Thursday, July 17, 2014

Tolong Maafkan Aku

Sebetulnya hati ini sudah lelah, jiwa ini sudah tak mampu lagi menahan segalanya, mata ini sudah tak kuasa membendung setiap tetes air mata yang dikeluarkan hanya karenamu.
Karena hati ini, karena sayang ini aku kembali lagi padamu, aku mempertahankanmu, aku mencoba untuk menata hati untuk melanjutkan hubungan ini.

Betapa perihnya aku ketika hubungan kita selalu diselingi kata putus atau istirahat. Kau biarkan aku dalam kegundahan luar biasa, kau melukai hati ini.
Betapa sedihnya aku ketika memutuskan berpisah hanya karena adanya orang lain atau mantan-mantanmu yang memanggilmu.
Betapa terlukanya hati ini manakala malam-malam yang kulalui bersamamu harus benar terpisah, padahal kita tak terpisah jarak tak juga sulit untuk berkomunikasi. Kita selalu menjaga agar satu sama lain saling tahu kegiatan yang tengah dilakukan, tapi ketika kita sedang putus, ketika kita memutuskan untuk berpisah karena hal yang sepele, kau biarkan hati ini sendiri dimalam yang dingin.

Ketika akhirnya setelah kita menjalani sendiri kau datang kembali dengan kata-kata sedihmu dan menyatakan betapa perih hidupmu tanpaku, hatiku pun luluh, hatiku pun tak kuasa menahan dirimu masuk dalam hatiku kembali, aku pun mempersilahkanmu masuk kembali ke dalam hati yang perih ini.

Sekali kita bertengkar dan akhirnya kita dipersatukan kembali, aku berfikir bahwa kamu adalah jodohku, kamu adalah bagian dari hidupku, hatiku dan keseharianku. Kamu adalah belahan jiwaku sesungguhnya. Namun kejadian itu berulang kembali, kita kembali putus dan hati ini kembali kepada kekelaman.

Aku pun mulai bersiap menata hatiku kembali, tapi kamu datang dan memohon untuk kembali. Memohon dengan hatimu yang sama terlukanya denganku. Aku pun kembali luluh.

Sayang, aku luluh bukan hanya karena dirimu, bukan hanya karena tawa candamu, bukan hanya bagaimana kita berbicara, bukan hanya bagaimana kita berangan-angan menata masa depan.
Sayang, aku luluh bukan hanya kata-kata manismu, kata-kata yang sering kau janjikan bahwa kita tidak akan lagi berpisah dan kita akan menjalin kehidupan selanjutnya dengan baik, saling menjaga dan introspeksi diri.
Sayang, aku luluh juga karena hatimu untukku dan hatiku untukmu. Kuhormati rasa yang tertanam dalam hatiku, kuhormati bagaimana hatiku memutuskan untuk terus menerimamu dan melanjutkan hubungan ini. Kuhormati bagaimana hati ini dengan ikhlas menerimamu, meski air mata ini sudah cukup banyak tumpah untukmu.

Kita tak berpisah dan kembali satu atau dua kali.. kita berpisah cukup sering,
3 bulan kita menjalin kebahagiaan lalu kau campakkan kembali,
3 bulan kita menjalin kesenangan lalu kau campakkan kembali,
3 bulan kita menjalin kegembiraan lalu kau campakkan kembali,
3 bulan kita menjalin suka duka lalu kau campakkan kembali,
3 bulan kita menjalin rasa sayang lalu kau campakkan kembali,
3 bulan kita menjalin kepercayaan lalu kau campakkan kembali.
3 bulan kita menjalin manisnya hubungan kita lalu kau campakkan kembali.
9 kali kita putus dan 10 kali aku menerimamu.
Lalu aku harus bagaimana?
Lalu aku harus apa?

Hubungan ini kurasa sudah tak wajar, hatiku selalu memaafkanmu, hatiku selalu mengikhlaskanmu kembali kepelukanku, kembali pada hatiku yang sudah semakin hampa.
Sayang,
ingatkah kamu pada masa-masa bahagia kita?
ingatkah kamu bagaimana kita berkencan?
ingatkah kamu bagaimana ketika aku ngambek dan kamu dengan kepayahan menghibur aku?
ingatkah ketika aku sakit dan kamu berada disampingku menjagaku?
ingatkah ketika kamu sedang berduka dan aku menghiburmu?
ingatkah betapa banyak kenangan yang telah kita buat?
dan mengapa kita harus kembali lagi pada titik nol?
aku tak mengerti, aku lelah.

Aku lelah, ragaku sudah muak, jiwaku sudah remuk redam. Sudah begitu banyak air mata mengalir hanya karena pertengkaran kecil, hanya karena ucapan putus yang aku sudah bosan mendengarnya. Sungguh ragaku telah muak dan lelah, hatiku yang tak pernah lelah menerimamu kembali, dalam keadaan sebersalah apapun.
Hingga cobaan ini datang padaku, datangnya seseorang yang memberiku harapan. Dia membawakan kedamaian lebih bagiku meski tidak memberikan kepastian sepenuhnya.
Kepastian apa yang memangnya kuharapkan?
Raga yang lelah ini, jiwa yang sudah lemah ini. Mengharapkan seseorang datang dan menjemputku, menyelamatkanku dari kekelaman yang tak berujung.

Aku sadar bahwa aku masih memiliki kamu, bahwa hatiku masih dengan sigap menerimamu kembali. Tapi aku sadar kini aku sudah terlalu lelah, aku menginginkan seseorang yang lebih berkomitmen menjalani kehidupan ini bersamaku, menjalani segala aral rintangan bersama-sama. Bukan karena sebuah perkara lalu hati hilang ditelan kegelapan tetapi sebuah penyejuk kalbu hingga membuat jiwaku tenang dan damai.

Sayang, kini aku masih berdiri dihadapanmu, hatiku masih berdiam dalam hatimu, dan hatimu masih melekat dihatiku. Tapi aku tak tahu itu sampai kapan, ketika akhirnya kita berpisah kembali dan kamu datang lagi membujukku untuk membuka kembali hati ini. Luka lama pun tak kukenal dan luka baru selalu menjadi sahabatku.
Aku mengingatnya sayang, ketika perih melanda, ketika kenangan mengapa kita bisa berpisah, aku menyimpannya erat dalam sisi hati yang sama sekali tidak mau tau bagaimana kamu adanya.
Tapi aku tidak tahu, aku tidak bisa menjamin bahwa hati yang begitu kuat padamu akan bisa terpatahkan.
Sungguh aku tak tahu sayang.
Jadi tolonglah aku dengan memaafkanku bila ini semua harus berakhir pada titik ini. Berakhir pada sebuah keputusan yang akan membuat kita berkaca, bahwa tidak ada yang lebih baik dari diri kita masing-masing, bahwa tidak ada yang salah dari diri kita masing-masing. Bahwa kita butuh komitmen, kepercayaan dan saling membutuhkan yang kuat. Bahwa kita harus saling melengkapi untuk hati yang tidak pernah sempurna mencintai.

4 comments:

  1. :) yang sudah jadikan pelajaran untuk pecutan ke arah yang lebih baik ka :) mampir juga yah ka http://www.sicodet.com/ makasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. pastinya ^^
      kehidupan yang menjadi pelajaran, dan pelajaran yang mendidik untuk kehidupan

      Delete

  • Etika Profesi Akuntansi