Monday, December 29, 2014

"Alasan dan Makna Kehidupan"

"Bagaimana liburanmu?" tanya tante padaku, sore rasanya semakin mendung saja kalau tante menanyakan hal itu

"seperti biasa, hanya aku dan angin yang menikmatinya" jawabku lalu menyesap teh yang terhidang dihadapanku, tanteku hanya tersenyum. Entah kenapa, tante dan ibuku adik kakak yang sama sekali berbeda. Tanteku penuh dengan keramahan, sedangkan ibuku jangankan ramah kalau bisa melihatnya tersenyum palsu pun aku rela standing applause.


"yang penting ingatlah untuk tidak membenci ibumu. Itu sebuah permintaan yang harus kamu turuti yaa" sahut tante sambil tersenyum dan aku hanya memandang langit, menggantungkan pertanyaan itu diudara. Tidak menyanggupi namun tidak kuasa menolak.

"kenapa orang semacam itu bisa menjadi orang tua?" aku mulai berbicara melantur
"kenapa orang semacam itu diberikan karunia untuk melahirkan?" aku mengulangi pertanyaan itu

tante hanya mendongak keatas, terlihat berfikir meski aku tetap tidak bisa menebak apa yang tengah difikirkannya.

"berhentilah bertanya kenapa dan mulailah mencari alasan dibaliknya"

"haruskah aku mencari alasan atau membuat alasan untuk menerima setiap keadaan?" tanyaku kembali

"karena dengan alasan manusia mempunyai makna kehidupan"

"apa maksudmu, jadi dengan alasan omong kosong itu manusia bertahan hidup?"

"pada kenyataannya, kamu bertahan hidup selalu dengan alasan. Baik itu membalas dendam ataupun berbuat kebaikan. Selalu ada alasan yang mendasarinya" tanteku lalu mengetuk-ngetuk hatinya

"katakan dengan gamblang agar aku lebih memahami" sahutku

"manusia butuh penopang semangat bukan? maka mereka membuat sebuah alasan untuk dicapai. Bagaikan sebuah rekaman impian, kamu akan bertahan sekuat tenagamu untuk bisa menggapainya, mencapainya dan merasakan kehadiran impian itu dalam pelukan mimpi setiap malam berharap besok dapat mewujudkannya. Jadi kalau boleh aku sambungkan sedikit. Mulailah berhenti bertanya kenapa dan mulailah cari alasan ibumu melakukan itu. Karena siapa tahu alasannya adalah karena dirimu" dan aku terdiam, mana mungkin alasannya adalah diriku? siapa aku ini, bukankah hanya seorang anak yang kebetulan terlahir dari rahimnya?

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi