Saturday, July 19, 2014

Penantian Manis

Penantian telah terbayar lunas, hati yang sepi telah lenyap. Terganti dengan alunan melodi yang indah, terganti dengan rindu yang menyelinap. Membuatku tersenyum, membuatku bahagia.
Dia telah hadir dalam mimpiku, telah hadir dalam hidupku, dalam setiap jengkal fikiranku.
Cinta adalah sesuatu yang manis, seperti gula dalam kehidupan, akan hambar tanpanya, akan menyedihkan tanpanya. Kini aku pun telah memiliki cinta itu, yang tanpa kusadari telah mengakar dalam hatiku dan kini terus tumbuh seiring kami menjalaninya.

Kadang aku berfikir bahwa setelah segalanya terjadi, ketika mereka para lelaki membuatku terjerumus dalam harapan palsu, aku bisa untuk sendiri, aku bisa untuk tidak memikirkan yang lain selain diriku. Aku kuat dan aku akan mengurus diriku sendiri tanpa memikirkan yang lain, tanpa harus takut untuk ditinggalkan, tanpa harus takut untuk kembali menata hati usai dihancurkan sekejap.
Indahnya cinta tentunya tak membuatku skeptis, lukanya pun tak membuatku trauma. Aku hanya butuh waktu sendiri, aku hanya butuh menumbuhkan rasa percayaku bahwa diluar sana ada jodohku, yang siap menerimaku apa adanya, yang siap menerimaku karena beginilah aku.
"Janganlah berubah demi cinta, berubahlah karena cinta membuatmu mau berubah".
3 tahun lamanya dia telah menungguku, telah lama menantikan bagaimana rasa hati ini sesungguhnya, dan aku hanya bisa tersenyum menyatakan bahwa aku bukanlah untukmu, bahwa belum ada rasaku untukmu. Kamu tak mundur dan kamu tak memaksakan kehendakmu, kamu masih setia berdiri disana menanti perubahan hatiku. Kamu menungguku untuk menyerahkan hatiku untukmu.

Sempat kuberpaling pada seseorang yang dulu hadir dihatiku dan kamu pun juga begitu, mengira bahwa kamu dapat menata hatimu dengan penantian yang masih belum jelas. Tapi aku dan kamu sama-sama tau rasa tidak mungkin bisa dipaksakan, hati yang telah bersikeras tidak mudah untuk diluluhkan. Hatimu masih kokoh untuk menantiku, hatimu masih menyimpan harapan besar padaku, dan sekali lagi yang bisa kukatakan adalah masih belum ada rasa dariku untukmu. Kamu pun kembali berdiri disudut yang bisa kulihat, yang bisa dengan mudahnya kugapai, yang bisa dengan mudahnya kuhubungi. Kamu menunggu hatiku untuk berubah.

Melihatmu menanti harapan kosong aku hanya bisa tersenyum miris, aku hanya bisa berkata bahwa hatiku ini masih belum milikmu, masih belum memikirkanmu. Meski dulu sempat terbersit bahwa aku menyukaimu tapi kuyakin itu palsu, itu adalah rasa sepi yang kurasakan cukup lama dan bukan benar untukmu.

Kamu masih tetap menantiku, tersenyum padaku dan kita pun semakin menjalin kedekatan dengan intens, membuatku akhirnya sadar bahwa kamu telah masuk dalam hatiku, tanpa kusadari, tanpa permisi dan kamu telah berdiri dengan kuatnya dalam hatiku. Membuatku bingung harus bagaimana, membuatku bingung harus melakukan apa.

Lalu datang kabar itu ketika sahabatku mengatakan padaku bahwa hatimu kini miliknya, aku sedih, aku bingung, aku gamang. Dia tau aku menyukaimu dan mengapa kini dia merebut hatimu dariku? Kurasakan sakitnya hati ini, kurasakan bahwa rasa ini begitu kuat mencabikku, membuatku terlempar dari gemerlapnya dunia. Yang bisa kulakukan hanya menangis dan berdoa bahwa ini semua tidak pernah terjadi. Bahwa gadis yang tidak peka ini tidak harus kehilangan seseorang yang ternyata dicintainya. Bahwa gadis yang tidak tau diri ini memohon bahwa semua itu bohong dan lelaki itu hanya untuk diri ini, untukku seorang, bukan untuk yang lain. Aku menangis sejadinya, kesal sebisanya dan menyesal sepenuhnya.
 "Cinta tak pernah datang terlambat, keyakinan pada hatilah yang membuatnya terhambat untuk diketahui"
 Aku meratapinya lama, menangisinya sebisaku, bahwa aku terlalu lamban untuk menyadari rasa yang telah bersatu dalam nadiku, untuk menyadari rasa yang telah hadir dalam ruang hatiku yang telah kosong, untuk menyadari bahwa jiwa yang kering ini telah disemai olehnya, oleh hatinya, oleh dirinya yang begitu lama telah menantiku. 
Aku pun hanya bisa menatap kaca, menatap diriku sendiri, menatap bahwa air mata yang tumpah ini sudah tak berguna lagi, tapi aku bisa apa? kuucapkan selamatkah? pada sahabatku dan juga orang yang pernah menyukaiku? itu lebih menyayat hatiku, itu membuat luka hatiku semakin dalam.

"Meski aku pernah mencoba berpaling darimu, tapi sampai saat ini hanya kamu yang ada dihatiku, hanya kamu yang ada di fikiran ini, hanya kamu dan kamu. Semuanya bisa mengatakan apapun, semuanya bisa mengatakan bahwa hatiku bukan lagi milikmu, tapi ingat ini. Aku yang pernah mencoba berpaling darimu adalah sia-sia. Tolong percayai aku, yakini hati ini. Dengarkan kata hatimu dan tataplah mataku. Bahwa aku hanya milikmu dan bila Tuhan mengijinkan kamu menjadi milikku".
Dia menegaskan semuanya padaku, ketika aku menghindarinya dan akhirnya menanyakan hubungannya dengan sahabatku.Aku hanya menangis mengetahui bahwa sahabatku telah berbohong, bahwa dia membohongiku untuk membantuku menyadari rasa ini, menyadari bagaimana rasaku yang sesungguhnya pada dia. 
Meski sakit yang kurasakan tapi terima kasih sahabat. Berkatmu aku tau rasa ini, berkatmu aku menyadari bahwa ini bukan hanya sekedar rasa, bahwa dia lelaki yang menungguku selama 3 tahun demi rasa yang tidak pasti, tidak pernah menyerah untuk mendapatkanku dan inilah akhirnya, akhir dari penantiannya, akhir dari pencarianku. Aku bersamanya, aku miliknya, aku menyayanginya dan aku siap untuk mendampinginya. 
 "Perjuangkanlah Cinta yang pantas diperjuangkan dan janganlah memperjuangkan Cinta yang tak pantas diperjuangkan".

   

2 comments:

  1. Duh yang ini:

    "janganlah memperjuangkan Cinta yang tak pantas diperjuangkan"

    jleb juga ya :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. se-"jleb" susah payah memperjuangkan cinta yang ternyata tak pantas untuk diperjuangkan

      Delete

  • Etika Profesi Akuntansi