Thursday, January 29, 2015

Rumah Impian

Siapa sih yang gak mau punya rumah yang mapan? gak usah besar apalagi megah yang penting waktu hujan gak kebasahan sampe sakit, waktu mentari lagi diskon gak kegosongan. Yang penting bisa buat ngehalangin angin dingin menusuk tulang dan sinar mentari yang ngebuat rambut jadi bule.
Dia bilang rumahnya yang penting layak ditempatin buat anak-anak dan terutama istrinya.
Dia bilang ini impiannya, mungkin sekarang harus ngebagi dana yang ada dengan pendidikan anak yang gak kalah pentingnya tapi juga untuk rumah yang emang diidam-idamkan.

Namanya Lik Yono, saudara gue yang sejak kecil selalu temenin gue main dan juga ngebantuin dalam proses pembangunan rumah yang sekarang gue tempatin, yang sekarang menjadi tempat berlindung gue dari bahaya cuaca. Dia adalah adik dari pihak ibu dan sejak menikah menetap di Bekasi. Pasangan muda yang merintis kehidupan bersama, mulai dari nol. Gue rasa mulai dari nol banget. Awalnya mereka ngontrak, Lik gue kerja sebagai buruh serabutan dan istrinya buka warung dikontrakan yang dihuninya. Yang bikin gue bangga adalah Lik gue selalu bekerja tanpa pernah pantang menyerah, bekerja demi istri dan anak dirumah, dia naik sepeda dan kerja didaerah cacing (gue aja yang naik motor kadang butuh waktu sejam lebih apalagi dia yang naik sepeda? superman banget gak sih Lik gue satu ini?) Istrinya menyulap kontrakan seadanya menjadi sebuah warung yang selalu dilengkapi barang dagangannya guna menyenangkan pembeli. Anaknya ada 4 tapi percayalah dari anak 1-3 semuanya berprestasi, gue aja sampe terharu mereka selalu dapet rangking (yang keempat gak gue sebutin karena masih belum sampe umur 5 tahun, tapi si kecil Aira ini selalu mendapatkan rejeki berlimpah dari tetangga. Sungguh terberkati banget deh..).


Pernah gue tanya apa impian dari Lik gue ini dan dia jawab dengan mantap, punya rumah yang bisa buat ngelindungin anak istri. Waktu itu gue cuman nyengir sambil mikir gimana caranya? Lik gue selalu mengutamakan pendidikan sebagai yang nomor satu, yang pasti dia bilang yang penting pendidikan anak dan hari ini makan itu aja. Tapi gue denger bahwa impian terbesarnya adalah mewujudkan sebuah rumah layak untuk anak dan istri. Gimana caranya?
Itulah awal pemikiran skeptis yang gak pantes ditiru, apalagi skeptis sama impian orang lain yang harusnya didukung. Nyokap gue yang tau bahwa Lik gue punya impian ini, setiap selese ngebetulin apa-apa dirumah gue (maklum rumah gue lebih tua dari umur gue) dan nyisain barang layak pake yang bisa dijadiin rumah nyokap pasti simpen digudang dan sampe Lik gue kerumah dia baru ngasih tuh barang.
Ohya, permasalah utama ngebangun rumah kan satu yaaa.. yaitu Punya Tanah. Sungguh menggembirakannya adalah Lik gue berhasil bersatu padu ngumpulin duit selama ini untuk ngebeli tanah dan mulai ngumpulin apa-apa aja yang dibutuhin untuk ngebangun sebuah rumah impian.
"Lakukan saja secara perlahan. Pelan-pelan tapi pasti. Pasti dan memiliki rencana. Tidak usah terburu-buru yang penting memiliki rencana yang matang"
 Itu nasihat yang pernah gue denger dari ibu ketika menasihati Lik gue dan istrinya. Dan mereka lakukan itu, pembangunan rumah mereka cicil. Satu kampung berembuk dan turun tangan untuk ngebantu Lik gue ngebangun sebuah rumah kecil ditanah yang masih tersisa banyak. Rumahnya masih beratapkan seng, temboknya pun masih tambalan-tambalan seng sehingga bila panas menyengat rumahnya seperti di oven. Tapi mereka mensyukurinya, menikmatinya. Warga sekampung yang membantu pun mengucapkan selamat. Karena meski rumah seadanya, mereka telah berhasil tidak mengontrak lagi. 
Rumah Impian milik Lik gue masih berjalan. Kini sedikit demi sedikit sudah terbentuk kamar, dapur dan lantai atas yang masih tonggaknya saja. Meski masih beralaskan tanah dan batu-batu, meski masih belum sempurna namun Lik gue yakin bahwa impiannya untuk memiliki Rumah Impian bersama keluarganya akan terwujud.
Indah bukan? Pasti tapi pelan, nafsu dan terburu-buru hanya akan membawa kita pada satu keraguan yang akhirnya menghancurkan segala usaha yang telah terjalin. Semangat buat Lik gue, yang meskipun rumahnya masih beralaskan batu dan tanah tapi gue selalu betah untuk main kesana dan guling-gulingan disana. 

sumber
 
 

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi