Wednesday, February 4, 2015

Sebuah Kubangan

Pagi itu mendung, tiada tawa terdengar tiada kehangatan pagi tergambar hanya suara desahan angin yang melambai kepadaku, memperingatkan tentang cuaca yang tidak begitu baik. Desahan angin yang beriringan dengan desahan para manusia yang mengeluhkan dan berdoa agar tidak hujan dalam perjalanan ini. Aku pun termasuk kedalamnya, bukan karena aku tidak menyukai hujan, tapi aku kurang menyukai dingin yang dihasilkannya.
Seperti biasa pagi ini begitu ramai dan begitu berisik oleh kendaraan berknalpot, sekali lagi aku yang hendak mencoba tertidur dalam kendaraan beroda empat harus terusik dan memutuskan untuk memilih si roda dua. Berdoa dan bergegas, berdoa tidak hujan hingga selamat sampai ditujuan dan bergegas agar tidak terlambat. Jalanan begitu padat dan ramai, namun tiap kali melewati jalanan ini aku akan selalu memperhatikan satu hal.
Apakah kubangan telah tercipta atau masih kosong seperti dalam musim kemarau?

Tiap kali rintik basahi bumi aku memastikan untuk menoleh dan melihat kubangan itu sejenak, terisi penuh atau hanya menjadi genangan tanpa arti..

Ada atmosfir tercipta dari kubangan itu dan kenapa aku bisa terusik olehnya, bolehlah kuceritakan sedikit
Saat musim kemarau Lubang itu ramai dijejali para pengendara motor yang tak sabar untuk menanti macet, pernah kuberada disebelah lubang itu dan kulihat lubang itu tidak cukup dalam. Namun begitu hujan datang dan membasahi bumi, lubang itu menjadi sebuah kubangan, tidak ada yang mau lewat disitu kecuali benar-benar sangat terpaksa, dari keterpaksaan itulah pernah kutemui seseorang yang kesulitan keluar dari kubangan yang semestinya tidak terlalu dalam itu. Dia terhisap didalamnya, sulit keluar dan tidak ada yang mau membantu. Aku pun hanya memperhatikan dirinya dari kejauhan dan enggan turun untuk membantu. Macet, itulah alasanku. Orang itu masih berjuang keluar dari lubang itu, menghisap hampir setengah dari roda belakangnya, aku pun heran, mereka yang tidak terkena musibah itu pun bingung. Lubang itu tidak terlalu dalam namun mengapa orang ini tak juga urung keluar?
Kami semua mempertanyakan, kami semua berkomentar dalam hati namun tak ada satupun yang membantu. Kini dia hanya bisa tertatih mendorong motornya dan meminta Tuhan membantunya lewat kekuatannya sendiri, sedangkan pengendara lain hanya menjadi penyorak bisunya, tidak menolong hanya memperlihatkan rasa simpatik "untung bukan saya".

Suatu kali mungkin kita melihat seseorang tanpa bakat, tidak memiliki sesuatu yang patut dibanggakan, mungkin kita melihat seseorang hanya orang biasa yang bekerja secara biasa tanpa memperhatikan segala aspek yang ada padanya yang bisa saja menjadi sebuah pemacu dari pekerjaan yang terkait.
Kita terlalu menilai
Suatu kali mungkin kita terjatuh dan kita menganggap diri kita tiada arti, bekerja keras namun sama sekali tak ada apresiasi. Suatu kali mungkin kita merasa bahwa apa yang telah dikerjakan selama ini adalah sebuah sia-sia dan dipandang sebelah mata.
Kita terlalu cepat terjatuh
Suatu kali mungkin kita akan merasa bahwa kita adalah terbaik dan semua orang adalah biasa saja, sampai akhirnya kita sadar bahwa mereka yang selalu kita anggap remeh adalah mereka yang terbaik
Kita terlalu merasa tinggi

Layaknya sebuah lubang kosong, tergantung kita ingin mengisinya atau tidak. Yang pasti ketika lubang itu berubah menjadi sebuah kubangan maka kamu tahu bahwa saat kamu mengisinya, kamu tidak melakukan sesuatu yang sia-sia.

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi