampah, sesuatu yang dipuja-puji hanya menjadi seonggok barang bekas yang sudah tidak berguna.

Manusia,, sampah kehidupan.

Kalau kalian mengatakan aku skeptis, itu tidak pernah menjadi masalah bagiku. Karena aku ini bagaikan kerikil, tidak tumbuh tapi terkikis, tersingkir dan bukan apa-apa. Aku hanyalah kerikil yang akan kalian tendang bila kalian sedang kesal ataupun bosan, aku hanyalah kerikil yang menjadi penyangga untuk barang-barang yang sudah tidak seimbang. Bagaikan pelengkap kehidupan, keberadaannya bukan sebagai sebuah fungsi tapi hanya sebagai pertanyaan. Untuk apa sebenarnya aku ada?

Aku berjalan terus tanpa henti, selalu menoleh kesekitarku. Tidak pernah merasakan bahwa rumput tetangga lebih hijau namun tidak merasakan ketentraman dalam halaman rumah sendiri.
Rasa iri tidak menjalar dalam hidupku, aku telah khatam, dalam darahku sendiri mengalir kata iri dan dengki. Jadi untuk apa aku mengatakan bahwa aku iri karena seyogyanya iri itu telah menjadi darah yang mengalir disekujur tubuhku.

Ayahku seorang pemabuk dan itu cukup untuk membuat keluargaku hancur berantakan. Ibuku akhirnya meninggal dengan senyum yang sangat ikhlas, padahal dia mestinya tersadar bahwa aku masih hidup dan harus menjalani siksaan ini sendiri. Kadang kematian sungguh tidak adil.
Ayahku dipenjara, aku pun hidup dirumah tetangga yang memperlakukanku dengan baik layaknya pembantu, sungguh mengejutkan mengingat dia adalah wanita simpanan ayahku.
Ayah keluar lalu siap masuk kembali dan aku telah bernazar akan puasa selama sebulan bila ayah tidak keluar lagi, setidaknya aku takkan direpotkan dengan kematiannya.
Kakakku sendiri hilang entah kemana. Sungguh kehidupan yang pantas ditertawakan.
 Kehidupan ini keras, sekeras batu penjuru yang tidak akan bergeser. Aku bukanlah batu penjuru apalagi batu petunjuk, sudah kukatakan aku adalah kerikil dalam kehidupan, batu sandungan bagi siapapun yang nyata.
Aku terus berjalan dalam gelap.
Aku terus berjalan dengan mata tertutup.
Aku terus berjalan dengan telinga yang tuli.
Sampai akhirnya aku berhenti disuatu pos, dan mulai menginginkan kematian sebagai penjemput bagi hidup yang segan.
                                                                                 -O-

Seperti biasa, siang yang begitu terik menarikku keluar dari peraduan dan dipaksa menatap mentari yang dalam hitungan jam akan hilang dari pandangan. Aku sedang diatap sebuah rumah sakit, berdiri, bersandar disebelah pintu. Berharap bahwa ketika aku sudah tak bisa melihat malam ada yang bisa meraih diriku, menarikku hingga aku tak lagi melihat hal-hal yang tak menyenangkan.

Tiba-tiba pintu terbuka, anak lelaki keluar dari pintu itu, berpakaian pasien dengan rambut acak-acakan.
“lucas, aku harap kamu tidak melakukan yang tidak-tidak. Lucas!” terdengar jeritan perempuan, ah dia dikejar oleh banyak orang. Lelaki yang diteriaki Lucas itu tidak mengindahkan apapun, dia masih terus berlari menuju tepi atap lalu melewati pagar. Kini sampailah dia pada pertarungan nasib, pengujian tekad, seberapa jauh dia akan mencoba melompat, sejauh mana tekadnya untuk melompat dan seberapa keberaniannya untuk menghadapi masalah yang akan dia hadapi.
Hidup hanya memiliki dua pilihan, hidup atau mati. Hidup memiliki dua pilihan kembali menghadapi atau berlari, namun mati hanya memiliki satu pilihan, menyesal dalam keheningan malam. Manusia berhak berlari atau dengan berani menghadapi lalu kenapa mereka masih menginginkan mati sebagai pihak ketiga dalam penyelesaian masalah?

“aku tak takut apapun, aku akan melompat..” ucap lelaki itu yang disambut dengan teriakan dan permohonan belas kasih agar tidak melompat dan merepotkan semua orang. Aku mendekati mereka, tertarik dengan masalah ini. Lelaki itu terlihat meragu namun tidak merasakan jalan keluar kalau dia tidak melakukan itu.

“Jangan mendekat, biarkan aku melompat” sahut lelaki itu ketika perawat lelaki mencoba mendekatinya dari samping

“melompatlah” bisikku, membuat semua yang berada disitu melihatku begitu juga dengan lelaki itu

“aku bilang melompatlah” aku mengulang apa yang telah aku katakan, membuatnya malah membeku dan melihat kebawah dengan ragu. Aku mendekatinya

“aku tidak akan menghalangimu” ucapku, aku pun mendekatinya dan mencoba melepaskan tangannya yang masih memegang erat pagar ditepi atap. Dia takut. Dia tidak ingin mati. Dia hanya ingin memastikan apakah kematian itu untuknya atau bukan.

“tidaaaakk..” dia berteriak ketika akhirnya kulepaskan tangannya yang satu lagi sehingga kini dia memelukku dengan erat, tak ingin merasakan kematian yang sesungguhnya. Ketika aku membantunya untuk masuk lagi kedalam zona aman, kakinya terpleset dan membuat tengkuk leherku tertarik ke bawah, hingga semua penjaga akhirnya mendekat dan mencoba membantu kami, namun memang tepian yang rapuh, aku mendorongnya masuk kedalam zona aman sedangkan aku sendiri jatuh.


Melayang. Bebas. Tanpa Beban
Kubiarkan diriku melayang tanpa tau apa yang telah menantiku dibawah sana.


                                                                  

-0-

“baguslah kamu sudah sadar” suara perempuan, perempuan yang terisak ketika seorang lelaki yang berarti baginya hampir kehilangan nyawa. Aku terbangun dan melihat perempuan itu ditepi ranjangku sedangkan lelaki itu duduk dengan menundukkan kepalanya.

“apa kamu tidak apa-apa?” tanyaku pada Lucas, dia hanya berkata ya tanpa memandangku.

“Bagaimana rasanya membunuh?” tanyaku kembali dan kini aku mendapatkan seluruh perhatiannya. Dia memandangku lalu menangis. Aku berdiri dan berjalan kehadapannya.

“berhentilah menangis karena aku tidak apa-apa” ucapku kemudian, lalu mengucapkan terima kasih kepada perempuan itu dan pergi.
Untuk saat ini aku selalu merasakan Tuhan tidak pernah adil. Ketika aku menginginkan kematian yang kudapatkan hanya sebuah ketakutan, ketika akhirnya aku berhasil melakukan apa yang kusebut bunuh diri tanpa sadar aku telah menolong orang lain. Apa yang sebenarnya telah kuperbuat? apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan untukku?
Aku sudah terlalu muak dengan kehidupan tapi aku terlalu lelah untuk mencoba dan mencoba terus mengakhiri hidup. Lelah dengan kegiatan keluar masuk ruang psikiater dan lelah untuk terus mencoba bertahan dalam kehidupan yang bagiku telah hilang arti ini.

                                                                                  -0-

“Masih ada niat kamu kembali kesini?” kesinisan menyambut diriku, aku menatapnya nanar. Juni, seorang pelacur laknat yang menjajakan tubuhnya bukan demi kehidupan tapi demi kesenangan duniawi yang tidak akan pernah terpuaskan. Harus berbangga hatikah aku?

Aku pergi kekamar tanpa menjawab pertanyaannya, biarkan dia dan dunianya, biarkan aku dengan kesedihanku dan biarkan dunia ini memutuskan apakah aku masih layak menginjak sang bumi atau tidak.

“tok tok..” ada yang mengetuk pintu. mengetuk?. Rasanya itu adalah sebuah frasa asing yang terselip di pikiranku pada tempat seperti ini. Aku tinggal disebuah kontrakan berkamar dua, dimana ini adalah gang penjaja tubuh. Dan meskipun aku orang yang tidak menghormati arti sebuah hidup aku juga bukan seorang pengkhianat tubuh yang bersedia menjajakan tubuhnya. Kontrakan ini seringkali dipakai sebagai kamar untuk Juni dan langganannya yang biasanya akan membayar lebih mahal.

Aku mencoba mengintip dijendela dan kutemukan perempuan yang sebelumnya duduk dipinggir tempat tidurku.
Aku melirik kekanan dan kiri, melihat dia memang tidak sendiri tapi bersama bodyguard. Entah orang macam apa sebenarnya dia sampai harus dijaga seperti ini, tapi aku mendorongnya keluar sampai kami tiba disebuah lapangan dimana ditepi lapangan banyak gadis-gadis berpakaian seksi murahan sedang mengobrol.

“jadi kamu ini..” berprasangka buruk sama halnya seperti pelacur yang membenarkan dirinya

“katakan saja” jawabku sambil memandang kanan dan kiri, mungkin persepsi dia sedang dalam proses karena melihatku memakai baju dan celana panjang juga menggunakan selimut untuk menutupi kepala juga mulut sehingga hanya beradu pandang yang bisa kami lakukan

“aku ingin berbicara denganmu” sahutnya, membuatku sejenak berfikir

“Tunggulah dimobilmu, biarkan aku yang menghampirimu” ucapku lalu kembali ke kontrakan. Merapikan semua bajuku dan peralatan yang kubutuhkan. Ketika aku keluar kamar pintu depan terbuka, aku pun kembali masuk kedalam kamar dan mendengarkan siapa yang masuk. Aku berharap bukan pelanggan yang masih menginginkan tubuhku tapi Juni yang meski membawa pelanggannya itu masih membuatku merasakan aman. Ketika aku mengintip keluar aku menemukan Juni dengan pelanggannya dikursi kontrakan sedang bercumbu.

“aku akan pergi” ucapku padanya, tangannya pun mengibas kepadaku

“aku minta duit” sahutku kembali dan dia menunjuk laci dengan kakinya. Mulut dan tangannya kini sudah terkunci dan pelanggannya sama sekali tidak merasakan gangguan dari apa yang telah aku lakukan. Aku pun mengambil uang secukupnya lalu segera keluar.

“mau pergi kemana Violetaku sayang..” ah suara itu, mucikari. Aku menatapnya lalu memandangnya sinis menganggap rendah dirinya dan berlalu. Dia pun mengejarku, hendak menarik tanganku. Aku yang memiliki firasat bahwa akan ada kejadian ini untuk kesekian kalinya langsung berlari dan tidak pernah menatap kebelakang.

Biarlah masa lalu menjadi masa lalu, cukupkan dirimu dengan belajar dan mengenang, janganlah sampai terseret apa yang disebut dengan masa lalu itu.

Aku masuk ke mobil dengan terengah-engah. Mendapat tatapan aneh dari perempuan itu aku hanya berbisik jalan kepada sang supir dan bodyguardnya. Aku meninggalkan mucikari itu, aku pergi meninggalkan seorang pelacur yang telah menyekolahkanku sampai SMA dari menjual tanah rumahku. Miris, sampai tempat pulangnya diriku dan mengenang bagaimana aku dibesarkan saja tega dijualnya.

“berikan aku makan dan katakan siapa namamu” ucapku memegang perut dan memandangnya. Dia tersenyum lalu berkata

“Mey” jawabnya singkat dan aku tersenyum sehabis mei lalu juni.

“Aku ingin berterima kasih dan memintamu menjadi penjaga bagi adikku” permintaan sang kakak untuk adik yang terluka parah. Lukaskah yang dia maksud?

“berikan aku tempat tinggal dan makan” jawabku dan dia langsung mengangguk

“aku tidak tau bagaimana kehidupanmu sebelumnya, tapi ingatlah ini. Kamu tidak akan sendirian, jadi segala perilakumu akan kami pantau” jawabnya dan aku mengangguk.

Sederhana?
Begitulah semestinya kehidupan kawan. Yang membuat kehidupan ini sulit hanya pertimbangan-pertimbangan yang mendasari pada terpilihnya atau tidak terpilihnya pilihan itu. Bagaimana pada akhirnya dampak dari pilihan-pilihan yang tercipta atau yang dipilih.


-Bersambung-

11 comments:

  1. Jika ingin mengahdapi masa depan, maka tinggalkan;lah masalalumu di belakang. Jangan pernah dijadikan patokan ataupun acuan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. dirasa cukup aneh kalo mengatakan hal itu, apa kamu sekarang adalah masa lalumu terdahulu.
      apa yang akan kamu lakukan adalah karena di masa lalumu, jadi kalo bukan sebagai acuan atau patokan, untuk apa masa lalu ada? akankah kita mengulang kembali masalah yang ada?

      Delete
  2. nggak ada yang salah meman dengan hal yang baru.
    lagian, mendapatkan yang baru, bukan berarti harus melupakan yang lama~

    dan, seperti kata lo. yang salah adalah ketika kita nggak ada action sama sekali..

    ReplyDelete
    Replies
    1. seringnya kita bingung bagaimana memulai aksi itu..

      Delete
  3. Masa lalu ada bukan untuk terus disalahkan. Tapi dia ada untuk dijadikan pelajaran. Lagian juga nggak smua yang baru harus melupakan yang lama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap, tapi seringnya kehidupan berjalan seiring dengan hilangnya masa lalu

      Delete
  4. masalalu adalah kenangan terindah , hehe

    ReplyDelete

  • Etika Profesi Akuntansi