Tuesday, September 2, 2014

Mimpi 2

Aku tak bisa mengatasinya sendiri, aku butuh bantuan..
Malam ini aku kembali kedalam mimpi kelamku, aku dikejar.. aku berteriak dan tidak ada yang mendengarku..
Aku terus berlari sampai hilang rasaku, hilang hidupku, keringat bercucuran..
Aku tak kuat, jangan perlakukan aku seperti ini, aku ingin menyerah..
Jatuh.. tersungkur dan berat mataku..
Ingatan tentang rumah sakit itu kembali lagi, menjamah setiap ingatanku, menagih janjiku untuk memerangi ketakutan itu, dan kini aku dalam diriku sendiri. Berperang dalam hati yang rapuh dan ingatan yang kabur.
Aku kembali berdiri, berlari dan kemudian ada yang menghentikanku..
Menghentikanku dari lariku. Membuatku menatapnya.

"Sudah tiba bagimu.." katanya, membuatku hilang kendali, membuatku memberontak, aku tak ingin menghadapi apapun yang menakutkan, biarkan aku pergi, biarkan aku sendiri..

"Jangan pernah lari lagi, hadapilah dunia ini dan lawanlah dirimu sendiri..."


Dan aku pun dilempar ke kehidupanku. Aku sedang berdiri di depan pintu rumahku membawa dua koper baju dan peralatanku, aku sedang apa? aku mau apa? tanyaku dalam hati. Tapi semua orang melepasku dengan muka yang gembira, membuatku tak mengerti harus bagaimana.
Aku berpelukan dengan kakakku dan ibuku, dengan tulus mereka berkata menantikan aku kembali kedalam rumah ini.
Aku pun pergi diantar oleh saudara-saudaraku, mereka bergembira dan bersorak atas pergiku, bagaikan sebuah anugrah. Rasanya aku memiliki sesuatu yang pantas dihargai, yang pantas dirayakan. Dan aku sendiri tidak mengetahui hal apa itu.

"Ibu selalu sayang padamu, kakakmu selalu menyayangimu. Kamilah yang kamu punya.." dan aku memeluk mereka semua. Dalam hatiku aku berjanji kepada mereka bahwa aku akan menjaga mereka, menjaga perasaan mereka tidak perduli bagaimana perasaanku sesungguhnya.

"Aku pergi dan pasti akan kembali.." ucapku penuh senyum lalu pergi.

Waktu yang terus berjalan dan aku terdiam, waktu berjalan dengan menghiraukanku. Aku seperti alat, menyelesaikan tanpa tau kenapa, melakukan tanpa tau apa. Aku terus mengikuti waktu hingga tibanya aku kembali pulang kerumah.

Yang kutemukan adalah sebuah kesedihan.

Ibu dan kakakku telah tiada, meninggal dalam satu kecelakaan, karena seseorang.
Aku terduduk.. ini membuat hatiku sakit.
Aku tidak mengerti dimana pikiranku.
Ini semua terasa nyata, hal yang menghantuiku setahun yang lalu datang lagi disini. Mimipi buruk yang berusaha kusingkirkan datang lagi disini. Sesak.. Bawa aku pergi dari sini.
Aku tidak kuat, memangnya aku harus kehilangan ibuku? memangnya aku harus kehilangan apa yang kusayang? aku tidak siap, aku tidak mampu.. Tuhan dimanakah engkau?

Kematian mereka tidak ada yang memberitahuku, membuatku semakin sakit. Ketika ku pulang aku hanya dapat menemui mereka terkubur tanpa aku yang menangisinya tanpa aku yang menyaksikannya. Ini kejam.
Kepalaku sakit, berputar kisah mereka.
Mereka sedang berjalan-jalan menggunakan sepeda motor tiba-tiba saja dari arah yang berlawanan truk besar menabrak mereka.
Ini membuat kepalaku sakit dan nyeri, aku pun berteriak kencang.

Tuhan ini tidak adil, Tuhan ini bukan mimpi yang kuinginkan. Tuhan mengapa kau berbuat seperti ini?
Tuhan apa maksudmu?
Aku terus bertanya kepada Tuhan namun dia tidak menjawabku, meski aku sadar sepenuhnya ini adalah mimpiku.
Kenapa harus orang terdekatku, kenapa harus keluargaku? kenapa sesuatu yang menjadi mimpi burukku setahun yang lalu.
Kurang berusahakah diriku untuk tahun-tahun kelamku?

-0-
Mimpi itu berakhir, gue pun terbangun...
Kejadian ini dimulai semenjak ayah gue meninggal, gue mendapatkan firasat bahwa ayah gue telah menemui ajalnya, dan kemudian semenjak itu gue diserang firasat buruk bahwa gue akan kehilangan ibu gue. Itu membuat gue frustrasi dan terus lari dari kenyataan. Itu membuat gue jatuh dalam kesendirian dan menekan semua dari segala sisi. Gue menekan diri untuk terus tertawa. Sampai pecah pengakuan gue dihari itu, dimana hari itu sama sekali bukan yang gue inginkan.
Sulit bagi gue untuk bangkit dan memerangi firasat itu sampai kemudian ketika gue lagi dikuburan ayah, gue menemuinya dalam sebuah doa yang gue daraskan, dia meminta untuk bersyukur atas apa yang gue terima. Setahun yang lalu gue jatuh dalam kegelapan yang melahap diri gue sendiri. Gue jatuh dan urung untuk bangkit kembali. Namun yaa.. pada akhirnya gue mencoba bangkit dan mengatakan sama diri sendiri bahwa itu hanya sebuah firasat, Tuhan akan memilih waktu yang tepat buat gue bila memang gue harus kehilangan.

Kita memang harus kehilangan dalam dunia ini kan? siap atau tidak siap Tuhan selalu tahu kapan dia harus mengambilnya.
Ketika gue terbangun pagi itu, kepala gue sakit, tubuh gue sakit dan suara itu mengatakan bahwa gue masih gagal. Masih akan ada mimpi mimpi yang lain yang harus gue selesaikan. Tapi sampai kapan?

Pada akhirnya gue yang menerima tantangan itu gue juga yang harus menyelesaikannya. Dan tantangan pertama dalam menaklukan diri sendiri telah gagal.

Tapi gue jadi teringat bahwa setahun yang lalu gue seperti terobsesi pada firasat gila itu dan terjatuh didalamnya, ini mengingatkan gue bahwa segalanya akan baik-baik saja. Tuhan emang gak pernah menjawab pertanyaan gue secara langsung, dia tidak pernah berkata-kata. Dia selalu melakukan, dia selalu bertindak. Bertindak karena gue adalah anaknya yang tidak perduli betapa jujurnya orang lain. Dia menyatakan diriNya dalam tindakan, baik dari orang terdekatku ataupun ketika dia membimbingku. Dan kini melalui mimpiku, dia menghadirkannya disaat gue membutuhkannya bukan menginginkannya.
 

Ini adalah lanjutan dari link ini Mimpi 1

4 comments:

  1. ini penulisan nya pake 'aku' apa 'gue' sih, kan pembacanya jadi binggung gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi.. udah saya batasin kakak :D biar pembaca yang gak baca mimpi 1 jadi gak bingung ^^

      Delete

  • Etika Profesi Akuntansi