Friday, August 29, 2014

Pinjamkanlah bahumu..

Sesal tiada berarti, kesal tiada berujung..
ketika semua ditumpuk menjadi daya yang tak berguna..
hanya lemah dan lemas yang terasa..
ketika semua menghilang dan menjadi abu hanya diam yang tertinggal
aku sudah tak mengerti kenapa
tertawa tapi hampa
tersenyum tetapi kosong
aku merasa tiada arti
tak menjejak pada tanah
membuat diam dan kosong

semua yang terharapkan hanya menjadi angan
terbayang dalam kepala mungil yang tak sanggup menahan
luapan emosi pun bercampur bersama lumpur penghisap
ingin berteriak tapi hati risau
ingin berkata ini semua salah tapi inilah hidup
ingin berkata bahwa aku baik baik saja tapi tidak begitu
berharap angin kan mengelus diri ini
membawa pergi semua amarah yang tertahan
membawa pergi semua kesal tiada arti
hanya ingin membawa kenangan indah bersama
menutup telinga menutup mata menutup mulut
menutup hidung hingga nafas hilang tak berbekas
rasa ini membuatku muak hingga ku habiskan dengan memandang tembok dingin
memukulnya bagai ia yang bersalah
membuat waktu dengan menyalahkan
membuat waktu dengan kesedihan
dan yang aku dapatkan hanya debu dalam tiap tindakanku..
kutumpahkan semua dalam tulisan
dalam tulisan yang bisu
membuatku merintikkan air mata dan berkata untuk mengulang waktu
aku ingin waktuku
aku ingin waktuku yang terdahulu
aku ingin kesadaranku
bahwa waktu yang berlalu tak boleh kutuntut untuk kembali
jadi tamparlah aku.. sadarkan aku..
katakan bahwa ini semua adalah yang semestinya
dan sebagai gantinya pinjamkanlah bahumu untuk tiap detik tangisku...

4 comments:

  1. sugoiii :) gue tebak yaaa/ puisi ini pasti dari pengalaman pribadi :)

    ReplyDelete
  2. Ini kak mau pinjem bahu ku ga ? 3000 sejam ya

    ReplyDelete

  • Etika Profesi Akuntansi