Monday, December 15, 2014

HHK : Inter-View-Fun

Panggilan pertama ngebuat gue gak percaya sama apa yang gue lakuin, sama apa yang ada pada diri gue sehingga bisa dipanggil.
Well, tentunya lu pada masih bingung apa itu HHK. Tenang jangan bingung, di part 3 gue bakal jelasin :D

Bisa dibilang Interview pertama yang gue jalani adalah di Hok*ben, salah satu retail makanan jepang terbesar yang lagi mau lebarin sayapnya ke Singapura. Pertama kali interview itu rasanya bagaikan dihadapkan pada juri x-factor yang punya kripik pedes, HRD-nya terkesan menyepelekan peserta dan pada akhirnya saking berdegupnya jantung gue, gue memilih senyum sebagai pelampiasan dan dari situ mulai timbul bahwa gue gak bakal diterima. Jadi dihari berikutnya gue langsung meluncur ketempat kedua gue interview dan tes. Letaknya di Cawang, nah disinilah gue belajar sangat banyak sekali dari temen-temen seperjuangan dimana rata-rata mereka sudah berpengalaman.
Gue belajar hal ini nih :
"Gak usah gugup, gak usah tegang. Enjoy aja kalo ngejalanin, jawab sejujurnya. Jujur itu kan gak dosa. Toh ini bukan skripsi yang kalo gagal harus ngulang tahun depan. Kalo disini loe gagal tandanya Tuhan gak pengen loe ada disini. Dia punya tempat yang lebih baik"

dan gue langsung tergugah sama kata-kata itu. Jawab aja yang jujur apa adanya dan Tuhan sangat mengerti dimana gue sepantasnya berada dengan segala kemampuan yang gue punya.
Gue belajar bahwa dari tes psikotes pertama gue sampe kepada interview pertama itu gue terlalu arogan, gue melupakan keberadaan diri gue sendiri. Gue terlalu fokus sama harus dapet dan harus kuliah sampe gue lupa bahwa pribadi gue yang jujur dan rendah hati terbenam begitu dalam.
Kesadaran itulah yang akhirnya menarik diri gue seminggu gak memenuhi panggilan apapun dan memilih untuk introspeksi diri lebih dalam, dimana letak kesalahan gue. Yaah, sampai akhirnya yang gue bilang gue dapet panggilan yang sungguh itu semua diluar nalar gue. K*albe. Dan disinilah gue dengan kesusah payahan gue belajar menunggu, belajar bahwa menjadi jati diri itu sama pentingnya dengan nilai diri gue sendiri.

Ini interview yang paling santai dan asyik yang gue rasain setelah seminggu gue introspeksi. Mulai dari curhat sampe gue gombalin tuh mbak-mbak HRD, haha.. Mav ya mbaaakk..
inilah kronologisnya :
HRD : "jadi ayu nih? tolong ceritain diri kamu"
gue : "halo aku ayu, anak ketiga baru lulus kemarin dan diwisuda besok" (titik... mbaknya langsung mandang gue)
HRD : "jadi kamu mau ngelamar dibagian finance?"
gue : "yang pasti gak jauh-jauh dari jurusan"
HRD : "kerjaannya kan itu-itu aja, apa gak bosen?"
gue : "gak sih, apalagi ngeliat muka mbak" (mbaknya langsung nunduk)
HRD : "emang kalo bosen ngapain?" (mengalihkan pembicaraan)
gue : "ngeliat yang ijo ijo"
HRD : "kayak ini dong" (sambil nunjukin tali id cardnya)
gue : "nah iya, apalagi kalo ngeliat orang yang make" (dan sekejap dia ketawa, bingung mau ngomong apalagi mungkin)
Interview pun langsung dihentikan dengan dalih dia manggil user gue, dan gue keluar dengan wajah sumringah sambil ngebatin. Tuhan terima aku disini ya.
Gue rasa itu adalah interview yang gak bakal gue lupain seumur hidup gue. wkwk :v
Lain halnya sama user, dia sebatas nanya dan nampak terburu-buru, berhubung itu perusahaan manufaktur dan akuntansi biaya gue malah dapet c, dia sebenernya agak mempertimbangkan gue. Meski pada akhirnya gue diterima juga di bagian Finance, bagian yang lebih mengarah kepada pencatatan dan penseleksian untuk pembayaran.

Menunggu di perusahaan ini butuh kesabaran ekstra, bahkan ketika gue menghadapi dilema sudah bekerja ditempat lain dan ternyata diperusahaan ini diterima, gue pun meninggalkan pekerjaan yang baru aja gue jalani dan langsung pindah ke perusahaan k*albe in. Egois dan labil memang, tapi masa depan sudah ada ditangan, permohonan meraung-raung udah digelontorkan kepada Tuhan, dan Tuhan dengan baiknya menyambut dengan mengabulkan. Tegakah mengingkarinya?

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi