Friday, September 26, 2014

Gadis Kecil dalam Kereta

Sore ini cukup terik, seperti hari pada bulan musim kemarau. Matahari rasanya semangat sekali memancarkan sinarnya diiringi dengan angin panas yang menerpa diri.
Tepat menunjukkan pukul 16.00 ketika aku akhirnya sampai di stasiun lenteng agung, saat ini aku tengah berada di kereta Bogor-Jakarta Kota, hendak turun di Manggarai dan sambung ke Bekasi.
Kereta ramai, oleh mahasiswa ataupun para pekerja kantoran entah mau pulang atau malah baru berangkat. Aku berdiri sembari menatap pemandangan diluar, melihat sekilas kemudian menghilang, melihat sekejap kemudian berganti. Kuperhatikan pemandangan yang memang biasa kulihat, mencari sesuatu yang barangkali terlewatkan, dari telingaku berdendang The Dandees sedang membacakan Darto Five diselingi lagu-lagu pilihan.

Awal aku tersenyum untuk si telinga, mendengar The Dandees menjadi hiburan tersendiri kala sore menyergap dan aku hanya sendiri, namun kemudian aku tersadar didepanku duduk seorang anak kecil, dia tidak manis, dia tidak cantik apalagi menggemaskan. Hanya seorang gadis kecil berpotongan rambut pendek dengan tubuhnya yang kurus dan mukanya yang sedikit jutek, namun ada sesuatu yang membuatku tertarik padanya.

Dia sangat perhatian...

Gadis kecil itu duduk disamping seorang ibu, aku tak mengerti siapakah ibu yang berada disampingnya. 
Ibunyakah?
Tantenyakah?
Neneknyakah?
Begitu banyak kondisi tidak pasti, tapi yang bisa kukatakan adalah bahwa aku menikmati pemandangan yang sedang kusaksikan. 

Gadis kecil itu begitu perhatian pada ibu yang berada disebelahnya, begitu hangat...
Gadis kecil itu begitu perhatian pada ibu yang berada disebelahnya, begitu melindungi...

Cukup lama aku memperhatikan gadis kecil itu, hingga akhirnya kulepaskan headsetku dan memberikan perhatian penuh terhadap gadis kecil itu.

Awalnya kulihat gadis kecil itu menatap gadis smp yang duduk tepat disampingnya, gadis smp itu tertidur dengan nyenyak hingga kakinya sudah tak ditegakkan lagi, jujur aku sendiri sempat menggerutu dan menggeser kakinya sedikit untuk memberikan ruang bagi diriku yang berdiri didepannya. Namun gadis kecil itu melihat dengan sangat jutek kepada gadis smp, memonyongkan bibirnya dan berbisik 'sempit' dan aku tak kuasa tersenyum. Bagaimana tidak tersenyum, ya gadis kecil itu kesempitan tapi gadis smp itu juga tertidur dengan pulasnya dan aku sempat menggerutu persis yang ditunjukkan gadis kecil itu. 
Lama dia menatap gadis smp yang masih tertidur dengan pulasnya, seakan tidak merasakan seribu pandangan menusuk dari si gadis kecil. Kemudian gadis kecil itu mengalihkan pandangannya ke ibu yang duduk disisi yang lain, mengusap-usap paha si ibu, lalu kemudian mengelap keringat yang menetes dari dahi turun ke pipi. Si ibu berjilbab, terlihat tua dan sedang tertidur. Beberapa kali gadis kecil itu menggoyangkan tangan didepan mata si ibu, seperti menyatakan apakah sudah tertidur atau belum, terkadang dia mengusap wajah si ibu dengan gerakkan dari atas ke bawah, seperti mengisyaratkan tidur saja. 
Aku lama memperhatikan sampai akhirnya tiba di pasar minggu baru dan gadis smp itu turun yang kemudian secara tidak sabar ibu-ibu yang berada disebelahku langsung menduduki bangku kosong yang tadinya tepat didepanku. Gadis kecil itu terlihat tidak suka, tak lama ketika ibu-ibu itu duduk dengan grasak grusuk si gadis kecil melihat kakinya dan kemudian menatap tajam kepada ibu-ibu itu, aku pun tersenyum kembali, ah kakinya terinjak, pasti sakit, karena ibu-ibu itu menggunakan pantofel. 
Namun kemudian gadis kecil itu mengalihkan pandangannya, kembali pada si ibu yang masih tertidur. Gadis kecil itu menyadari bahwa ada sinar mentari yang menyusup masuk dan mengenai si ibu, dia pun kemudian menarik tirai kereta bermaksud untuk menutupnya dengan sempurna, namun apa daya tangannya terlalu pendek untuk sampai, tirai yang tadinya terbuka setengah pun akhirnya malah terbuka seluruhnya. Sungguh malang, aku ingin membantu tapi malah ikutan kaget juga. hehe..

Gadis kecil itu sempat dilirik oleh si ibu dan gadis kecil itu hanya menunduk, niat baik yang disambut tak baik sedih memang. Ketika si ibu kembali tertidur, gadis kecil itu kembali pada rutinitasnya, mengusap-usap paha si ibu, mengelap peluh keringat dan memegang bibir si ibu yang luar biasa pucat dan pecah-pecah, hasil dari cuaca yang tidak sanggup ditahan. Begitu sayangnya si gadis kecil terhadap si ibu sampai membuatku berfikir pernahkah aku seperti ini pada ibuku? dikala aku ingin berbuat baik namun malah disalahkan, aku menunduk dan kemudian merawatnya kembali?

Gadis kecil itu memang luar biasa jutek, ketika dia sadar aku memperhatikannya dia menatapku dengan mata bulatnya lalu berbisik 'apa lo' dan kemudian dia meraih ujung sepatuku dengan ujung sepatunya, dia tidak menginjak kakiku tapi ingin berbagi debu yang dibawanya dan aku hanya tersenyum sambil memandangnya membuatnya tidak suka. Aku pun mengalihkan pemandanganku ke jendela kembali sesekali mencuri pandang ke gadis kecil yang ingin sekali kuusap kepalanya. Dia memeluk si ibu, sesekali menutup wajah si ibu agar tidak terkena sinar. Ingin rasanya kuturunkan tirai itu untuknya, tapi aku ingin melihat reaksinya, melihatnya mengatasi niat perbuatan baiknya yang ternyata malah membuat tirai jendela terbuka semakin lebar. 
Ya, gadis kecil itu berusaha menutupi sinar matahari agar tidak mengenai si ibu, dan dia juga mengusap-usap sambil sesekali mencium si ibu. Si ibu yang terbangun hanya menatapnya, menurutku tatapannya tidak suka, membuat si gadis kecil hanya menunduk, ketika dia lihat si ibu tertidur kembali gadis kecil itu kembali menggoyangkan tangannya didepan wajah si ibu memastikan si ibu tertidur atau belum. 

Sampai akhirnya aku harus turun di manggarai, meninggalkan gadis kecil itu dan si ibu. Sebelum aku turun, aku menyempatkan diri melihatnya dan memang benar dia mengikuti arahku pergi. Aku mengangguk dan tersenyum padanya dan kulihat dia hanya memandangku. 

Langit semakin cerah ya saudara, seperti ketika kita menemukan kehidupan lain. Seperti kita menemukan sebuah kisah dalam perjalanan. Pada akhirnya sebelum aku menutup malam ini aku sempatkan untuk menulis dan bercerita tentang si gadis kecil dan si ibu. 

Jumat, 260914

4 comments:

  1. klo gw sih spatu gw di injek bakal gw injek balik :D
    ini masih ada lanjutannyakan? penasaran klanjutan kisa anak kecilnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. yakali, gue injek balik kaki tuh anak kecil XD yang ada gue dimaki2 kali, haha..
      gk ada nih, gue juga penasaran kelak jadi apa dia jutek bener :v

      Delete
  2. yahhh gantung. gua penasaran alasan si gadis melakukan hal seperti itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyak hal yang menjadi alasan, yang gue pikirkan adalah protektif dia pada lingkungannya untuk melindungi ibu yang berada disebelahnya

      Delete

  • Etika Profesi Akuntansi