Sunday, March 15, 2015

Hujan Meteor (2)

Sang gadis yang kupanggil dengan Sarah semenjak kejadian itu kembali kepada keadaannya semula, dia kembali bekerja dirumah sakit, kali ini tanpa ijin sama sekali dan tanpa jam kerja diluar rumah sakit. Sarah masih menyimpan pedih yang tidak terhingga, meski pedih itu terasa berat namun dia selalu menipu dirinya dengan mengatakan bahwa kejadian dengan sang lelaki yang kunamai Mikhael adalah sebuah omong kosong, sebuah mimpi buruk yang akan berakhir.
Bukankah Mikhael selalu menemaninya, bahkan ketika dia terpuruk sekalipun, ketika semua orang salah paham padanya, Mikhael hadir membawakan senyum polosnya dan kepercayaannya kepada keajaiban. Kini Sarah tidak punya lagi alasan untuk membiarkan dirinya meminta ijin, padahal rumah sakit sudah menawarkan ijin cuti untuknya memulihkan diri dari pukulan berat itu, semua tau, semua memaklumi bahwa hati Sarah telah menjadi milik Mikhael sejak lama.

Sarah menipu dirinya bahwa Mikhael akan segera kembali kepadanya, membawakan senyumnya yang hilang, membawakan api semangat yang dulu ada padanya, membawakannya cerita tentang keajaiban yang tidak pernah dipercayai Sarah. Kehilangan akan selalu ada, Sarah sudah mengalaminya dari dulu, namun pada momen ini dia tidak mengharapkan kehilangan itu. Sarah tidak ingin kehilangan malaikat bisunya.
Ya, aku juga tau bahwa setiap pulang kerja Sarah selalu menyempatkan diri mampir dirumah Mikhael, berkunjung ke kamarnya, menyentuh setiap barang yang dimiliki Mikhael, duduk dikursi yang dulu sering dia duduki, ketika dia mengupas apel dan Mikhael memandangnya sembari tersenyum.

Dalam senyap mereka menjalin kebersamaan, dalam sunyi itu semua menjadi kenangan tersendiri bagi mereka.
Dahulu Mikhael selalu mengajak berbicara Sarah meski dalam senyap dan suara tawa Sarah selalu menjadi selingan kesenyapan itu. Kini tak ada lagi yang mampu mengajak Sarah tertawa, dia hanya menundukkan kepalanya, tidak berani memandang ke depan dan hanya menoleh kebelakang. Dia masih takut untuk memandang ke depan karena itu berarti dia tidak akan menemukan Mikhael kembali dihadapannya, tersenyum polos dan mengajaknya untuk menemaninya, sekalipun hanya memandang bintang dimalam hari. Dia selalu memandang ke depan dengan tangisan pada wajahnya, memandang ke belakang dengan senyum merekah.
Kehilangan ini pukulan telak baginya hingga semua orang bersimpati dan terus menguatkannya, namun semua sia-sia. Maka ketika dua tahun terlewati dan dia merasakan masih hampa dalam dada ini. Merasakan betapa sakitnya kehilangan orang yang sangat berarti.
Maka dimalam hujan meteor kali ini, dia memandang langit, mengeluarkan air mata dan menagih janji melihat hujan meteor bersama pada malaikat bisunya, Mikhael..

Aku kembali dikhianati cinta, ketika aku mulai mempercayainya, Tuhan mengujiku dengan mengambilmu. Apa salahku hingga harus kehilanganmu?
dua tahun sudah dan aku tidak bisa menerimamu yang telah tiada, aku terkukung dalam kutukan kegelapan untuk mengenangmu, takut memandang ke depan. Tuhan dibawah hujan meteor ini aku meminta untuk mengembalikan dia orang kesayanganku kepadaku, setidaknya ijinkan aku untuk mengatakan bahwa aku mencintainya, aku menyayanginya dengan segala kelebihan dan kekuranganku. Tuhan. Tak bisakah engkau mengabulkan doaku? aku mohon kepadamu kembalikan dia padaku. Dia sudah berjanji padaku untuk melihat hujan meteor bersama. Dia sudah berjanji dan dia tidak pernah mengingkari janjinya. Tuhan aku menagih janji padamu, siapa yang akan meminta akan diberikan. Aku telah berusaha merawat orang dan kini berikan aku kesempatan sekali lagi. –Sarah



-bersambung

2 comments:

  • Etika Profesi Akuntansi