Saturday, March 28, 2015

Mengenai Diri Kita (Harga Diri)

Kita seringkali dimonopoli oleh keadaan dan perkataan orang lain untuk merendahkan harga diri, meski kita sadar sepenuhnya dan berusaha menurut kita bahwa kita tidak meletakkan harga diri kita lebih tinggi daripada yang harus kita jangkau.
Ibarat kata menyuruh orang miskin berlagak kaya ataupun orang kaya berlagak miskin.
Sulit.

Kita sudah menetapkan standar pada kebutuhan masing-masing, pada keperluan pribadi yang menyangkut kepada kadar kepuasaan kita terhadap sebuah kehidupan yang kita jalani.
Kita perlu membungkuk, ya.
Kita perlu berlutut, ya.
Kita perlu berdiri, ya.
Kita perlu mendongak, ya.


Tuhan tidak menciptakan kita sebagai keset yang diinjak kepalanya, ditendang hingga putus dengan darah bercucuran. Tuhan tidak menciptakan kita sebagai beban bagi kehidupan orang lain. Karena kalau memang Tuhan menciptakan kita seperti itu, dia tidak akan menumbuhkan kesadaran bahwa perlakuan yang kita perbuat akan sama halnya dengan yang kita terima, meski harus diakui, kita sendiri seringnya tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Tuhan. Berat. Ini saran gue, jangan pernah mencoba memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan, karena apa yang kita jalani aja bisa jadi 100 tweet kegalauan, apalagi kita coba mikir sebagai Tuhan ibarat kata Dewa Atlas yang harus make obat nyeri otot biar bisa ampuh lagi nanggung bumi.

Tidak dengan sayang yang berlebihan kalau kita menempatkan apa yang disebut harga diri atau ego menurut kita (mungkin) pada hal-hal tertentu dan menurut standar kalian merupakan hal yang baik untuk dijadikan sebagai harga diri untuk mempertahankan kesetaraan kita dihadapan sesama manusia.
Kenapa gue bilangnya kesetaraan sebagai manusia?
Karena seringnya manusia menilai dimulai dari penampilan, makanya kalo ngelamar kerja loe biasanya akan mencatut diri didepan cermin selama 3 jam untuk 15 menit wawancara yang akan menentukan segalanya.

Setelah gue berlelah ria menggunakan kita, kalian, dia, dan akhirnya kembali menggunakan kata gue untuk menegaskan kembali semua tulisan ini adalah buah pikiran dari kepala gue yang kecil dan udah penuh dengan asep dari knalpot hasil mencari mata uang rupiah demi kenyamanan perut dan kehidupan.

Harga diri pada dasarnya diperlukan, itu bukan rahasia umum dan merupakan hal mutlak bagi setiap insan, gak ada yang menjatuhkan manusia dengan manusia lain tanpa ijin manusia yang bersangkutan, yang ada adalah manusia itu memberikan ijin untuk dijatuhkan. Sama halnya dengan perlakuan terhadap suatu yang gue sebut daritadi harga diri, ini tentang gimana loe jual diri loe kepada masyrakat dengan pasang tarif.
Tarif yang meliputi kejujuran, keberanian, tanggung jawab, dan moral.
Berat?
jelas berat karena ini bukan untuk dipikirkan tapi buat dilakuin, yah setidaknya jangan pernah buat bangku sekolah 12 tahun jadi tempat sampah yang isinya udah dibakar abis, kosong nihil dan gosong.
menurut gue harga diri terbagi menjadi dua,
harga diri yang mempertahankan loe sebagai manusia dan harga diri yang akhirnya menjatuhkan loe kedalam kasta binatang,
Jelas tikus adalah koruptor maka ini gue sebut dengan harga diri yang menjatuhkan kedalam kasta binatang. Kita emang gak mutlak punya dunia ini, tapi gue percaya Tuhan menciptakan kita secara dinamis dimana kita belajar dan terus belajar sampe kiamat tiba diumur, memungkinkan kita untuk berfikir gak cuman rasional tapi juga irrasional.
Cuman kita yang bisa ciptain binatang yang bisa ngomong atau bangsa tazmania sambil nyengir, manusia yang berubah jadi serigala atau manusia yang saling kutuk, dan binatang gak bisa ciptain manusia yang bisa gonggong karena manusia bisa menirukan banyak suara, binatang gak bisa ciptain manusia yang berubah jadi Tuhan, karena mereka sendiri gak pernah kepikiran sampe situ, binatang cuman bisa liat kita dan saling melindungi secara naluriah.

Harga diri ini kita perlukan untuk melindungi kita dari hal-hal yang sekarang udah mulai dianggap wajar,
Harga diri bisa buat loe gapai impian, percaya?
Jadikan harga diri sebagai tolak ukur bahwa ketika loe berada dibawah maka loe harus berjuang ke atas, jadikan harga diri sebagai patokan, bahwa harga diri loe gak mengijinkan pembawaan pada obsesi berlebihan.
Gue pikir harga diri akan membawa kebenaran pada jati diri yang loe usung selama ini.
Baik buruknya akan membawa loe pada hakikat pembenaran kehidupan.



No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi