Friday, January 30, 2015

Mengajar Untuk Hidup

Dia ini salah seorang perempuan tangguh yang gue kenal, gak pernah takut nangis dihadapan orang tapi juga gak pernah takut bahagia bersama orang lain (yang meski orang itu adalah kasih tak sampai dan sedang membicarakan pacarnya *agak miris sih sebenernya*).
Dia ini sosok yang selalu ramah apalagi sama emak-emak, baik emak-emak yang nelpon malem-malem dan ganggu tidur dia cuman nanyain PR anaknya halaman berapa ataupun emak-emak yang rempong sama dapurnya dan akhirnya minta bantuan dia. Keramahannya selalu diperlihatkan dimanapun kecuali ketika sedang membicarakan mimpinya, dengan tekad menggebu-gebu dia pasti membicarakan impian-impian yang ingin dicapainya dimasa mendatang termasuk mencari calon pendamping yang direstui oleh Tuhan.

Nama kawan gue ini Mbak Yuli atau gue biasanya manggil Mbak Yul, kita panggil dia Mbak untuk menghargai umurnya yang udah bau tanah (haha, bohong ding. Umurnya 24-an kok, masih single dan istri idaman *eh sekalian promo yak*). Impian dahulu adalah menjadi seorang pendidik, maka dia masuk jurusan sastra Inggris di UKI. Sambil kuliah sambil kerja, dia kerja sebagai pengajar part time dibeberapa tempat les dan sekolah.

"Gak pernah mau jadi beban orang lain, apalagi orang tua. Selama kita masih sehat dan mampu ya lakukan sendiri"


Mbak Yul selalu menekankan hal ini sama gue, selama kita sehat dan mampu segalanya harus kita hadapi sendiri, meski kadang dia juga selalu menyelipkan perkataan bahwa kalo butuh bantuan ya harus diungkapkan (super gak sih Mbak kita satu ini?)
Selesai kuliah yang disambi kerjaan part time (part time dia ini bener-bener sampe hari minggu dia pake buat ngajar looohh) Mbak Yul ini langsung kerja di salah satu sekolah ternama di Jakarta, uniknya bekerja ditempat ini (dengan posisi yang udah lumayan) gak  menyurutkannya untuk masih mengambil jam mengajar ditempat kursus-kursus yang dahulu semasa kuliah sempat dia satronin. Kegigihannya bekerja seakan ngebuat semesta gue terusik dan akhirnya menanyakan tentang alasan dibalik kegigihannya itu. 

"Gue pengen punya tempat les sendiri. Makanya gue kerja gigih begini"

Gak pernah kenal rasa lelah bolak balik Jakarta-Bekasi, berangkat subuh pulang malam, sabtu masih dipakai untuk mendidik anak orang jadi pinter, kadang minggu dipake juga karena ada permintaan orang tua murid. Gue rasa mengajar bagi Mbak Yul bukan cuman aktifitas rutin tapi udah jadi belahan hidupnya, tonggak kesetiaan dan pondasi untuk ngebangun impiannya. Kerja kerasnya kadang ngebuat gue risih sama perilaku gue yang kadang malas-malasan demi impian gue sendiri. Ketangguhannya sebagai wanita yang sering diejek "bakal berakhir didapur" juga selalu dia patahkan dengan argumen "kalo suami istri bisa nyari nafkah kehidupan anak pun setidaknya terjamin".

Impiannya inilah yang kadang ngebuat gue harus berusaha dan lebih berusaha untuk bisa menggapai impian milik gue sendiri. Dia dengan keterbatasannya bahkan mempunyai impian yang begitu mulia dan masih setia dengan bekerja keras. Kerja keras Kerja tulus Kerja ikhlas. (Ohya selain gue dukung abis tentang impian loe Mbak Yul, gue juga doain abis tentang jodoh loe -amiiinnn-) :D

Sumber

2 comments:

  • Etika Profesi Akuntansi