Wednesday, September 3, 2014

Mimpi 3

Tadinya gue mau nulis mimpi 2,5 tapi kok kayaknya gue jadi mau ketawa sendiri, sumpah kayaknya nanggung banget buat judul pake setengah segala, mungkin besok seperapat kali... wkwk..

Tapi dibalik itu semua sebenernya gue mau nulis apa sih? apa lanjutan dari mimpi 2 gue, dimana dimimpi itu gue gagal dalam misi gue. Kurang tau juga sih sebenernya. Ini kayak bukan lanjutan, ini seperti dunia imajiner gue yang lain. Dimana gue bermimpi panjang menyelamatkan alien! mantep gak tuh gan! :D meski pada akhirnya gue mati ._.

-0-

Ketika aku bangun dipagi itu, badanku pegel semua, kayak abis lari tujuh puteran gor bekasi yang baru dibangun. Aku melihat kesekeliling, sebuah kamar yang sama sekali gak aku kenal tapi gak asing. Ada beberapa baju yang berserakan, aku pun melihat badanku sendiri.. telanjang dada.. dadanya rata...(titik)
Dadaku rata, begitulah yang terlintas diotakku, aku berlari ke kaca yang manis duduk ditembok kamar. Aku jadi cowok.. berubah.. ilang... dadanya.. rambutnya ilang...Aku langsung garuk-garuk pala, salting sama perubahan ini. Kalopun ini mimpi, gak biasanya aku berperan sebagai cowok. itulah yang ada diotakku saat itu.


Sambil terus berfikir, refleks aku mengambil seragam sekolah lalu turun kebawah, disana ada seorang kakek tua beruban dengan tubuh kurus kering, dia kakekku. Begitulah fikirku. Dan ini adalah observatorium, rumahku, tempat melihat bintang? okey ini salah satu hal keren.

"Sepedamu sudah benar, dibelakang rumah yaa.." ucapnya sambil tersenyum, aku ngebalas senyumnya lalu bergegas kebelakang rumah.
Kukatakan yaaa, semuanya terasa asing bagiku, secara mata aku tidak mengenal tempat ini, tidak mengenal aku sebagai siapa. Tapi secara naluriah aku sudah sangat akrab dengan segalanya.

"Haiii!" cewek.. cantik.. berambut panjang... naik sepeda, dan dadaku berdebar kencang. Rupanya aku menyukai gadis itu, senyumnya manis dan wajahnya tulus. Dan sekarang aku sama gadis ini naik sepeda bareng ke sekolah. Dia ceria banget dan aku cuman bisa senyum sama gadis itu. (Njiirr gue cewek meeen..).

Perasaan lelaki ini ke gadis itu adalah sebuah perasaan terpendam lama, tidak mampu mengucapkan karena takut merusak segala yang telah terjalin. Beberapa kali mencoba mengungkapkan tapi hanya senyum yang terlukis. Menyedihkan untuk si lelaki gak juga, aku malah merasa si lelaki ini kayaknya belum punya sebuah kepastian yang diberikan oleh si gadis yang selalu memanggilnya kakak (atau memang disinilah batas yang dibuat oleh gadis itu) tapi yang jelas aku jadi merasa punya misi bahwa aku harus mengajukan diri untuk menyatakan perasaan yang terpendam itu sama gadis ini. Sayang kan perasaan yang terbuang percuma, belum lagi kalo ternyata gadisnya juga sayang sama lelaki ini. Oke tekad sudah dibulatkan dan aku bakal mengucapkannya malam ini juga.

Malam itu aku masih didalam tubuh lelaki ini membuat janji sama gadis berambut panjang yang amboy itu. Membuat janji bertemu diatap observatorium karena kebetulan si kakek tua itu lagi pergi ke gedung penelitian yang jaraknya lumayan dari sini. Jadi aku baru ngeh kalo rumah ini berada di lingkungan yang dilindungi oleh pemerintah. Dan aku punya hewan peliharaan yang kayak buntelan bulu entah kucing atau apalah yang pasti aku sayang banget sama buntelan itu.

"ah.." ketika aku baru berjalan keluar rumah, aku menemukannya, tersenyum dengan gaun putihnya lalu menggandeng tanganku menuju atap observatorium. Belum sempat kaki melangkah sebuah asteroid melintas dikepalaku, membuatku menarik tangan gadis itu kemudian memperhatikan dimana jatuh asteroid itu. Aku sebetulnya gak yakin itu asteroid apa bukan, bisa aja itu pesawat ulang alik jatuh atau apapun tapi aku yakin itu adalah benda yang aku cari. Aku pun langsung mengambil sepeda dan mengayuh kearah benda itu jatuh dengan hati yang yakin bahwa itulah yang aku cari, bahwa itulah kehidupan yang membuat aku lengkap, yang meyakini bahwa aku harus melindunginya bagaimanapun juga. Rasanya seperti obsesi.

Gadis itu menarik bajuku, dia mengayuh sangat cepat membuatku kaget dan juga terpental dari sepeda.

"Menurutmu apa arti diriku?" tanya gadis itu sambil tersengal-sengal, disaat seperti ini, kondisi begini, aku lagi mengejar hal itu, aku harus mendapatkannya

"jawab aku.." ucapnya kembali dan aku cuman tersenyum, membawa buntelan bulu dari keranjang sepeda lalu berlari ke arah benda itu, gadis itu mengatakan hal lain yang sama pentingnya dengan keberadaan benda itu, tapi aku lupa dan gak bisa mengingatnya. Yang bisa aku inget adalah aku berhenti, berbalik menghadapnya lalu mengatakan "Aku menyukainya dan aku tidak memerlukan alasan".

Aku berlari semakin kencang, seiring dengan suara sirene yang terdengar dari kejauhan, sebuat tekad bulat mengembang, aku akan mendapatkan benda itu apapun bentuknya sebelum mereka yang tidak berhak mendapatkannya. Dan sampailah aku kesebuah lubang dengan api yang berserakan dimana-mana. Buntelan bulu aku lalu meloncat ngebuat aku berteriak lalu meloncat kedalam lubang itu.

benar itu bukanlah asteroid atau pesawat ulang alik yang jatuh, ini sebuah kubus hitam pekat. Aku mengambilnya dan kemudian kubus itu terpecah menjadi bagian-bagian membuat suatu gambaran yang indah, kehidpan yang menakjubkan yang berada di galaksi lain. Aku pun mengambilnya lalu berlari kembali kerumah, tidak boleh ada yang tahu bahkan gadis itu atau si kakek itu. Tidak boleh, aku harus menyimpannya, aku harus menyembunyikannya, aku harus menyelamatkannya.

Buntelan bulu yang kupeluk erat meneteskan air mata, aku tidak mengerti kenapa dia menangis, tapi aku merasakan suatu kelegaan yang luar biasa, dapat menemukan sesuatu yang hilang. Dan aku bergembira dapat menyelamatkannya sebelum manusia-manusia peneliti itu datang dan merenggut suatu kehidupan.

"Kalau kamu memang menyukainya, bantu aku juga menyukainya.." gadis itu masih berdiri didepan pintu rumahku, membuat tidak mengerti harus berbuat apa. Seperti inikah rasa cintanya?

"Apapun tentang diriku aku tidak akan melibatkanmu" dan aku masuk kedalam rumah, meninggalkannya sendiri diluar. Sebenarnya aku bingung apa yang sudah terjadi. Sama sekali tidak terfikirkan, bukankah lelaki ini menyukainya? tapi kenapa secara refleks aku mengatakan hal kejam seperti itu? aneh..

Ketika tiba dikamar aku membuka kubus hitam itu, buntelan bulu yang kutaruh disamping tempat tidurku membuka matanya, baru kali ini aku melihatnya membuka matanya, mata berwarna coklat terang dan muka yang bergembira. Aku pun tersenyum lalu kubus itu kembali berpencar dan menunjukkan kembali kehidupan itu, kehidupan dari galaksi lain yang telah hilang, diincar oleh semua mahkluk karena kehidupan abadi ditanah abadi. Tanah tak berdosa. Urung dari pertengkaran, keserakahan. Dan hanya ada keabadian.
Keabadian yang mendatangkan nestapa. Ketika semua mahkluk berperang memperebutkan tanah abadi dan menjadi tidak terkendali salah satu mahkluk dari planet lain mengunci tanah abadi dalam sebuah kubus dan menghempaskannya dalam black hole. tidak menjadi serpihan dan hanya terombang ambing dalam gelapnya galaksi. Hidup abadi namun tidak dapat pergi kemana-mana, hidup abadi tanpa pernah bisa mencicipi surga yang tercipta. Tanah abadi menjadi kutukan bagi penghuninya yang tidak mengerti. Dan aku yang tersadar menjadi mengerti. Tanah abadi bagaikan ilusi, hidup abadi bagaikan penderitaan. Namun bagi penghuni tanah abadi itu adalah kampung halaman mereka, tempat asal mereka, tempat dimana nenek moyang mereka akhirnya diberikan pengampunan dan diambil jiwanya oleh sang Dewa. Tinggal diluar dari tanah abadi sama saja dengan tidak adanya pengampunan dan jiwa mereka tidak akan diambil oleh sang Dewa. Buntelan bulu ini adalah salah satu penghuninya, itu sebabnya dia menangis, karena akhirnya dia bisa pulang.

