Monday, November 10, 2014

Phala-wan

"Kalau Indonesia merdeka boleh ditebus dengan jiwa seorang anak Indonesia, saya telah memajukan diri sebagai kandidat yang pertama untuk pengorbanan ini"
                                                                                Harian  Tjahaja, 29 April 1945 -Oto Iskandar di Nata-

Menurut gue kalimat diatas menggugah banget sampe ke dasar hati gue yang paling dalem, yang dalemnya lebih dari lautan *oke fokus*.

Pasti menurut kalian pahlawan itu sekarang ini bukan cuman yang ngacung-ngacungin tombak yang ujungnya ada mata piso, pasti bukan itu karena itu udah jadul dan gak hits banget buat jaman berteknologi mbah google ini.

Tapi meski pahlawan bukan orang yang teriak teriak “MERDEKA ATAU MATI” sekarang ini, pahlawan tetap dianggep sebagai sesuatu yang suci dan jauh dari kebanyakan orang. Kenapa? salah apakah si pahlawan ini sampai tidak ada lagi yang mau memasang badan untuk menjadi pahlawan?
Semua masih memilih sebagai si jahat daripada si pahlawan, karena pekerjaan si jahat lebih mudah dan ringan daripada si pahlawan *poor for hero*.

Pertanyaan pertama dimulai dari “siapakah pahlawan itu?” jawabannya adalah kita semua pahlawan, mereka yang menyebut dirinya sebagai manusia adalah seorang pahlawan, baik yes or no (kalau aku sih yes gak tau deh yang lain…). Manusia dengan sikapnya untuk saling membantu, manusia dengan kebutuhannya terhadap manusia lain, dan pada akhirnya membawa kepada strata manusia untuk saling melindungi membuat kita seharusnya lebih peka dan menjadi pelindung bagi sesama.

Pertanyaan kedua pun muncul “bagaimana bisa kita menjadi pahlawan?” jawabannya sesederhana kita memakai celana, dari bawah tarik ke atas. Sederhana sekali tapi sangat dibutuhkan. Begitulah, jangan pernah mikir loe itu kudu jadi pahlawan, tapi lakukanlah yang emang sepantesnya loe lakuin.
Kita mungkin berfikir gak bakal bisa jadi pahlawan tanpa tanda jasa yang sekarang udah nuntut banyak jasa,
kita juga mungkin berfikir gak bakal bisa jadi pahlawan karena gak punya modal otak yang pinter untuk jadi kebanggan bangsa,
kita juga mungkin berfikir gak bakal bisa jadi pahlawan karena gak punya badan kekar untuk masuk akabri.

Tapi Ingatlah

Pahlawan disebut pahlawan bukan karena mereka menginginkan menjadi pahlawan,
Pahlawan disebut pahlawan bukan karena mereka mengincar posisi itu
Pahlawan disebut pahlawan bukan karena mereka gila sebutan itu
Mereka disebut begitu karena mereka bekerja keras, mereka berkemauan kuat dan bertekad bulat. Memajukan bangsa bukan dengan kemampuan yang tidak mereka miliki tapi dengan segala kemampuan yang ada pada mereka.
Mereka tidak membiarkan tubuh mereka membusuk dalam ladang kemalasan, tapi terus bekerja dan sadar bahwa Lingkungan membutuhkan mereka.
Mereka membiarkan rasa berani untuk bertindak, mereka melakukan sesuatu untuk bangsa. Meski kecil namun mereka telah bergerak.
Maka..

                                                    Pedulilah. Sadarlah. Percayalah

Bahwa Pahlawan bukan mereka yang terpaksa, tapi mereka yang mau menghasilkan.

Lakukanlah dari hal terkecil sampai tanpa loe sadari itu bakal besar dan akhirnya merubah kehidupan loe menjadi sebuah berkah karena sadar akan eksistensi sebuah kehidupan.



nb :
phala=buah/hasil
wan=manusia

8 comments:

  1. Manusia yang berbuah (phala-wan)
    Manusia yang dihasilkan (phala-wan)
    Manusia yang... ah sudah lah... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha.. manusia yang berbuah dan menghasilkan tepatnya :D

      Delete
  2. pas baca judulnya, kirain buah pala. pas baca dari awal sampe abis, ooooooo akhirnya aku mengertiiii~ ikutan aaah jadi phala-wan. eeeeh kalo perempuan mah phala-wati yaak >.<
    Selamat hari pahlawan aiuuuuuuuuuuuu~ *telat banget* :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk.. phala-wan aja cukup EL gak usah diganti jadi wati :p

      gak ada yang telat kok, yang telat itu cuman yang lagi 'isi' :v

      Delete
  3. "Pedulilah, Sadarlah, Percayalah" keren kata-katanya.

    ReplyDelete

  • Etika Profesi Akuntansi