Sunday, November 30, 2014

KEADILAN HIDUP

Aku bukanlah anak yang menyenangkan kalau kata tanteku seperti itu, katanya aku anak yang terlalu kritis untuk seusiaku. Dan kurasa itu bukanlah salahku, salah asuh mungkin. Boleh kan seorang anak menyalahkan orang tua disaat orang tua mulai menyalahkan anak atas tersitanya waktu mereka.

Sejak usia 5 tahun aku tinggal bersama tanteku, dia orang yang baik dan sangat penuh semangat. Bahkan kalau aku katakan, dia sangat bersemangat untuk ukuran berkekurangan sepertinya. Dia buta dan selalu meraba-raba jalanan dengan tongkatnya, kacamata cantik bertengger dimatanya. Pernah ketika kami sedang duduk berdua dibangku teras rumah aku bertanya kepadanya.

Friday, November 14, 2014

Gadis Bali (2)

Liat dulu part 1-nya maaang


Begitu dia turun dari motor gue, akhirnya dia narik nafas dan mulai berbicara.

“Maafin gue yang gak bisa bales perasaan loe. Maafin juga karena gue, hubungan loe sama kakak loe agak merenggang, tapi gue mohon. Gue sayang banget sama kakak loe, gue mohon ijinin gue buat terus bareng kakak loe. Gue minta maaf banget” perasaan sedih tiba-tiba aja meliputi hati gue, sekarang siapa yang gak miris ngeliat cinta terpendam selama tiga tahun nangis didepan muka loe, minta ijin untuk pacaran sama cowok lain. Gue rasa gue adalah orang yang ‘sangat beruntung’ itu.
Gue gak jawab apa-apa, gue cuman pasang helm lagi dan starter motor. Melaju kencang menembus angin malam (setelahnya gue dikerokin sama Indra, thanks a lot ndra).

Kemudian gue banyak mikir, mikirnya gue gak lupa diselingi dengan emutan choki-choki dan petikan gitar Endah juga gak lupa sama percakapan Indra dengan dirinya sendiri.

“Mau gimanapun cinta yang terpendam itu salah loe rid, kan udah gue bilang ungkapin ungkapin”, kampret Indra nguliahin gue, tapi bener juga sih emang.

“cinta itu kayak bulu bulu halus ketiak, gak keliatan dan gak berasa kalo kita pake baju berlengan, tapi kalo lagi gak pake baju berlengan keliatan dan berasa banget”, udah mulai menjijikkan perumpamaannya

Gadis Bali (1)

Cinta emang gak pernah salah, ya kalo Cinta disalahin kasihan dia dong. Kan hak dia bareng sama Rangga meski udah 12 tahun lewat. Okelah itu kisah yang lain. itu loh Love Life Li*e. Yang ini kisah gue, bukan gue mau curhat tapi okelah gue akuin gue mau curhat (meski ini kesannya gak gentle banget, tapi gue bakal berusaha gak nangis ketika menceritakannya. Dan meski gue nangis gue yakinin kalian bahwa kejantanan gue gak bakal berkurang karena curhatan gue).

Gue Ridwan gak pake Kamil dan bukan Rangga apalagi yang sedang mencari Cinta lewat find alumni. Cintanya gue tepat ada dihadapan gue. Cintanya gue ini teramat baik dan sungguh bagaikan malaikat turun ke bumi untuk menyapa manusia hina. Ya, meski gue gak bisa bilang dia seratus persen baik, tapi gue bisa pastikan cewek yang rapuhnya bagai rembulan dan cerianya bagai mentari yang menyinari setiap perjaka, dia adalah mahkluk yang menurut gue udah cukup ada satu aja, karena kalo ada banyak gue yakin gue termasuk yang disisihkan dari daftar mereka.

Hati emang gak pernah salah memilih, rasa sayang pun gak pernah salah atas kehadirannya, yang salah adalah ketika itu tidak pada waktu yang tepat, tidak dalam kondisi yang memungkinkan, dimana situasi sangat amat tidak mendukung. Dia mantan pacar kakak gue yang lebih keren kece dan tenang daripada gue. Mantan pacar doang terus masalahnya dimana? mungkin itu yang ada diotak kalian yang besarnya tidak lebih besar dari kepala kalian (ini jelas, karena kalo kebesaran rambutnya dimana coba?). Maka dari itu dari sinilah cerita ini berawal. Gue harap kalian menyimaknya baik-baik, bayangkan kalau perlu bagaimana pejantan memperlakukan sebuah cinta dan bagaimana kami kaum lelaki akhirnya terlampau semangat menggapai cinta itu meski kadang kami letih dan enggan untuk move on.

Monday, November 10, 2014

Phala-wan

"Kalau Indonesia merdeka boleh ditebus dengan jiwa seorang anak Indonesia, saya telah memajukan diri sebagai kandidat yang pertama untuk pengorbanan ini"
                                                                                Harian  Tjahaja, 29 April 1945 -Oto Iskandar di Nata-

Menurut gue kalimat diatas menggugah banget sampe ke dasar hati gue yang paling dalem, yang dalemnya lebih dari lautan *oke fokus*.

Pasti menurut kalian pahlawan itu sekarang ini bukan cuman yang ngacung-ngacungin tombak yang ujungnya ada mata piso, pasti bukan itu karena itu udah jadul dan gak hits banget buat jaman berteknologi mbah google ini.

Tapi meski pahlawan bukan orang yang teriak teriak “MERDEKA ATAU MATI” sekarang ini, pahlawan tetap dianggep sebagai sesuatu yang suci dan jauh dari kebanyakan orang. Kenapa? salah apakah si pahlawan ini sampai tidak ada lagi yang mau memasang badan untuk menjadi pahlawan?
Semua masih memilih sebagai si jahat daripada si pahlawan, karena pekerjaan si jahat lebih mudah dan ringan daripada si pahlawan *poor for hero*.

Saturday, November 1, 2014

Sebelum Selagi Sesudah

Siang itu panasnya Depok macem matematika yang solusinya gak nemu, bikin ujung kaki sampe ubun-ubun berasep.
Gue yang nongkrong di mantan kampus, jadi ngerasa aneh ngeliat mahasiswa-mahasiswi bersileweran dengan tas di pundak dan segerombolan anak yang mengelilingi mereka. Kalau dulu waktu masih ngampus gue gak pernah berfikiran bahwa hal ini bakal gue rinduin, betapa banyaknya tugas atau apapun itulah namanya. Awalnya ngerasa belum siap padahal waktu kuliah pikiran udah pengen cabut aja karena puyeng, well ketika menginjak arti lulus gue pun sadar bahwa sekarang gue udah menjadi bagian dari masyrakat seutuhnya.

Mungkin dilema yang gue rasain ini bukan cuman gue doang yang punya, tapi hampir semua temen seangkatan dan diatas angkatan membicarakan bahwa menjadi mahasiswa adalah sesuatu yang sakral dimana loe bisa bermain sambil berfikir, dimana loe bisa mengerahkan kekuatan loe bukan hanya untuk belajar tapi juga untuk menyalurkan apa yang loe sebut passion ataupun hobi, loe bisa eksplore segalanya diwaktu senggang loe kuliah, bahkan nyicip bagaimana rasanya kerja kantoran dengan magang, dimana untuk manusia malas, menjadi mahasiswa berarti masih berlindung dibalik ketiak orang tua dan selamanya dianggap belum cukup untuk menjadi bagian dari masyrakat.