Aku mengerti dan pecahan kubus itu menjadi satu kembali. Misiku adalah melepas segel tanah abadi dibawah rembulan utuh.

"Kamu.. kamu punya sesuatu yang bisa memuaskan mereka.." suara itu, gadis itu.. dia masih belum pergi..

"mau apa kamu disini?" tanyaku

"pengkhianatan tampan, dan aku tidak akan membiarkanmu memilikinya.." dia kemudian menyergapku, mengatakan bila aku menyerahkannya semuanya akan baik-baik saja, siaaall... kenapa mesti gadis ini? kenapa mesti orang yang paling dekat adalah seorang pengkhianat...
Aku kemudian berlari kencang, kini bukan hanya gadis itu yang mengejarku tapi juga orang dari pemerintahan, mereka menginginkan tanah abadi ini, mereka terlalu rakus untuk memilikinya, tidak akan kubiarkan. Rasanya seperti idealisme yang lama tertahan dalam diriku.

Luntang lantung dan tanpa kejelasan yang pasti kapan munculnya rembulan itu, yang pasti aku merasakan hari-hariku hanya dipenuhi dengan lari, keringat, sembunyi dan sisa-sisa makanan, terus berlari membawa buntelan bulu itu, terus berlari meski akhirnya sepatuku sudah tak kuat lagi, terus berlari sampai aku bingung harus berlari kemana lagi.
Sampai pada hari yang sudah tak dapat kuhitung lagi, desingan peluru memenuhi hutan yang kujadikan tempat bersembunyi, bahkan dimalam seperti ini mereka tetap mengejarku. Aku berlari kembali, meloncat kedalam sungai yang arusnya deras, tidak tertahan bagaimana mualnya aku, bagaimana air sungai memasuki mulutku. Tapi aku tetap hidup....

"menyerahlah kumohon.." sahut kakek, dia ada dibelakangku bersama dengan beberapa tentara pemerintah yang mengacungkan pistolnya padaku. Ini memuakkan

"tidak, aku akan berjuang deminya, tidak akan menyerahkannya. Aku akan melindunginya" dan kemudian mereka menembakiku tanpa kasih, aku jatuhkan buntelan bulu peliharaanku, aku jatuhkan kubus yang telah aku perjuangkan. Sebelum aku jatuh kubus itu pecah kembali menjadi beberapa bagian, lalu berputar cepat, buntelan buluku pun masuk kedalam galaksi itu.
Misiku telah berakhir. Aku sukses. Dan aku pun terbangun.

-0-

Pas gue bangun, tentunya adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan dan unik banget, haha.. 
Meski pas bangun rasanya gue mencium bau mesiu, tapi tak apa.. Gue telah menyelamatkan sesuatu. 

Yang gue pelajari dari mimpi ini adalah, bangunlah dan perjuangankan apa yang memang menurut hatimu perjuangkan. Gue kayaknya seringkali melupakan kata hati dan lebih memilih menggunakan otak sebagai gantinya. :))

Dan sebagai gantinya gue selalu mengingatkan diri gue sendiri, bahwa mimpi adalah sebuah refleksi diri, sebuah peringatan pada sesuatu. Mimpi bukan untuk dibuai terus menerus karena kita tidak hidup dalam mimpi. 

2 comments:

  1. Kak udah kak jangan kebanyakan miimpi, masa mimpi sampe yang ke 3 sih ehehe :D piiiiiiissss

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk untung gue gak bisa inget mimpi gue tiap hari, kalo inget terus bisa jadi mimpi 13 kali, wkwk

      Delete

  • Etika Profesi Akuntansi