Thursday, January 15, 2015

Dorce Gamalama : Suksesku Untukmu #1day1dream

Bunda Dorce?
Iya!
Idola Loe?
Iya!
Bukan karena dia transgender dari cowok ke cewek terus gue jadi mau ikutan berubah dari cewek ke cowok, gue masih bersyukur sama ini semua kok. Eh, bukan berarti Bunda Dorce gak bersyukur, dia cuman merasa ada yang salah aja kok dari hidupnya dan akhirnya mengajukan surat resmi untuk melakukan pertukaran jenis kelamin.

Mungkin loe semua udah ngerti gimana hingar bingarnya Bunda Dorce menghadapi semua kehidupannya, mulai dari pindah jenis kelamin sampe dia nanjak jadi artis yang hot gini. Dimulai dari gak punya siapa-siapa sampe akhirnya dia punya anak asuh, dari pengemis kecil sampe sekarang artis tenar yang sering sumbang sana sumbang sini.
Hidupnya gak semudah jalan tol Amerika apalagi jalan tol Indonesia yang masih banyak tambelan, Hidupnya bagaikan jalanan kampung Jakarta, becek sempit dan berlubang. Gak ada dalam kamus hidupnya bahagia sejahtera dari kecil, gue rasa Mbak Agnes Davonar pun menyadari bagaimana perasaan berjuang itu, berjuang hingga sampai ketitik ini (kenapa mbak Agnes? karena dia yang udah buat review lengkap banget tentang Bunda Dorce).

Yang gue lihat dari kehidupannya bukan cuman kehidupan susah payah yang dia lakukan, bukan cuman bagaimana akhirnya dia menghadapi ejekan masyrakat yang mengklaim dirinya tidak ada rasa syukur ataupun menyalahi hukum masyrakat dengan merubah jenis kelaminnya, bukan cuman prestasi-prestasi yang benar-benar dari keset jadi orang yang duduk diatas kursi tertinggi. Tapi juga bagaimana akhirnya setelah Bunda Dorce mencapai impian itu. Dia gak cuman berbangga hati dan memamerkan senyum sombongnya kepada mereka yang dahulu pernah menginjak-injaknya. Dia menyumbangkan uangnya untuk kesejahteraan anak-anak terlantar dan juga mengambil anak asuh. Bunda Dorce tentunya tidak ingin apa yang terjadi padanya terulang lagi. Namun salutnya gue adalah ketika dia terbang dia gak lupa buat nginjek tanah lagi.

Tentunya harapan kita adalah mencapai segala impian yang tengah dituju dengan usaha yang sekarang kita lakukan, namun ada baiknya kita belajar juga bagaimana memperlakukan ketika impian itu telah sukses. Apakah kita akan terus menggenggamnya dengan erat? mempertahankannya? membaginya dengan yang lain? atau apa..
Yang gue tau pasti bahwa segala impian yang indah gak pernah dicapai dengan instan kayak mie rebus ataupun kayak makan kacang rebus, buka lalu buang. Yang gue tau adalah impian itu selalu ada tahap dan kesabaran yang diperlukan, impian adalah bagaimana ketika kita membangun dan tidak melupakan bagaimana kita mengisinya.

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi